Oleh: Nicky Saputra

Di tengah keriuhan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan dominasi mesin pencari (SEO) yang semakin hari semakin rumit, banyak praktisi media mulai merasa cemas. Pertanyaannya selalu sama yakni apakah peran manusia dalam pers akan digantikan oleh mesin?

Sebagai pengelola media di Kalimantan Utara (Kaltara), saya melihat tantangan ini memiliki wajah ganda. Di satu sisi, kita masih berhadapan dengan budaya informasi konvensional seperti koran cetak yang, meskipun pembacanya terus menyusut, masih dianggap sebagai “barang mewah” atau simbol kredibilitas. Di sisi lain, dunia digital menuntut kita menguasai SEO jika ingin tulisan kita dibaca oleh publik luas.

Namun, di tengah persimpangan teknologi ini, ada satu hal yang tidak boleh luntur dari insan pers yaitu “Karakter”.

Kita harus jujur, kemampuan individu manusia dalam mengolah data mungkin kalah cepat dengan mesin. Algoritma bisa menentukan kata kunci apa yang paling banyak dicari hari ini. Namun, mesin tidak memiliki “rasa”.

Khas penulisan dalam karya jurnalistik—apa yang saya sebut sebagai karakter—adalah sesuatu yang tidak bisa diubah dan tidak bisa ditiru oleh AI sehebat apa pun. Karakter inilah yang membedakan satu portal berita dengan portal lainnya. Gaya bahasa, ketajaman sudut pandang, dan sentuhan empati dalam sebuah tulisan adalah harta karun pers yang paling berharga.

Hadirnya Google News Initiative (GNI) menurut saya adalah sebuah jawaban yang menarik. Bagi kawan-kawan media di Kaltara, yang mungkin masih merasa asing dengan teknis SEO yang rumit, GNI hadir membawa sejumlah fitur yang seharusnya membantu pers agar tetap relevan di era digital tanpa harus kehilangan identitas.

Kita harus belajar kembali. Memahami GNI bukan berarti kita tunduk pada kemauan platform, melainkan belajar menggunakan alat yang mereka sediakan agar karya jurnalistik kita yang berkarakter itu bisa sampai ke layar ponsel pembaca dengan lebih efisien.

Momentum ini juga menjadi waktu yang tepat bagi saya untuk mengucapkan Selamat Hari Pers Nasional 2026. Di tengah gempuran teknologi dan digitalisasi yang kian masif, peran pers tidak boleh dan tidak akan pernah hilang.

Pers hadir membawa karakter dan komitmen untuk terus belajar dalam situasi apa pun. Saya sangat percaya bahwa pers adalah kumpulan insan intelektual yang memiliki kedalaman nurani. Dedikasi, integritas, dan cara kita memandang kemanusiaan melalui tulisan adalah hal-hal yang tak akan pernah bisa digantikan oleh mesin atau teknologi apa pun.

Mari kita terus berkarya dengan karakter, karena di sanalah martabat pers kita berada. (***) 

Tags:GNIhari pers nasional 2026OPINI