Pernahkah Anda datang ke Tarakan — dan tak tahu harus ke mana setelah mendarat?
Itulah Tarakan hari ini. Kota yang seolah selalu disinggahi, tapi jarang benar-benar disinggahi.
Setiap pesawat yang mendarat di Bandara Juwata, setiap kapal yang bersandar di pelabuhan, menjadikan Tarakan sebagai pintu masuk utama Kalimantan Utara. Dari sinilah para pejabat, pekerja proyek, pedagang, hingga wisatawan melangkah ke berbagai daerah di provinsi muda ini.
Tapi Tarakan belum benar-benar menjadi kota tujuan. Ia masih dikenal sebagai “kota transit”. Padahal, kalau mau jujur, Tarakan bisa jadi contoh nyata — bahwa sebuah kota kecil pun bisa hidup dari wisata.
Coba bayangkan. Sebuah kota di tengah laut, dengan pantai berpasir putih, hutan mangrove di tengah kota, bekantan bergelantungan di dahan, dan sunset yang menutup hari dengan warna jingga lembut. Semuanya ada di Tarakan. Tapi seperti rumah tua yang dibiarkan berdebu, keindahan itu kini mulai pudar.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tarakan, jumlah wisatawan yang datang sepanjang 2023 mencapai 292 ribu orang. Dari jumlah itu, lebih dari 9 ribu adalah wisatawan mancanegara. Angka yang tidak kecil untuk kota dengan luas tak lebih dari 250 kilometer persegi.
Namun, angka sebesar itu belum berbanding lurus dengan kondisi lapangan. Dinas Pariwisata Tarakan mencatat, saat libur Idulfitri 2025 lalu, pengunjung Pantai Ratu Intan Amal hanya sekitar 7.200 orang, turun dari tahun sebelumnya yang mencapai lebih dari 8.000 pengunjung.
Artinya sederhana: wisatawan datang, tapi tidak menetap lama. Tarakan masih jadi tempat singgah, bukan tempat tinggal sementara.
Padahal, kalau mau sedikit berpikir ekonomis, dengan 292 ribu wisatawan per tahun dan rata-rata pengeluaran Rp500.000 per kunjungan, potensi uang yang berputar bisa mencapai Rp146 miliar setahun. Angka yang luar biasa — untuk kota yang katanya “kecil dan sepi”.
Saya masih ingat Pantai Amal di masa lalu.
Rame, ramai, dan hidup. Anak-anak bermain pasir, pedagang menyiapkan bakso, dan para orang tua duduk menikmati angin laut.
Sekarang?
Pantai itu lebih sering sunyi daripada riuh. Sebagian kios tutup, sebagian lainnya bertahan seadanya. Jalan menuju pantai rusak, lampu-lampu jalan banyak yang mati. Di malam hari, pantai ini bukan lagi tempat menenangkan hati, tapi membuat was-was bagi yang melintas.
Padahal pemerintah sempat membangun Ratu Intan Amal, berharap menjadi destinasi unggulan. Tapi impian itu tampak tertinggal di papan nama proyek.
Sekarang kita ke tengah kota, ada Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB) — hutan mangrove terbesar di tengah kota di Indonesia. Tempat ini dulu ikon Tarakan, bahkan sempat menarik perhatian turis luar negeri. Mereka datang hanya untuk melihat bekantan yang bergelantungan di pohon, menikmati udara segar, dan merasakan sensasi hutan di tengah kota.
Namun kini, pengunjungnya bisa dihitung jari. Beberapa papan informasi mulai lapuk, jembatan kayu sudah banyak yang butuh perbaikan. Masalah sengketa lahan membuat kawasan ini seperti dibiarkan berjalan sendiri.
Ironis. Di saat banyak daerah berjuang menanam mangrove, Tarakan justru membiarkan yang sudah tumbuh menjadi kenangan.
Kalau ingin tahu bagaimana kota kecil bisa hidup dari wisata, lihatlah Kota Batu di Jawa Timur.
Dulu, Batu hanyalah kota berhawa sejuk dengan kebun apel. Kini, berkat keseriusan membangun wisata, PAD-nya bisa menembus Rp400 miliar per tahun. Ribuan warga hidup dari wisata — dari sopir jeep, penjual sate kelinci, hingga pengelola vila.
Tarakan punya peluang yang sama. Bahkan lebih. Ia punya laut, punya pantai, punya hutan, punya satwa endemik, dan punya cerita. Hanya saja, semua itu belum disusun menjadi pengalaman wisata yang utuh.
Tarakan seperti punya banyak bahan, tapi tak pernah memasaknya menjadi hidangan.
Masalahnya sederhana: wisata bukan prioritas.
Pemerintah tampak lebih sibuk membangun proyek besar yang kadang tak punya dampak langsung ke masyarakat. Padahal, sektor wisata adalah denyut ekonomi rakyat kecil. Ketika wisata tumbuh, pedagang ikut hidup, sopir ikut ramai, dan kota ikut bernapas.
Sayangnya, hingga kini, wisata di Tarakan masih seperti anak tiri. Fasilitas rusak dibiarkan, promosi minim, dan anggaran terbatas.
Sementara itu, wisatawan datang, melihat, lalu pergi. Tanpa sempat benar-benar mengenal Tarakan.
Kota ini sebenarnya tidak butuh banyak hal. Ia hanya butuh perhatian. Butuh orang-orang yang mau percaya bahwa Tarakan bisa lebih dari sebagai kota transit.
Bayangkan jika Pantai Amal diterangi lampu warna-warni di malam hari, jika musik akustik mengalun di kafe tepi pantai, jika mangrove kembali hidup dengan jembatan kayu yang kokoh, dan wisata edukasi tentang bekantan menarik minat anak sekolah.
Bayangkan wisatawan datang bukan hanya untuk bekerja, tapi juga untuk menikmati, untuk mengingat.
Tarakan bisa. Ia hanya belum memutuskan untuk benar-benar ingin.
Dan seperti cinta — kota ini hanya butuh satu hal untuk berubah: perhatian yang sungguh-sungguh. (***)
Penulis : Nicky Saputra


peta kaltara 


