Jakarta, Redaktif.id – Kementerian Agama (Kemenag) berkolaborasi dengan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah dan Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH) dalam program Pembinaan dan Penugasan 1.000 Dai ke Daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) serta wilayah perbatasan. Mereka akan bertugas selama Ramadan 1447 H.

Pelepasan dai berlangsung di Aula Gedung Dakwah DPP Hidayatullah, Cipinang, Jakarta Timur, Senin (16/2/2026). Giat ini merupakan bagian dari upaya penguatan dakwah dan pelayanan keagamaan di wilayah dengan keterbatasan akses pendidikan serta pembinaan umat.

Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama, Muchlis M. Hanafi, menegaskan bahwa wilayah 3T dan perbatasan bukanlah wilayah pinggiran, melainkan beranda depan bangsa. Kawasan ini memerlukan perhatian serius dalam penguatan kehidupan beragama dan ketahanan sosial.

“Dakwah di wilayah 3T bukan sekadar menyampaikan ceramah, tetapi membangun harapan, memperkuat karakter, serta menghadirkan Islam yang menenangkan dan memberdayakan,” ujarnya.

Program ini diharapkan melahirkan dai yang tidak hanya kompeten secara keilmuan, tetapi juga tangguh secara mental dan sosial. Para dai akan berperan sebagai pembimbing umat, penggerak literasi Al-Qur’an, serta penguat nilai kebangsaan dan moderasi beragama di tengah masyarakat.

Kementerian Agama menyambut baik kolaborasi ini sebagai bentuk sinergi strategis antara pemerintah dan organisasi masyarakat dalam membangun ekosistem dakwah yang inklusif dan berkelanjutan.

“Negara tidak bisa bekerja sendiri. Penguatan kehidupan keagamaan memerlukan kerja kolektif. Kolaborasi ini menjadi contoh konkret bagaimana pemerintah dan ormas berjalan bersama melayani umat,” tambahnya.

Selain pembinaan dan tausiyah, kegiatan ini juga diisi dengan testimoni dai dari wilayah pelosok serta prosesi pelepasan 1.000 dai yang akan bertugas di berbagai daerah 3T dan perbatasan selama bulan suci Ramadan.

Penguatan Program Secara Nasional

Secara nasional, Program Dai 3T dan wilayah perbatasan tahun ini diikuti 2.199 pendakwah yang akan ditugaskan di 32 provinsi di seluruh Indonesia. Jumlah tersebut meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya yang berjumlah 1.000 dai. Peningkatan ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam memperluas jangkauan layanan keagamaan hingga ke wilayah terluar dan tertinggal.

Selain Hidayatullah, program ini juga melibatkan sejumlah ormas dan lembaga Islam, antara lain Dewan Dakwah Islam Indonesia, Pondok Pesantren Al-Mubarok Wonosobo, As’adiyah Sengkang Wajo, serta mitra lainnya. Dukungan BAZNAS dan berbagai LAZ turut memperkuat ekosistem dakwah nasional yang kolaboratif dan berkelanjutan.

Para dai yang ditugaskan tidak hanya menjalankan dakwah konvensional, tetapi juga melakukan pembinaan umat secara komprehensif. Mereka diharapkan menjadi agen transformasi sosial sekaligus agen dakwah lingkungan dan pelestarian alam berbasis nilai-nilai ekoteologi Islam.

Ruang lingkup tugas para dai meliputi: bimbingan ibadah Ramadan dan Idulfitri, penguatan moderasi beragama dan nilai kebangsaan, pendidikan keislaman berbasis masyarakat, bimbingan baca tulis Al-Qur’an, pendampingan sosial-keagamaan, serta penguatan ukhuwah dan harmoni sosial.

“Melalui pendekatan ini, dakwah tidak berhenti pada ceramah, tetapi hadir sebagai pembinaan berkelanjutan yang menyentuh dimensi spiritual, sosial, kebangsaan, dan lingkungan secara terpadu,” tandas Muchlis M Hanafi.

Melalui portal ini, Anda dapat memperoleh informasi terkini mengenai, regulasi, pendidikan keagamaan, agenda nasional, publikasi digital, serta berita Kemenag dari pusat dan daerah. (*)

Sumber : Kemenag RI

Tags:nasional