Oleh : Nicky Saputra/Pemimpin Redaksi redaktif.id

KAWASAN Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB) Kota Tarakan kini seakan dibiarkan bernapas sendiri. Wisata hutan mangrove terbesar di tengah kota ini sudah tak lagi seramai dulu. Padahal, ketika masih menjadi magnet wisatawan lokal maupun luar, Tarakan begitu percaya diri menyambut setiap tamu yang datang. Saat itu, kota kecil ini seakan berkata, “Kami punya energi, dan juga wisata alam yang terjangkau.”

Namun kini, menikmati wisata alam KKMB sudah tak senikmat dulu. Banyak fasilitas yang tak terawat: bangunan rusak, jembatan lapuk, dan sudut-sudut yang terlihat jelas memerlukan perbaikan. Pertanyaan pun muncul usai berkunjung ke sana: Mengapa KKMB Tarakan tak terurus? Apakah kawasan ini memang sengaja dibiarkan rusak? Kapan bisa kembali menjadi kebanggaan warga?

Kawasan seluas 21 hektare ini sejatinya menyimpan kekayaan luar biasa. Dari beragam tanaman khas rawa yang menopang ekosistem, hingga keberadaan bekantan—hewan endemik yang tetap bertahan meski populasinya menurun. Sayangnya, potensi sebesar ini seakan terpinggirkan dari perhatian.

Saya masih ingat betapa bangganya Tarakan saat pejabat pemerintah pusat berkunjung ke KKMB. Saat menjadi jurnalis lapangan, saya sering mengajukan diri meliput kegiatan di sana. Bagi saya, liputan itu bukan sekadar seremonial, melainkan kesempatan menelisik keunggulan KKMB di mata pengunjung, terutama mereka yang datang dari luar pulau.

Bukan hanya wisatawan lokal, KKMB juga pernah jadi tujuan utama turis mancanegara—dari Jepang hingga Belanda. Mereka kagum melihat hutan mangrove luas berdiri megah di tengah kota. Waktu itu, KKMB bukan hanya wisata, tapi juga lokasi penelitian yang membanggakan. Kini, meski tinggal kenangan, kesan kejayaan KKMB masih melekat: Tarakan punya destinasi yang dulu membuat turis asing berdecak kagum.

Saya kerap mengajak tamu dari luar kota singgah ke KKMB. Meski “hanya” hutan bakau dengan bekantan sebagai daya tarik utamanya, banyak yang pulang dengan rasa kagum. Mereka mengapresiasi, meski sadar kondisi kawasan tak terawat maksimal. Namun, tetap saja, sangat disayangkan bila KKMB terus dibiarkan “hidup segan, mati pun tak mau.”

Di balik kondisi memprihatinkan itu, para petugas KKMB patut diapresiasi. Mereka merawat kawasan ini bukan sekadar menjalankan tugas, tapi dengan hati. Dari memberi makan bekantan secara rutin, memperbaiki jembatan kayu seadanya, hingga merawat fasilitas yang masih bisa diselamatkan. Bahkan warga sekitar ikut peduli—tak jarang menyumbangkan pisang untuk bekantan.

Hingga kini, KKMB masih buka. Wisatawan lokal masih datang, meski tak seramai dulu. Bentuknya belum hilang, tapi jelas ia menunggu perhatian besar dari pemerintah. Wisata ini tak semestinya dibiarkan mati suri, apalagi bila mengingat perannya yang bisa menopang Pendapatan Asli Daerah (PAD) sekaligus menjadi paru-paru kota.

Sudah seharusnya KKMB mendapat “angin segar”: suntikan anggaran untuk renovasi, program promosi yang serius, dan perencanaan matang agar bisa kembali berjaya. Banyak yang yakin, jika benar-benar dirawat, KKMB akan kembali menjadi magnet wisata. Apalagi, tak semua kota—bahkan negara—punya kekayaan seperti ini.

Meski masih ada tarik-ulur soal kepemilikan lahan, hal itu bukan alasan untuk berhenti. Pemerintah kota dan provinsi seharusnya bisa bahu-membahu menyelesaikan administrasi serta legalitas agar KKMB masuk kembali ke agenda pembangunan. Jangan hanya menyuarakan kepedulian wisata di atas kertas, sementara kenyataan di lapangan berkata lain. (***)

Tags:tarakan