Redaktif.id, Tarakan – Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB) Tarakan menyimpan sejarah penting upaya pelestarian lingkungan di Kalimantan Utara, sekaligus menjadi simbol komitmen menjaga ekosistem pesisir dan satwa endemik. Mari menengok kondisi KKMB Tarakan dari halaman depan di Jalan Gajah Mada, Tarakan Barat, Kota Tarakan.

KKMB Tarakan mulai dikembangkan pada awal tahun 2000-an sebagai kawasan konservasi mangrove sekaligus habitat alami bekantan (Nasalis larvatus), primata khas Kalimantan yang dilindungi. Berada di pusat Kota Tarakan, kawasan ini dirancang sebagai ruang edukasi, konservasi, dan wisata alam yang mudah diakses masyarakat.

Dengan luas sekitar 22 hektare, KKMB pernah menjadi kebanggaan daerah. Jalur titian kayu, menara pandang, serta fasilitas pendukung lainnya dibangun untuk menunjang kegiatan penelitian, pendidikan lingkungan, hingga wisata berbasis konservasi. Keberadaan bekantan yang hidup bebas di kawasan ini menjadikan KKMB sebagai salah satu kawasan konservasi mangrove dan bekantan terbesar di Kalimantan Utara.

Namun, seiring waktu, denyut kawasan ini kian meredup. Dari tampak depan, jejak kejayaan KKMB kini hanya tersisa dalam ingatan. Pagar yang rusak, fasilitas yang lapuk, serta area masuk yang kurang terawat memberi kesan kawasan ini dibiarkan berjalan tanpa arah.

Melalui rangkaian foto dari tampak depan, Redaktif mencoba merekam potret terkini KKMB Tarakan—sebuah kawasan konservasi yang pernah menjadi etalase pelestarian lingkungan, kini berdiri dalam sunyi, menunggu perhatian dan kepedulian kembali. Berikut foto – foto kondisi KKMB Tarakan yang kurang perawatan dari tampak depan :

Semak Belukar 

KKMB TARAKAN 2026
Semak belukar tumbuh liar menutup salah satu bangunan di kawasan Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB) Tarakan. Kondisi ini mencerminkan minimnya perawatan terhadap fasilitas yang dahulu difungsikan sebagai penunjang kegiatan konservasi dan edukasi lingkungan.

 

Kusam dan Lapuk

JADWAL KKMB TARAKAN
Papan informasi bertuliskan “Wisata KKMB Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan” tampak kusam dan lapuk. Tulisan jam operasional yang masih terpampang kontras dengan kondisi fisik kawasan yang terlihat tak lagi terkelola optimal.

 

Sorot Aktivitas

Mangrove Tarakan kini 2026
Gerbang masuk KKMB Tarakan terlihat terbuka tanpa pengawasan. Jalur titian kayu di dalam kawasan masih berdiri, namun sebagian area tampak kurang tertata, menunjukkan berkurangnya aktivitas pengelolaan dan pengunjung.

 

Terotoar Rusak

Terotoar depan mangrove rusak
Akses trotoar di depan kawasan KKMB Tarakan mengalami kerusakan dan ambles. Kondisi ini menyulitkan pejalan kaki dan mencerminkan kurangnya perhatian terhadap infrastruktur pendukung kawasan konservasi di pusat kota.

 

Ikon Kebanggaan

Bekantan Tarakan Kini
Tampak depan gerbang utama KKMB Tarakan dengan ornamen patung bekantan yang menjadi ikon kawasan. Meski masih berdiri kokoh, area sekitar gerbang terlihat sepi dan sebagian dimanfaatkan sebagai tempat parkir kendaraan.

 

Halaman Depan KKMB Tarakan

Ikon Bekantan Tarakan
Aktivitas lalu lintas di depan KKMB Tarakan terus berjalan seperti biasa. Di balik hiruk-pikuk jalan raya, kawasan konservasi mangrove dan bekantan terbesar di Kalimantan Utara ini justru terlihat sunyi dan terabaikan.

 

Sampah yang Berserakan 

Sampah di KKMB
Bukan hanya terbengkalai, sejumlah sampah juga terpantau berserakan di dalam KKMB. Mulai dari sampah yang dibawa air pasang laut hingga sampah yang sengaja dibuang masyarakat.

 

Rumah bagi Bekantan

Gambar patung di dinding pintu masuk KKMB Tarakan tampak mulai rusak, serta patung ini menandakan bahwa masih ada puluhan ekor bekatan yang masih setiap tinggal di dalamnya.

 

Pagar yang Rusak

Pagar – pagar di sepanjang KKMB rusak dan sudah tak ada pembatas pagar besinya lagi. Temboknya pun tampak berlumut dan keropos.
Tags:kaltaraKKMB TARAKANmangrovetarakan