Redaktif – Pemerintah terus mempercepat transisi energi nasional dengan menggenjot pemanfaatan bahan bakar nabati berbasis minyak sawit. Setelah penerapan biodiesel B40 pada 2024–2025, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan pencampuran biodiesel 50 persen atau B50 mulai diberlakukan pada 2026.

Langkah ini menjadi salah satu strategi besar pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada impor solar dan memperkuat ketahanan energi nasional di tengah fluktuasi harga minyak dunia.

Wakil Menteri ESDM, Yuliot, dalam keterangan resminya menyatakan bahwa Indonesia sudah memasuki tahap lanjutan dari program mandatori biodiesel.

“Pada tahun 2025 kita sudah mandatori biodiesel B40, dan untuk tahun depan kita merencanakan implementasi B50. Program ini menjadi upaya penting untuk mendorong swasembada energi dan menekan penggunaan BBM fosil,” ujarnya melalui laman resmi ESDM.

Kementerian ESDM juga memastikan bahwa uji laboratorium terhadap campuran B50 telah selesai pada Agustus 2025. Uji jalan (road test) untuk kendaraan darat, mesin industri, hingga kapal direncanakan dimulai pada Desember 2025.

Meski begitu, pemerintah membuka peluang bahwa implementasi B50 tidak dilakukan serentak, melainkan bertahap. Hal ini mempertimbangkan kesiapan mesin, distribusi, dan pasokan FAME (Fatty Acid Methyl Ester) dari industri sawit.

Berdasarkan data pemerintah, penerapan B50 akan membutuhkan sekitar 20,1 juta kiloliter biodiesel per tahun, naik signifikan dari kebutuhan 15,6 juta kiloliter pada program B40. Kebutuhan ini menuntut peningkatan pasokan minyak sawit mentah (CPO) dan kesiapan industri biodiesel nasional.

Kementerian ESDM menegaskan bahwa peningkatan kebutuhan domestik ini akan berdampak pada struktur konsumsi CPO nasional. Dalam rilis resminya, ESDM menyebutkan bahwa program biodiesel telah memberi manfaat ekonomi besar.

“Program biodiesel terbukti mampu menghemat devisa. Pada tahun 2024–2025, Indonesia mampu menghemat hingga USD 17,19 miliar,” tulis ESDM dalam laman resminya.

Pakar energi menilai rencana implementasi B50 akan menjadi momentum penting bagi percepatan energi terbarukan di Indonesia. Selain mengurangi impor solar, permintaan domestik terhadap minyak sawit diperkirakan meningkat, memberi peluang bagi industri sawit hingga tingkat perkebunan.

Namun, sejumlah tantangan masih harus diselesaikan. Di antaranya menyangkut stabilitas produksi FAME, kesiapan mesin diesel di sektor otomotif dan alat berat, serta potensi dampak terhadap harga minyak goreng di dalam negeri akibat meningkatnya alokasi CPO untuk energi.

Pemerintah menyatakan tengah menyiapkan skema pendukung, termasuk insentif industri dan penguatan suplai bahan baku, agar implementasi B50 berjalan mulus dan tidak menciptakan gejolak harga di sektor lain.

Program biodiesel menjadi bagian dari peta jalan transisi energi Indonesia menuju pengurangan emisi dan kemandirian energi. Dengan implementasi B50, Indonesia akan menjadi salah satu negara dengan tingkat campuran biodiesel tertinggi di dunia.

Ke depan, pemerintah menargetkan pengembangan green diesel atau D100 berbasis minyak sawit murni, yang kini dalam tahap pengembangan di beberapa kilang Pertamina. (***) 

 

Tags:biodeiselekonomi