Di tengah tengah gemuruhnya notifikasi dan gulungan feed media sosial yang tak pernah berhenti, simbol kebangsaan seperti bendera merah putih, lagu kebangsaan Indonesia Raya, dan narasi nasional kini telah bersaing dengan meme, chellenge dan juga trend global. Untuk generasi Z yang lahir antara pertengahan tahun 1990-an hingga awal 2010-an, cara mencintai tanah air pun ikut berubah. Bagaimanakah mereka memahami nasionalisme di era digital ini?
Data Menunjukkan Perubahan Perilaku
Beberapa hasil dari penelitian menunjukkan bahwa semangat kebangsaan di kalangan generasi Z menghadapi tantangan baru :
- Jurnal Walisongo menunjukkan bahwa, dalam survei terhadap 300 pelajar dan juga mahasiswa, ditemukan bahwa meski terbuka terhadap nilai global, tingkat komitmen kebangsaan mereka menunjukkan penurunan termasuk dalam aspek identitas budaya dan juga tanggung jawab sosial.
- upgripnk.ac.id menunjukkan bahwa, pemahaman terhadap konsep Wawasan Nusantara memiliki peran yang penting dalam membangun Nasionalisme generasi Z.
- Menurut laporan media, penetrasi internet di Indonesia telah mencapai sekitar 79-80% dari total populasi, dan generasi muda menghabiskan waktu yang lama diruang digital. (ANTARA News Jawa Timur)
Data-data tersebut menggambarkann bahwasanya generasi Z lebih banyak berada di ruang digital daripada generasi sebelumnya. Dan konsekuensinya adalah praktik Nasionalisme pun harus ikut menyesuaikan.
Teori yang dapat membantu menjelaskan dinamika ini
Beberapa teori dari sosiologi dan ilmu sosial yang dapat membantu memahami bagaimana nasionalisme generasi Z terbentuk dan berubah :
Menurut kompas, Benedict Anderson dalam Imagined Communities menyebut bangsa sebagai “komunitas yang dibayangkan” yaitu orang-orang yang mungkin tidak saling mengenal namun merasa bagian dari satu identitas bersama.
Teori modal sosial dari Robert Putnam menyoroti pentingnya jaringan sosial, kepercayaan, dan partisipasi dalam membangun ikatan kebangsaan. Di era digital, jaringan itu berubah bentuk, dari interaksi fisik menjadi interaksi daring yang menuntut model baru pembentukan nasionalisme.
Teori identitas sosial dari Henri Tajfel dan John Turner menjelaskan bahwasany individu memperoleh identitas melalui kelompok-kelompok yang mereka pilih untuk bergabung: termasuk identitas nasional. Karena generasi Z begitu aktif di ruang online yang beragam komunitasnya, maka dari itu identitas kebangsaan bisa menjadi salah satu dari banyak identitas yang mereka pegang.
Bagaimana generasi Z mengaktualisasikan nasionalisme ?
Walaupun tantangannya besar dan cukup serius, pendidikan formal yang masih menjadi kebiasaan kadang tidak mampu mengadaptasi cara belajar dan berinteraksi dengan generasi ini yang serba cepat dan juga digital. Kemudian, adanya pengaruh budaya dan ideologi dari luar yang membuat nasionalisme generasi Z berada di persimpangan globalisasi dan patriotisme lokal.
Namun, potensi besar tetap terbuka dengan pendekatan yang lebih kreatif, yang dimana media sosial dan teknologi digital dapat menjadi alat untuk menanamkan rasa cinta tanah air kepada bangsa Indonesia, yang sesuai dengan karakteristik generasi Z. Contohnya seperti kampanye sosial media di era digital yang sukses menggabungkan unsur hiburan dan juga edukasi.
Jadi kesimpulannya, generasi Z bukanlah generasi yang kehilangan nasionalisme, akan tetapi generasi yang mengubah cara mereka mengekspresikan rasa cinta terhadap tanah air. Dari upacara bendera menjadi unggahan instan, pidato yang panjang menjadi story singkat. Tantangannya adalah memastikan agar ekspresi itu tidak hanya disebarkan melalui platform media sosial seperti Instagram, YouTube, dan juga TikTok, akan tetapi dapat menjadi aksi nyata dari mereka. Dengan memanfaatkan digital secara kreatif, nasionalisme dapat bisa tetap hidup di era gen Z scroll tak henti ini. (***)
Penulis : Putri Marsha Khairunnisa


ilustrasi 


