Setiap kali tanggal 28 Oktober datang, saya selalu teringat satu hal: betapa hebatnya anak muda tempo dulu.

Bayangkan, mereka bisa menyatukan bangsa yang bahkan belum punya bentuk, belum punya presiden, belum punya kemerdekaan.

Tapi mereka punya satu hal yang luar biasa — semangat.

Sedangkan kita hari ini?

Bangun pagi yang pertama kali kita sentuh bukan tanah, tapi layar ponsel.

Yang pertama kita baca bukan doa, tapi notifikasi.

Kadang saya pikir, kita hidup di masa di mana segalanya serba cepat, tapi sering kehilangan arah.

Saya menulis ini bukan karena ingin menggurui.

Saya cuma ingin mengingatkan diri sendiri — bahwa menjadi muda hari ini bukan hanya soal gaya hidup, tapi tentang bagaimana kita memberi makna pada kebebasan yang sudah diperjuangkan.

Dulu Mereka Bersatu, Sekarang Kita Sibuk Sendiri

Saya pernah membaca banyak artikel tentang Sumpah Pemuda.

Menarik sekali membayangkan bagaimana para pemuda tahun 1928 itu berkumpul di satu ruangan kecil di Kramat Raya, Jakarta.

Mereka datang dari berbagai pulau, dari latar belakang yang berbeda-beda, tapi duduk bersama untuk satu tujuan: Indonesia.

Mereka mengucapkan tiga kalimat yang sekarang jadi warisan sejarah:

Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia.

Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.

Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.

Tiga kalimat itu pendek, tapi isinya dalam.

Mereka bersatu di tengah keterbatasan.

Sementara kita sekarang, di tengah segala kemudahan, justru sering sibuk dengan urusan masing-masing.

Kalimat ketiga — tentang bahasa persatuan — selalu menarik buat saya.

Dulu, memilih Bahasa Indonesia adalah keputusan berani.

Mereka tahu, bahasa bisa jadi jembatan, bukan sekadar alat bicara.

Sekarang, kita hidup di zaman chatting dan caption, di mana bahasa sering dicampur seenaknya.

Bukan berarti salah, tapi kadang kita lupa bahwa Bahasa Indonesia adalah bagian dari jati diri kita.

Kalau dulu pemuda berjuang agar bahasa ini hidup, maka sekarang tugas kita menjaganya agar tidak hilang di tengah scrolling tak berujung.

Saya tinggal di Kalimantan Utara.

Daerah ini menarik, karena langsung berbatasan dengan Malaysia.

Banyak orang mungkin mengira hidup di perbatasan itu jauh dari hiruk pikuk nasionalisme, tapi justru di sinilah semangat kebangsaan diuji.

Saya sering melihat anak muda Kaltara bekerja, berusaha, dan berkarya di tengah keterbatasan.

Ada yang jadi relawan, ada yang menulis, ada yang membuat konten tentang daerah.

Mereka tidak berteriak “Saya cinta Indonesia”, tapi mereka menunjukkannya lewat tindakan kecil yang nyata.

Bagi saya, inilah bentuk baru dari Sumpah Pemuda.

Tidak selalu harus lewat pidato atau upacara, tapi lewat kerja dan karya.

 

Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa — versi hari ini. Kalimat itu dulu diucapkan dengan lantang dalam kongres.

Sekarang, saya pikir kalimat itu harus dihidupkan di dunia digital.

Satu Nusa berarti menjaga bumi kita sendiri — tidak membuang sampah sembarangan, tidak merusak alam, tidak diam saat lingkungan rusak.

Satu Bangsa berarti tidak ikut-ikutan menyebar kebencian di media sosial.

Karena bersatu hari ini bukan lagi soal bendera, tapi soal sikap.

Satu Bahasa berarti tetap bangga memakai Bahasa Indonesia, meski dunia kita kini penuh istilah asing.

Kadang saya merasa, perjuangan kita sekarang bukan melawan penjajah, tapi melawan diri sendiri — rasa malas, ego, dan lupa.

Saya tahu, anak muda sekarang banyak yang sibuk membangun citra, mengejar eksistensi.

Tapi kalau kita terus sibuk terlihat hebat, kapan kita benar-benar jadi hebat?

Pemuda hari ini tidak butuh panggung besar.

Kita punya media sosial, punya ruang untuk berkarya, punya kesempatan untuk menebar manfaat.

Yang penting, jangan cuma bicara.

Karena Sumpah Pemuda dulu tidak berhenti di kata “kami bersumpah” — tapi diwujudkan dalam tindakan.

Saya menulis ini bukan untuk nostalgia, tapi untuk mengingatkan:

semangat Sumpah Pemuda tidak pernah usang, kecuali kalau kita sendiri yang melupakannya.

Menjadi pemuda bukan berarti harus selalu lantang bicara,

tapi berani berbuat dengan hati, sekecil apa pun.

Karena bangsa ini tidak akan besar hanya oleh orang tua yang bijak,

tapi oleh pemuda yang sadar akan peran dan cintanya pada negeri.

Dan kalau saya boleh menambah satu kalimat ke dalam Sumpah Pemuda hari ini, mungkin bunyinya begini:

“Kami, pemuda zaman notifikasi, bersumpah untuk tetap sadar — bahwa perubahan besar selalu dimulai dari diri sendiri.”

 

Penulis : Nicky Saputra

Tags:OPINI