Arus globalisasi yang semakin deras tidak hanya memengaruhi system ekonomi dan pola budaya masyarakat, tetapi juga memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kondisi psikologis generasi muda . Di era di mana bebasnya akses informasi dan cepatnya perubahan standar kehidupan, batas antara budaya, nilai, dan gaya hidup menjadi semakin kabur. Hal ini menciptakan dinamika yang baru karena disatu sisi, fenomena ini dapat memperkaya wawasan generasi muda kita akan informasi, namun disisi lain membawa tantangan serius terhadap kesehatan mental mereka termasuk di Indonesia (Hanfstingl et al., 2022).

Kemajuan teknologi dan juga media sosial media sosial menjadi salah satu wujud nyata dari globalisasi yang dapat memengaruhi cara berpikir, berprilaku, dan berinteraksi. Generasi mud akita saat ini dapat dengan mudah terhubung, membandingkan diri, dan berinteraksi dengan budaya dari negara dengan platform yang mereka miliki. Dengan keterbukaan informasi ini, memang memberikan banyak sekali kesempatan untuk mereka belajar, menemukan indentitas, dan memperluas networking mereka. Namun, pada saat yang sama, eksposur berlebihan terhadap standar hidup “ideal” yang dipromosikan di media sosial juga dapat menimbulkan tekanan psikologis seperti kecemasan dan rasa tidak puas terhadap diri sendiri (Przybylski et al., 2013).

Sebuah penelitian internasional yang berjudul “Globalisation and Mental Health: Is Globalisation Good or Bad for Mental Health? Testing for Quadratic Effects” (Amin, 2024, p. 130) menunjukkan bahwa globalisasi memiliki hubingan terhadap kesehatan mental. Studi tersebut menemukan pola berbentuk huruf “U”, yang di mana globalisasi pada tahap awal dapat memberikan manfaat seperti meningkaknya akses edukasi, informasi dan dukungan sosial, namun pada tingkat yang lebih tinggi justru malah meningkatkan risiko stres dan tekanan sosial (Patel & Saxena, 2024).

Fenomena seperti fear of missing out (FOMO), kebutuhan untuk selalu tampil paling “update”, serta kecenderungan untuk membandingkan diri dengan gaya atau standar hidup orang lain dan influencer menjadi pemicu utama meningkatnya masalah psikologis pada generasi muda. Selain itu, laporan dari World Health Organization (WHO) mencatat adanya peningkatan gangguan kecemasan dan depresi sebesar 25% selama pandemi terutama di negara yang mengalami percepatan digitalisasi (World Health Organization, 2022).

Meski demikian, globalisasi tidak selalu berefek negatif terhadap kondisi psikologis. Akses yang generasi muda dapatkan seperti sumber literatur, komunitas dukungan yang inklusif, dan kampanye kesadaran kesehatan mental menjadi bukti bahwa globalisasi bisa menjadi peluang penting dalam memperbaiki kualitas kesejahteraan psikologis generasi muda (Naslund et al., 2019). Oleh karena itum peran keluarga, Lembaga Pendidikan, dan juga lingkungan sosial sangat penting dalam membangun literasi digital, kemampuan berpikir kritis, dan ketahanan psikologis pada remaja. Selain itu, pendampingan emosional oleh orang tua dan juga Pendidikan identitas diri di sekolah sangatlah penting agar generasi muda mampu menyaring pengaruh globalisasi secara sehat. (***)

Penulis: Tri Prasetyo Wibowo

Tags:OPINI