Dalam khazanah Islam, banyak kisah yang mengajarkan bahwa rahmat Allah jauh melampaui batas penilaian manusia. Salah satunya adalah cerita tentang seorang perempuan pendosa yang diampuni dosanya hanya karena menolong seekor anjing yang kehausan. Kisah ini bukan dongeng, melainkan disampaikan langsung oleh Rasulullah SAW dan diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
Dikisahkan, pada suatu siang yang terik di sebuah wilayah gurun, seorang perempuan berjalan sendirian. Ia dikenal sebagai pezina—sebuah profesi yang pada masa itu dipandang sangat hina dan kerap menjadi sasaran cemoohan masyarakat. Dalam terminologi Arab, perbuatan tersebut disebut fāḥisyah, yakni perbuatan keji dan tercela, sebagaimana larangan mendekatinya ditegaskan dalam Al-Qur’an: “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk” (QS. Al-Isra’: 32).
Namun, di tengah perjalanan, perempuan itu mendapati pemandangan yang mengusik nuraninya. Seekor anjing tampak terengah-engah di sekitar sebuah sumur. Lidahnya terjulur, matanya sayu, dan tubuhnya nyaris tak bertenaga. Rasa haus yang amat sangat membuat hewan itu berputar-putar, namun tak mampu menjangkau air di dasar sumur. Ia berada di ambang kematian.
Melihat kondisi tersebut, hati perempuan itu tergerak. Ia melepaskan sepatunya, lalu turun ke sumur dan menimba air dengan alas kaki itu. Air tersebut kemudian ia berikan kepada anjing yang kehausan. Perlahan, hewan itu kembali bertenaga, bangkit, dan berjalan menjauh dalam keadaan hidup.
Rasulullah SAW kemudian menyampaikan bahwa perbuatan sederhana itu menjadi sebab ampunan Allah. Dalam riwayat sahih disebutkan:
“Seorang perempuan pezina diampuni dosanya karena memberi minum seekor anjing yang hampir mati kehausan. Ia melewati seekor anjing yang menjulurkan lidahnya di dekat sumur. Perempuan itu berkata, ‘Anjing ini hampir mati kehausan sebagaimana aku dulu kehausan.’ Lalu ia menimba air dengan sepatunya dan memberinya minum. Maka Allah mengampuni dosanya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW menegaskan bahwa setiap kebaikan yang dilakukan kepada makhluk hidup bernilai pahala. “Pada setiap makhluk bernyawa terdapat pahala,” sabda Nabi (HR. Bukhari).
Kisah ini menjadi pengingat bahwa ukuran kemuliaan di sisi Allah bukan semata-mata masa lalu seseorang, melainkan ketulusan hati dan amal kebaikan yang dilakukan. Seteguk air yang diberikan dengan penuh empati, bahkan kepada seekor hewan, mampu menjadi sebab turunnya rahmat dan ampunan Ilahi.
Di tengah kehidupan yang sering kali sibuk menilai dan menghakimi, cerita ini mengajarkan bahwa kebaikan sekecil apa pun—jika dilakukan dengan ikhlas—dapat membuka pintu surga. Sebuah pelajaran bahwa rahmat Allah selalu lebih luas dari dosa-dosa manusia. Wallāhu a‘lam bish-shawāb. (*)
Editor : Nicky Saputra
Sumber : Islami.co


ilustrasi 


