Redaktif.id — Guncangan gempa yang baru-baru ini dirasakan warga Tarakan kembali mengingatkan pada sejarah panjang aktivitas seismik di wilayah utara Kalimantan. Kota yang dikenal sebagai Bumi Paguntaka ini ternyata telah beberapa kali diguncang gempa besar sejak awal abad ke-20, menandakan bahwa Tarakan bukanlah wilayah yang sepenuhnya aman dari potensi bencana tersebut.

Menurut data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Tarakan merupakan salah satu kawasan paling rawan gempa di Pulau Kalimantan. Di bawah permukaannya membentang Sesar Tarakan, jalur patahan aktif yang mampu memicu gempa dengan kekuatan mencapai magnitudo 7,0. Jalur sesar ini membentang dari wilayah laut di timur hingga ke arah daratan Tarakan dan sekitarnya, menjadikan aktivitas tektonik di kawasan ini patut diwaspadai.

Catatan sejarah menunjukkan bahwa gempa besar pertama kali mengguncang Tarakan pada 19 April 1923 dengan kekuatan diperkirakan mencapai magnitudo 7,0. Guncangan tersebut membuat banyak bangunan pada masa itu rusak berat. Dua tahun kemudian, tepatnya 14 Februari 1925, gempa kembali terjadi dan menyebabkan sejumlah rumah warga mengalami kerusakan parah. Peristiwa serupa juga kembali berulang pada 28 Februari 1936, di mana gempa berkekuatan sekitar magnitudo 6,5 mengguncang kota dan menimbulkan kerusakan cukup besar. Meski belum ada sistem pemantauan modern saat itu, laporan menunjukkan intensitas guncangan mencapai skala VI–VII MMI atau setara dengan getaran kuat yang mampu merobohkan bangunan permanen.

Lompatan waktu membawa kita ke 21 Desember 2015, ketika Tarakan kembali diguncang gempa berkekuatan magnitudo 6,1. BMKG mencatat pusat gempa berada 29 kilometer timur laut Tarakan dengan kedalaman 10 kilometer. Kala itu, warga berhamburan keluar rumah, dan sejumlah fasilitas umum mengalami kerusakan. Beberapa dinding bangunan retak, sementara plafon di beberapa gedung perkantoran dan rumah sakit runtuh akibat kuatnya guncangan.

BMKG menjelaskan, gempa di Tarakan dipicu oleh aktivitas Sesar Tarakan yang merupakan salah satu jalur sesar aktif di wilayah utara Kalimantan. Sesar ini terbentuk akibat pergerakan tektonik di wilayah timur Kalimantan yang berinteraksi dengan Lempeng Laut Filipina. Meski Kalimantan dikenal sebagai wilayah dengan tingkat kegempaan rendah dibanding wilayah timur Indonesia lainnya, tekanan dari aktivitas sesar di bawah laut ini membuat Tarakan tetap memiliki potensi gempa yang perlu diwaspadai.

Dalam keterangan resminya, BMKG menegaskan bahwa masyarakat Tarakan harus tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan maupun aktivitas seismik baru di masa mendatang. Warga diminta memastikan kondisi rumah aman, terutama setelah guncangan terjadi. “Wilayah Tarakan termasuk dalam zona sesar aktif yang sewaktu-waktu dapat memicu gempa bumi dengan kekuatan sedang hingga besar. Warga diimbau tetap waspada dan memastikan kondisi bangunan tempat tinggalnya aman,” tulis BMKG dalam keterangan resminya.

Pakar kebumian juga menyarankan agar warga Tarakan memperhatikan kondisi struktur rumah pascagempa, terutama bangunan yang menggunakan bahan lama atau memiliki fondasi rapuh. Pemeriksaan bisa dilakukan pada bagian tiang utama, dinding penopang, serta sambungan atap. Jika ditemukan retakan besar atau perubahan posisi tiang, disarankan untuk segera meminta pemeriksaan oleh petugas teknis atau dinas terkait sebelum kembali menempati rumah.

Selain itu, warga diimbau menyiapkan tas siaga bencana berisi dokumen penting, senter, obat-obatan, dan alat komunikasi cadangan. Langkah ini menjadi bagian dari upaya mitigasi agar masyarakat siap menghadapi gempa susulan tanpa panik.

Berita ini disusun dan disadur dari berbagai sumber resmi, termasuk BMKG, Antara News, Kompas, serta arsip sejarah kebencanaan Tarakan. Seluruh informasi telah melalui proses verifikasi dan penyuntingan redaksi untuk memastikan keakuratan data serta kesesuaian konteks dengan kondisi terkini. (***)

Editor : Nicky Saputra

Tags:tarakan