Oleh : Nicky Saputra
Di ujung utara Pulau Borneo, ada sepetak wilayah yang kerap luput dari sorotan. Namanya Kalimantan Utara. Provinsi bungsu di Indonesia ini bukan sekadar hasil pemekaran dari Kalimantan Timur. Ia menyimpan kisah tentang perbatasan, budaya yang serumpun, kekayaan alam yang melimpah, serta harapan besar dari mereka yang tinggal di tapal batas.
Masyarakat di sini hidup berdampingan dengan Malaysia. Tak cuma sekadar tetangga negara, tapi seperti kerabat jauh yang tetap saling sapa. Bahasa mereka mirip, budayanya pun hampir tak bisa dibedakan. Suku Tidung, Bulungan, dan Dayak bukan hanya ada di Kaltara—begitu Kalimantan Utara biasa disingkat—tetapi juga di wilayah Sabah dan Sarawak. Batas negara mungkin memisahkan, tapi tidak dengan hati dan sejarah mereka.
Jika Anda pernah ke Nunukan atau Tarakan, jangan kaget melihat barang-barang dari Malaysia dijajakan di pasar. Sejak dulu, warga di perbatasan saling menopang ekonomi. Bahkan, sebelum ada kantor perwakilan Bank Indonesia, rupiah dan ringgit pernah sama-sama berlaku di kantong warga. Ini bukan soal nasionalisme yang luntur, tapi soal kedekatan yang terlalu nyata untuk diabaikan.
Kalimantan Utara juga diberkahi tanah yang subur, sungai-sungai yang mengalir jernih, dan laut yang kaya hasil ikan. Dari udang, kepiting, sampai rumput laut, semuanya jadi andalan ekspor. Tapi tak semua berjalan manis. Produksi beras, misalnya, masih belum bisa mencukupi kebutuhan sendiri. Banyak daerah menggantungkan bahan pokok dari Jawa dan Sulawesi. Sebagian lainnya bahkan dari Malaysia.
Sementara itu, di perut buminya, tersimpan kekayaan tambang yang besar. Batu bara, minyak, dan gas jadi incaran banyak perusahaan. Kini, Kalimantan Utara tengah bersiap menjadi pusat industri masa depan. Kawasan Industri dan Pelabuhan Internasional Tanah Kuning sedang dibangun untuk menjangkau pasar Asia Timur dan Pasifik.
Tapi tentu, pembangunan bukan hanya soal infrastruktur. Warga lokal pun harus siap bersaing. Sebab industri besar yang datang akan membawa sumber daya manusia dari luar. Maka, harapannya, masyarakat Kaltara tak hanya jadi penonton, tapi juga bagian dari cerita besar itu.
Provinsi ini memang muda, tapi potensinya besar. Kalimantan Utara tidak hanya menawarkan kekayaan, tapi juga cerita—tentang keramahan di perbatasan, tentang perjuangan pangan, dan tentang harapan yang terus menyala dari utara negeri ini. (***)


tugu perbatasan Indonesia Malaysia 


