Pernahkah Anda merasa risih ketika mendengar anak-anak remaja bahkan orang dewasa menggunakan kata-kata kasar saat sedang bersantai di kafe atau di ruang publik lainnya?

Obrolan yang seharusnya ringan kerap diselingi umpatan. Tawa lepas bercampur bahasa yang dulu dianggap tabu. Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya gaya bicara. Namun bagi lingkungan sekitar—terutama anak-anak—kondisi ini menyisakan persoalan yang jauh lebih serius.

Fenomena bahasa kasar yang kian sering terdengar di ruang publik, menurut Psikolog Anak, Fanny E. Sumajouw hal itu merupakan cerminan perubahan besar dalam peradaban manusia, terutama pascapandemi.

“Pandemi membuat semua usia, dari anak sampai lansia, hidup sangat bergantung pada gadget. Selama dua sampai tiga tahun, manusia hanya berkutat pada benda mati yang akhirnya membentuk bonding yang sangat kuat,” ujar perempuan yang akrab disapa Bunda Fanny pada redaktif.id pada Selasa 13, Januari 2026.

Ketergantungan tersebut, lanjutnya, tidak hanya berdampak pada psikologi perkembangan, tetapi juga memengaruhi aspek kognitif, perilaku, serta sosial-emosional. Ruang berekspresi yang terkungkung, ditambah ketidaksiapan mental menghadapi krisis panjang, memicu pergeseran nilai dan kebiasaan.

“Habits yang dulunya baik bergeser. Terjadi degradasi moral karena manusia tidak siap secara mental menerima kondisi pandemi yang mengungkung,” jelasnya.

Dalam konteks ini, bahasa kasar menjadi salah satu bentuk ekspresi yang dinormalisasi. Tanpa disadari, kekerasan verbal berkembang menjadi kebiasaan, lalu dianggap wajar karena tidak ada larangan sosial yang tegas.

Pengaruh Lingkungan dan Dunia Digital

Bunda Fanny menegaskan, lingkungan pergaulan dan dunia digital memiliki pengaruh sangat besar dalam membentuk cara bertutur generasi hari ini. Manusia, pada dasarnya, ialah makhluk sosial yang senang belajar dan mempelajari hal baru.

“Apa yang ditawarkan lingkungan—baik di dunia nyata maupun media sosial—akan dengan mudah terserap. Remaja dan dewasa ingin selalu dianggap up to date, meski hanya sekadar FOMO,” katanya.

Media sosial, film, dan konten digital menjadi rujukan utama. Bahasa yang muncul di dalamnya kerap di-copy paste tanpa proses penyaringan. Kalimat-kalimat toxic kemudian digunakan sebagai alat pembenaran, bahkan simbol kelekatan sosial.

“Mereka merasa cemas kalau tertinggal. Akhirnya bahasa yang tidak pantas pun dianggap biasa,” ujarnya.

Paparan berulang ini berdampak serius, terutama pada anak-anak. Gadget, menurut Bunda Fanny, tidak masuk ke hati lebih dulu, melainkan langsung memengaruhi kognisi, pusat kendali berpikir dan emosi.

“Yang rusak bukan hanya pola pikir, tapi pola bicara, komunikasi, tidur, makan, sampai cara menyelesaikan konflik. Semua pola kehidupan bisa hancur,” ungkapnya.

Kondisi ini bahkan bersifat lintas generasi. Ia mengungkapkan, kekerasan verbal, konflik keluarga, hingga kasus perceraian lansia yang ditanganinya, kerap berawal dari pola pikir yang dibentuk oleh konsumsi digital tanpa kontrol.

“Ini bukan hanya masalah anak atau remaja. Ini krisis intergenerasi,” tegasnya.

Dampak Psikologis pada Anak dan Kesenjangan Generasi

Paparan bahasa kasar dari orang dewasa di ruang publik, menurut Bunda Fanny, berdampak langsung pada kondisi psikologis anak. Sikap dan perilaku anak sehari-hari menjadi cerminan dari apa yang mereka dengar dan lihat.

“Hal-hal yang seharusnya tabu menjadi polemik antar generasi. Orang dewasa yang masih memegang nilai keadaban justru dianggap kuno,” katanya.

Kondisi ini menciptakan kesenjangan tajam antara generasi. Anak atau remaja yang tidak siap secara mental berisiko mengalami gangguan konsep diri hingga masalah kesehatan mental.

“Dalam beberapa kasus yang saya tangani, ini bisa mengarah pada mental illness. Anak tidak lagi memahami siapa dirinya, lalu muncul kejengkelan, agresivitas, bahkan kekerasan dalam rumah tangga,” jelasnya.

Bahasa kasar, yang semula dianggap sepele, perlahan menjadi pintu masuk kekerasan verbal yang berujung pada kekerasan fisik dan trauma psikologis.

Rumah sebagai Sekolah Pertama

Di tengah derasnya arus digital dan permisivisme sosial, Bunda Fanny menegaskan bahwa keluarga adalah kunci utama. Norma sosial memang penting, tetapi pondasi paling menentukan ada di rumah.

“Kelompok masyarakat terkecil adalah rumah tangga. Masalah kita sekarang adalah hidup bersama tapi sendiri-sendiri,” ujarnya.

Minimnya bonding antara orang tua dan anak membuat gadget menggantikan peran relasi emosional. Bahkan, dalam beberapa kasus, orang tua justru menjadi contoh buruk dalam penggunaan gadget dan cara bertutur.

“Anak belajar dari apa yang mereka lihat, bukan dari nasihat,” katanya.

Ia menekankan pentingnya kelekatan—bukan sekadar kedekatan—antara orang tua dan anak. Anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang aman, nyaman, dan penuh empati akan membawa nilai itu ke ruang publik.

“Kalau dari rumah sudah toxic, itu juga yang akan dibawa anak ke luar,” ujarnya.

Antara Aturan Sosial dan Kesadaran Bersama

Terkait wacana imbauan etika bertutur di ruang publik, Bunda Fanny menilai hal tersebut bisa dilakukan, namun harus dimulai dari akar rumput.

“Edukasi harus dari bawah, door to door. Kepentingan terbaik anak harus menjadi fokus utama,” tegasnya.

Ia mengingatkan bahwa Undang-Undang Perlindungan Anak dengan jelas menyatakan anak tidak pernah salah. Ketika anak bermasalah, yang perlu dievaluasi adalah pola asuh orang dewasa.

“Gadget itu diciptakan manusia, bukan untuk mengendalikan manusia. Kalau robot sudah mengendalikan otak manusia, itu peradaban yang salah,” katanya.

Menjaga Tutur, Menjaga Masa Depan

Bunda Fanny menutup dengan pesan reflektif yakni tentang kesehatan mental yang baik tidak dimulai dari ruang publik, melainkan dari rumah.

“Rumah adalah tempat pertama dan utama anak belajar. Kalau rumah sudah menjadi home sweet home, anak akan tumbuh sehat dan berperilaku baik di mana pun,” tutupnya. (*)

Editor : Nicky Saputra

Tags:anakbahasabelajar barengpsikolog