“Saudara-saudara, kita tidak akan mundur! Kita akan mempertahankan kemerdekaan kita yang baru satu kali ini kita rebut, walau harus menumpahkan darah sampai tetes yang penghabisan.”

Bung Tomo, 10 November 1945

 

Udara Surabaya pagi itu diselimuti asap mesiu. Bau mesiu bercampur dengan debu reruntuhan bangunan yang porak poranda. Di kejauhan, dentuman meriam menggema, langit ikut bergetar oleh teriakan kemarahan dan keberanian. Di rumah – rumah. Di tempat persembunyian, terdengar suara lantang seorang pemuda menggema ke seluruh penjuru negeri melalui sebuah radio sederhana.

“Saudara-saudara sekalian! Kita bangsa Indonesia, yang hari ini telah merdeka! Jangan menyerah kepada siapa pun, selama banteng-banteng Indonesia masih memiliki darah merah yang dapat membuat selembar kain putih menjadi merah dan putih…!”

Ya. Suara itu milik Sutomo—lebih dikenal sebagai Bung Tomo—salah satu tokoh muda yang menjadi simbol keberanian rakyat Surabaya pada pertempuran 10 November 1945. Dari balik pengeras suara itu, ia membakar semangat rakyat, menyatukan mereka dalam satu keyakinan bahwa kemerdekaan tidak boleh direnggut kembali.

Bara yang Menyala

Peristiwa ini bermula dari kedatangan pasukan Sekutu yang diboncengi tentara NICA Belanda ke Surabaya, beberapa bulan setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan. Tujuan mereka yakni melucuti tentara Jepang, tetapi diam-diam juga ingin mengembalikan kekuasaan kolonial di bumi Indonesia.

Ketegangan meningkat ketika Brigadir Jenderal Mallaby, pimpinan pasukan Sekutu di Surabaya, tewas dalam sebuah insiden di dekat Jembatan Merah pada 30 Oktober 1945. Kematian Mallaby membuat Sekutu murka. Ultimatum pun dikeluarkan. Seluruh rakyat dan laskar bersenjata Indonesia harus menyerahkan senjata mereka paling lambat 10 November 1945, atau kota Surabaya akan dihancurkan.

Namun rakyat Surabaya tidak gentar. Mereka menolak ultimatum itu. Para pejuang—dari pemuda kampung, santri, hingga bekas prajurit PETA—bersiap mempertahankan tanah kelahirannya. Mereka tahu kekuatan Sekutu jauh lebih besar, lengkap dengan tank dan pesawat tempur, tetapi semangat mereka melampaui ketakutan.

Gelora Jiwa Merdeka Bung Tomo

Dalam situasi genting itu, Bung Tomo menjadi sosok yang tidak tergantikan. Melalui Radio Pemberontakan, ia memanggil rakyat dengan kata-kata yang menggetarkan dada. Suara untuk tidak tunduk pada penjajahan dalam bentuk apa pun.

Ia tahu betul, senjata rakyat Surabaya hanyalah bambu runcing, bedil rampasan, dan tekad yang menyala. Namun justru dari sanalah lahir legenda. Bahwa kemerdekaan datang dari keyakinan akan harga diri bangsa.

“Lebih baik hancur lebur daripada dijajah kembali!”—teriaknya dalam siaran radio yang kemudian dikenal sebagai api semangat 10 November.

Surabaya Kota yang Menjadi Simbol Perlawanan

Pertempuran pun meletus dini hari itu. Langit Surabaya berubah merah oleh ledakan dan kobaran api. Rumah-rumah terbakar, gedung-gedung roboh, dan jalanan dipenuhi laskar rakyat yang berjuang tanpa henti. Ada yang terjatuh tertembus timah panas, ada yang terpental karena lontaran bom, mereka tak gentar.

Nama-nama seperti H. Harun, Abdul Wahab Hasbullah, Doel Arnowo, dan banyak pejuang tak dikenal lainnya menjadi saksi betapa Surabaya tak pernah menyerah. Para santri dari pesantren, buruh pabrik, hingga anak-anak muda kota bergandengan tangan menghadapi pasukan bersenjata lengkap.

Selama lebih dari tiga minggu, perlawanan rakyat Surabaya menjadi pertempuran terbesar dan paling berdarah dalam sejarah revolusi Indonesia. Ribuan nyawa gugur, namun semangat mereka menyalakan api perlawanan di seluruh negeri. Karena semangat perjuangan itu, dunia mulai memperhatikan bahwa  inilah suatu bangsa yang baru saja merdeka, namun sudah berani menantang kekuatan dunia.

Hari ini, setiap kali 10 November tiba, gema perjuangan itu seakan hidup kembali. Selain dikenang sebagai ‘Kota Pahlawan” Surabaya juga sebagai simbol keteguhan rakyat Indonesia mempertahankan kemerdekaan. Bung Tomo mungkin telah tiada, begitu pula para pejuang yang darahnya tumpah di tanah Surabaya. Namun semangat mereka tetap mengalir dalam setiap napas bangsa ini.

“Merdeka atau mati!”

Selamat Hari Pahlawan. Semangat perjuangan pahlawan dapat terus kita lanjutkan untuk negeri ini. (***)

Penulis: Nicky Saputra

Sumber: Arsip Nasional, berbagai sumber sejarah perjuangan Surabaya 1945, dan catatan sejarah Bung Tomo.

Tags:feature