Ketika seseorang merasa kehilangan arah, bingung dengan tujuan hidup, atau meragukan nilai-nilai yang selama ini diyakini, ia mungkin sedang menghadapi apa yang disebut dalam ilmu psikologi yaitu Krisis Identitas Diri. Kondisi ini, yang merupakan bagian normal dari perkembangan manusia—terutama di masa remaja dan dewasa awal—sayangnya, seringkali menjadi pintu masuk menuju perilaku destruktif, termasuk penyalahgunaan narkotika.
Landasan Ilmiah: Krisis Identitas dan Perilaku Berisiko
Hubungan antara identitas dan penyalahgunaan zat telah menjadi subjek penelitian intensif dalam psikologi perkembangan dan psikopatologi. Literatur ilmiah mendukung klaim bahwa individu yang berada dalam status identitas yang belum terselesaikan (sering disebut sebagai ‘Identity Diffusion’ atau ‘Moratorium’ dalam kerangka teori James Marcia, yang merupakan pengembangan dari Erikson) memiliki kerentanan yang lebih tinggi terhadap perilaku berisiko.
- Status Moratorium dan Diffusion
Status Moratorium (Masa Penundaan): Individu secara aktif mengeksplorasi berbagai pilihan identitas (nilai, pekerjaan, peran) tetapi belum berkomitmen pada satu pun. Keraguan dan kecemasan yang tinggi selama masa ini dapat memicu penggunaan zat sebagai strategi koping (penanggulangan) untuk meredakan stres eksplorasi.
Status Diffusion (Kebingungan Identitas): Ini adalah status identitas yang paling rentan. Individu tidak aktif mengeksplorasi pilihan identitas dan juga tidak berkomitmen pada nilai apa pun. Kekosongan dan apatisme yang mendalam dalam status ini sering membuat mereka mudah terjerumus pada aktivitas berisiko tinggi sebagai upaya untuk merasakan sesuatu, bahkan jika itu adalah hal negatif.
- Penelitian Lintas Budaya
Sejumlah studi telah menunjukkan korelasi signifikan antara tingkat kecemasan identitas (seberapa parah seseorang meragukan dirinya) dengan frekuensi penggunaan alkohol, rokok, dan narkotika ilegal.
Contoh: Sebuah tinjauan studi dalam jurnal psikologi perkembangan mencatat bahwa remaja dan dewasa muda yang skornya tinggi dalam ‘Identity Confusion’ cenderung melaporkan tingkat impulsivitas dan perilaku mencari sensasi (sensation seeking) yang lebih tinggi. Perilaku mencari sensasi ini, yang merupakan upaya mengisi kekosongan emosional, sering diekspresikan melalui eksperimen dengan zat psikoaktif.
- Fungsi Diri yang Lemah
Pada dasarnya, narkoba berfungsi sebagai solusi instan palsu untuk masalah yang membutuhkan waktu dan upaya untuk diselesaikan. Ketika fungsi diri (kemampuan untuk mengatur emosi, menunda kepuasan, dan memiliki tujuan jangka panjang) melemah akibat krisis identitas, zat adiktif menjadi alat yang cepat dan mudah untuk mengelola ketidaknyamanan batin.
Langkah Sehat Mengatasi Krisis Identitas
- Alih-alih mencari pelarian yang destruktif, para ahli menyarankan pendekatan yang lebih konstruktif untuk mengatasi krisis identitas:
- Eksplorasi Sehat: Mencoba hobi, pekerjaan, atau kegiatan sosial baru yang sehat untuk menguji minat dan menemukan nilai diri yang sesungguhnya.
- Konsultasi Profesional: Mencari bantuan dari psikolog atau psikiater dapat membantu individu memetakan emosi dan pengalaman mereka, serta membangun batas-batas yang jelas.
- Membangun Jaringan Dukungan: Berbicara dengan keluarga atau teman terpercaya untuk mendapatkan validasi dan perspektif eksternal.
Krisis identitas adalah panggilan untuk melakukan introspeksi mendalam. Meskipun terasa menyakitkan, proses ini adalah kunci untuk membangun identitas yang kokoh, autentik, dan tidak bergantung pada zat adiktif. (***)
Penulis : Rohmat Febri Hidayat


Cover ilustrasi krisis identitas diri dari pixabay 


