redaktif.id – Pernah bermimpi jatuh dari ketinggian? Atau dikejar-kejar sesuatu yang tak jelas bentuknya? Jangan buru-buru panik, bisa jadi itu hanya refleksi isi pikiran yang menumpuk. Tapi di sisi lain, bisa juga mimpi menyimpan pesan spiritual atau budaya. Lalu, bagaimana sebenarnya arti mimpi menurut psikologi, agama, dan pandangan masyarakat Indonesia?
Psikologi: Mimpi Adalah Cermin Isi Kepala Kita
Menurut laman resmi Kementerian Agama RI, mimpi merupakan cerminan kondisi batin dan psikologis seseorang. Saat tidur, otak kita tidak benar-benar mati tapi tetap aktif mengolah emosi, kenangan, dan tekanan hidup yang kita alami sebelumnya.
“Mimpi adalah kerja‑kerja mental yang menggambarkan situasi psikologis seseorang yang sebenarnya,” dikutip dari laman kemenag.go.id.
Sementara itu, situs edukasi Inca.ac.id menjelaskan bahwa mimpi terbentuk saat otak sedang dalam fase tidur terdalam (REM). Pada fase ini, sistem limbik dan area visual di otak bekerja aktif, menciptakan cerita acak dari sinyal yang ada.
Fungsi mimpi menurut psikologi, antara lain mengolah emosi yang belum tuntas, memperkuat memori jangka panjang, menyimulasikan solusi atas masalah dalam hidup. Jadi, jika Anda mimpi gigi copot, belum tentu ada yang akan meninggal bisa saja Anda sedang stres soal penampilan atau kesehatan.
Agama Islam: Mimpi Bisa Jadi Petunjuk atau Sekadar Lintasan
Dalam ajaran Islam, mimpi dibagi menjadi tiga jenis. Mimpi baik (ru’ya) dari Allah, mimpi buruk (hulm) dari setan, mimpi biasa dari pikiran sendiri. Rasulullah SAW bersabda: “Mimpi yang baik adalah dari Allah, dan mimpi buruk adalah dari setan.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Tafsir mimpi dalam Islam tidak serta merta ditelan mentah. Kita dianjurkan untuk mencari maknanya jika memang terasa sangat nyata dan memberi kesan mendalam. Namun jika mimpi buruk, cukup berdoa dan tidak perlu diceritakan. Salah satu referensi tafsir mimpi klasik yang sering dirujuk umat Islam adalah Tafsir al-Ahlam karya Ibnu Sirin. Tafsir ini juga banyak dibahas ulang oleh para ulama melalui platform seperti rumaysho.com.
Budaya Lokal: Tafsir Mimpi dalam Kearifan Nusantara
Di berbagai wilayah Indonesia, mimpi punya tempat khusus dalam budaya. Di Jawa, misalnya, mimpi dianggap sebagai “titen” atau tanda-tanda yang muncul lewat alam bawah sadar. Kitab Primbon Jawa bahkan mencantumkan ribuan tafsir mimpi.
Beberapa kepercayaan yang masih populer. Mimpi digigit ular (akan bertemu jodoh), mimpi gigi copot (pertanda ada yang sakit atau meninggal), mimpi naik tangga (rezeki atau jabatan naik). Namun, seperti halnya ajaran agama, tafsir budaya ini juga disarankan untuk disikapi secara bijak. Menurut Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta (BPNB DIY), tafsir mimpi merupakan bagian dari warisan pengetahuan lisan yang penuh nilai simbolik, bukan prediksi mutlak.
Lalu, Haruskah Kita Percaya?
Jawabannya tergantung Anda. Dari sisi psikologi, mimpi adalah sinyal dari dalam diri. Dalam agama, mimpi bisa jadi pesan tapi bukan untuk diramal sembarangan. Sedangkan dari budaya, mimpi adalah warisan nilai-nilai leluhur yang bisa memperkaya cara kita memahami hidup.
Satu hal yang pasti, mimpi bukan hanya bunga tidur. Kadang, mimpi datang membawa pesan. Kadang, mimipi hanya mampir sejenak tanpa makna. Tapi setiap mimpi layak dihargai karena bisa jadi, ia sedang bicara pelan tentang diri kita sendiri. (nik/ra)


ilustrasi mimpi. (int) 


