redaktif.id – Sejumlah wilayah di Tarakan tergenang banjir akibat hujan yang turun sejak Rabu, 6 Agustus 2025 dini hari. Jalan yang terdamapk banjir mulai dari Jalan Aki Balak (depan 613), Jalan Wijaya Kusuma (Prumnas), Jalan Cendrawasih (Simpang Tiga), Jalan Jend. Sudirman (Gang Handayani), Jalan Seroja (Karang Anyar), Jalan Patimura (Sekitar Don Bosco), Jalan Sulawesi (Hotel Monaco), Jalan P. Sumatera (Stadion Datu Adil), dan Jalan Sei Sesayap (Keramat), hingga sejumlah wilayah lainnya.
Pantauan redaktif.id di lapangan, banjir yang menggenangi Prumnas, Gang Handayani, dan Karang Anyar cukup tinggi. Begitu juga dengan Jalan Sulawesi, Jalan P. Sumatera, dan Jalan Sei Sesayap. Akibatnya banyak kendaraan roda dua mogok dan sejumlah kendaraan roda empat terhambat dan mengakibatkan kemacetan yang cukup panjang.
Terlebih, aktivitas kendaraan cukup tinggi di sejumlah titik banjir. Hal itu ditambah dengan sebagian besar kendaraan roda empat memilih jalan alternatif di Jalan Sulawesi malah terjebak macet yang panjang. Penyebabnya sejumlah kendaraan roda empat yang mogok karena tingginya genangan air di jalan tersebut.
Sementara di bundara Stadion Datu Adil menuju Jalan Sei Sesayap kendaraan roda dua dan roda empat sempat tertahan lantaran tingginya air yang menggenangi jembatan Jalan Sei Sesayap menuju Kampung Empat. Petugas Lalu Lintas yang mengurai kemacetan mengalihkan sebagian kendaraan melalui jalan pintas Wilayah Kerja Pertamina (WKP) menuju Kampung Empat dan Kampung Enam.

Erni, seorang pengendara roda empat jenis sedan yang mengalami kerusakan mobil akibat nekat menerjang banjir di Jalan Sulawesi mengaku kaget dengan kondisi jalan yang digenangi air dengan volume lumayan tinggi. Terlebih mobil yang dikendarainya sempat menyebabkan kemacetan yang cukup panjang.
“Saya pikir bisa saja dilalui. Karena mau mundur putar balik juga sulit karena mobil sudah banyak mengantre di belakang. Jadi saya nekat saja, ternyata mobil saya terlalu rendah dan berasap tidak lama kemudian mogok,” terangnya usai kendaraannya dibantu warga sekitar untuk dipinggirkan.
Bunyi klakson dan wajah kesal sejumlah pengendara pun terpantau di Jalan P. Sumatera menuju Jalan Sei Sesayap. Sejumlah kendaraan yang mengarah ke Kampung Empat dari Lampu Merah Keramat tak berjalan lancar lantaran kendaraan – kendaraan yang terjebak banjir di Jalan Sei Sesayap terhenti sesaat. Akibatnya simpang empat lampu merah keramat macet total.
“Saya ngajar di sekolah harusnya sudah sampau jam 06.30 wita. Tapi karena cari jalan alternatif tadi malah terjebak banjir di sini,” aku Anton salah seorang guru di sekolah wilayah Kampung Empat.
Persoalan banjir yang kerap melanda Kota Tarakan merupakan masalah klasik yang sering terjadi setiap kali curah hujan tinggi. Penyebabnya beragam, mulai dari parit yang kecil dan dangkal hingga jalur pembuangan air ke pesisir yang bertemu air pasang laut. Hal itu ditambah dengan terjadinya pendangkalan di wilayah pesisir kota.
Jika diperhatikan, sejumlah sungai yang mengarah ke pesisir pantai Tarakan yang terdapat di Sungai Mamburungan (Sungai Idec), Sungai Sebengkok (SDF), Sungai Selumit (Steleng) Sungai Perikanan (Simpang Tiga) dan Sungai Bandara hampir semuanya dangkal. Sementara sungai yang terdapat di wilayah seperti Karang Anyar, Markoni, dan Selumit juga mengalami pendangkalan yang sama. Ketika curah hujan tinggi bertemu dengan debit pasang air laut, maka air yang tak dapat ditampung di sejumlah gorong – gorong meluap ke jalan – jalan di Kota Tarakan.
Hingga berita ini diturunkan, sejumlah titik kemacetan sudah mulai terurai dan genangan banjir yang sempat terjadi di beberapa titik berangsur menyusut. Penanganan persoalan klasik setiap kali hujan turun ini pun diharapkan dapat ditangani pihak terkait. Terutama penanganan parit dan muara suangai yang mulai mengalami pendangkalan.
“Jembatan Karang Anyar yang dibuat tinggi sekalipun, banjir tetap naik ke jalan dan luayan tinggi. Artinya kita juga mengharapkan pemerintah kota punya solusi jitu dalam penanganan banjir jangka panjang di Tarakan,” tutur Junaidi warga yang melintas di Jalan Seroja, Karang Anyar. (nik)





