TANJUNG SELOR – Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Utara mencatat kinerja ekspor daerah masih tertekan sepanjang 2025. Nilai ekspor asli Kalimantan Utara (Kaltara) pada Januari–Oktober 2025 mencapai US$1.152,89 juta, turun 12,92 persen dibanding periode yang sama 2024 yang sebesar US$1.323,99 juta.

Kepala BPS Kaltara, Mas’ud Rifai mengatakan penurunan tersebut terutama dipicu melemahnya ekspor komoditas tambang. “Penurunan nilai ekspor hasil tambang turun 26,99 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024,” ujarnya, merujuk pada data yang dihimpun BPS dari kantor Bea dan Cukai.

Menurut BPS, tekanan pada ekspor tambang dipengaruhi faktor eksternal, terutama melemahnya permintaan di negara tujuan utama seperti Tiongkok dan India. Selain itu, tren harga batu bara yang fluktuatif turut menambah tekanan. BPS juga mencatat berdasarkan rujukan data pasar (Trading Economics), harga batu bara secara tahunan masih lebih rendah, meski secara bulanan mulai menunjukkan kenaikan.

Dari sisi komoditas, BPS mencatat empat kelompok barang yang menjadi andalan ekspor Kaltara saat ini, yakni bahan bakar mineral/batu bara, pulp/bubur kertas, tembakau/rokok, dan ikan serta crustasea seperti kepiting dan udang. Adapun negara tujuan utama ekspor Kaltara antara lain Tiongkok, Filipina, Jepang, India, dan Malaysia.

Tekanan ekspor tambang ikut terlihat pada kinerja ekonomi daerah. BPS menilai pelemahan paling nyata terjadi karena struktur PDRB Kaltara masih bertumpu pada pertambangan. Sektor ini menyumbang 27,20 persen terhadap PDRB Kaltara, sementara pertumbuhan kumulatifnya hingga triwulan III 2025 terkontraksi -1,12 persen.

Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Borneo Tarakan (UBT), Nur Utomo menilai di daerah berbasis komoditas, guncangan ekspor biasanya paling cepat merambat ke sisi fiskal. “Pelemahan ekspor cenderung berdampak paling awal pada penerimaan daerah, lalu merambat ke tenaga kerja, dan berikutnya ke UMKM,” katanya saat dikonfirmasi redaktif.id pada Rabu, 24 Desember 2025.

Ia menjelaskan penurunan aktivitas produksi dan pengetatan biaya di sektor komoditas berpotensi menekan pendapatan pekerja, mengurangi daya beli, hingga menurunkan omzet usaha-usaha yang bergantung pada belanja rumah tangga pekerja.

Untuk meredam ketergantungan pada komoditas primer, Nur Utomo menyarankan diversifikasi yang realistis dalam horizon 1–3 tahun adalah memperkuat agro-perikanan serta jasa/logistik, sementara hilirisasi industri lebih cocok menjadi agenda menengah–panjang.

Ia mencontohkan, sektor perikanan dinilai relatif siap karena basis produksi sudah ada dan melibatkan banyak pelaku usaha. Data Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Kaltara mencatat sepanjang Januari–Agustus 2025, ekspor perikanan meliputi 27,7 juta kg udang windu, 7,4 juta kg kepiting bakau, 1,8 juta kg ikan bandeng, serta 257 ribu kg kerang darah, dengan Malaysia sebagai tujuan utama (tercatat 1.880 pengiriman), disusul Singapura, Jepang, Thailand, Taiwan, dan Amerika Serikat.

Di saat yang sama, sektor jasa dan logistik dinilai memiliki peluang karena posisi Kaltara berada di jalur strategis ALKI II dan dekat dengan kawasan pengembangan IKN. Penguatan konektivitas, pelabuhan, dan kawasan logistik—termasuk di sekitar KIPI—dinilai dapat memperluas peran Kaltara sebagai simpul distribusi regional.

Sementara itu, proyek hilirisasi melalui KIPI Tanah Kuning–Mangkupadi dipandang berpotensi besar, namun dalam jangka pendek dampaknya masih terbatas karena berada pada fase konstruksi dan persiapan infrastruktur.

“Karena itu, prioritas jangka pendek sebaiknya mengarah pada agro-perikanan bernilai tambah serta jasa/logistik, sambil membangun fondasi hilirisasi sebagai sumber pertumbuhan jangka panjang,” kata Nur Utomo. (*)

Editor : Nicky Saputra

Tags:BPS Kaltaraekonomiekspor KaltarakaltaraTanjung Selortarakan