Mengenang Saleh Al-Jafarawi, Wartawan Gaza yang Gugur dengan Kamera dalam Genggamannya
Di Gaza, pagi selalu dimulai dengan suara yang sama. Suara azan, suara puing yang jatuh, dan suara napas orang-orang yang berusaha bertahan hidup. Namun bagi jutaan orang yang mengikuti kabar dari kota itu, ada suara lain yang tidak kalah penting. Yaitu suara seorang anak muda bernama Saleh Al-Jafarawi, yang berdiri paling dekat dengan bahaya agar dunia bisa melihat apa yang dilihatnya.
Hari ia gugur, rompi bertuliskan Press masih melekat di tubuhnya. Kamera masih tergantung di lehernya. Dan Gaza—yang telah menjadi saksi perjalanan hidupnya—kembali berduka.
Kisah Saleh bukanlah kisah seorang wartawan yang hanya mati di tengah bentrokan. Ini adalah kisah tentang idealisme, iman, keberanian, dan cinta pada kebenaran yang tidak bisa ditukar dengan keselamatan diri sendiri. Kisah tentang seorang anak muda yang memilih menjadi suara—di sebuah tempat di mana suara mudah sekali dibungkam.
Anak Kecil yang Tumbuh dalam Kepungan Debu dan Doa
Saleh lahir bukan di kota yang permai, bukan di tempat yang memberi ruang untuk bermain tanpa takut. Ia lahir di Gaza—tanah yang mengajarinya arti kehilangan sebelum ia mengetahui arti kemenangan.
Semasa kecil, Saleh sering berdiri di balik jendela rumah, memperhatikan asap yang membumbung dari kejauhan. Ia tahu itu bukan awan. Ia tahu itu bukan kabut. Itu adalah tanda bahwa dunia yang ia tinggali tidak akan pernah sama seperti dalam cerita anak-anak.
Namun di sela reruntuhan, Saleh menemukan dua hal yang kelak menjadi fondasi hidupnya. Yaitu, kamera dan kitab suci. Ibunya mengenang, dengan suara yang kadang pecah:
“Dia selalu memotret semua yang ia lihat… bahkan sebelum ia tahu bagaimana memotret dengan benar. Dan setelah itu, dia duduk menghafal ayat-ayat Al-Qur’an. Kamera di tangan kanan, mushaf di tangan kiri.”
Ketika Gaza Menjadi Kelas Belajar Jurnalistik
Cara Saleh belajar jurnalisme tidak dari ruang kuliah ber-AC. Ia belajar dari suara ledakan, dari wajah-wajah yang mencari anggota keluarga yang hilang, dari tanya anak-anak yang tidak pernah mendapat jawaban.
Ia pernah berkata kepada kerabatnya:
“Aku tidak ingin dunia hanya menghitung korban. Aku ingin mereka melihat wajah korban itu.”
Setiap hari ia turun ke jalan. Setiap hari ia kembali dengan rekaman baru—rekaman yang tidak pernah ia anggap sebagai “konten,” melainkan bukti bahwa rakyatnya ada, hidup, dan berhak didengar.
Ia memotret bukan untuk sensasi. Ia mewawancarai bukan untuk eksklusivitas. Ia bercerita bukan untuk popularitas. Ia ingin dunia melihat Gaza sebagaimana ia melihatnya. Sebuah tempat penuh manusia yang mencoba bertahan dari wilayah konflik.
Tanggung Jawab yang Terlalu Besar untuk Usia Semuda Itu
Di balik segala video dan liputannya, ada satu kenyataan yang tidak banyak diketahui orang. Saleh adalah tulang punggung keluarganya. Ibunya sakit. Saudaranya hilang setelah salah satu rumah sakit diserang. Rumah mereka sendiri pernah rata dengan tanah. Setiap kali ia akan keluar meliput, ibunya selalu memegang kedua pipinya, mencoba menyampaikan larangan yang tidak pernah bisa ia ucapkan sepenuhnya.
“Jangan pergi. Tapi… pergilah, jika itu membuatmu bahagia.”
Kalimat yang patah. Kalimat seorang ibu yang tahu bahwa anaknya memilih jalan yang terlalu berat. Dan Kakaknya, dalam suatu wawancara, terdiam lama sebelum kalimat itu akhirnya keluar:
“Yang menyakitkan bukan saat kami melihat tubuhnya… yang menyakitkan adalah mengingat bagaimana kami memaksanya pulang, dan dia tetap berkata: ‘Nanti. Gaza belum selesai berbicara.’”
Hari Terakhir yang Sudah Lama Ditakutkan Keluarganya
12 Oktober 2025. Awalnya hari itu dianggap hari yang lebih tenang. Gencatan senjata baru saja disepakati. Tapi di Gaza, ketenangan selalu rapuh. Saleh mendapat kabar bahwa ada bentrokan kecil di wilayah Sabra. Meski rekan-rekannya meminta ia menunggu keadaan lebih jelas, ia menolak.
Ia berkata:
“Jika aku tidak merekamnya saat ini juga, dunia akan mendapat versi yang salah.”
Dan ia pun pergi.
Yang kembali bukan tubuh yang berjalan gagah seperti biasanya. Bukan suara yang lantang. Yang kembali adalah tubuhnya yang terbujur, diangkut di bak truk terbuka, rompi Press masih melekat, berlumur debu dan darah.
Mengetahui itu. Ibunya roboh. Kakaknya menjerit memanggil nama yang tak akan lagi menjawab. Tetapi Gaza. Gaza membisu. Karena Gaza sudah terlalu sering kehilangan orang-orang seperti Saleh.
Jurnalisme yang Tidak Sekadar Profesi
Kematian Saleh membuat dunia tersadar bahwa rompi Press bukan lagi jaminan keselamatan. Bahwa kamera kadang lebih mengancam daripada senjata. Dan bahwa wartawan—sering kali—berdiri di garis paling berbahaya atas nama kebenaran. Ia tidak mati karena salah tempat.
Liputan-liputannya tidak hanya menunjukkan reruntuhan, tetapi juga memperlihatkan anak-anak yang masih tertawa, para ibu yang masih memasak, para ayah yang masih memeluk anak-anak mereka sebelum tidur—bahkan ketika suara roket menggetarkan langit.
Mengapa Dunia Butuh Orang Seperti Saleh?
Karena orang-orang seperti Saleh mengingatkan kita bahwa informasi adalah cahaya pertama dalam kegelapan. Tanpa jurnalis, perang hanya menyisakan propaganda. Wartawan adalah penjaga sejarah saat sejarah sedang ditulis dengan darah. Keberanian bukan soal tidak takut mati, tetapi tetap berjalan meski tahu itu mungkin akhir. Ada manusia di balik setiap headline, dan manusia itu, seperti Saleh, punya keluarga, punya impian, punya tawa yang kini tidak akan terdengar lagi.
Warisan yang Ia Tinggalkan
Saleh meninggalkan ribuan video, ratusan liputan, dan jutaan orang yang kini mengenang namanya. Tetapi warisan terbesarnya bukan itu. Warisan terbesarnya adalah kesadaran bahwa jurnalisme bukan pekerjaan biasa. Wartawan bukan hanya saksi mata. Mereka adalah penjaga kebenaran, penerjemah penderitaan, dan kadang—seperti Saleh—pahlawan yang tidak pernah meminta disebut pahlawan.
Suara yang Tetap Hidup
Pada akhirnya, Saleh mungkin telah gugur. Tetapi suaranya—suara yang bergetar ketika merekam reruntuhan, suara yang parau ketika berbicara sambil berlari menghindari tembakan, suara yang lembut ketika mewawancarai anak-anak—tidak akan pernah padam.
Karena keberanian seperti itu tidak mati. Kebenaran tidak mati. Dan perjuangan wartawan, di mana pun mereka berada, tidak akan pernah mati selama masih ada kisah seperti kisah Saleh yang membuat kita berhenti sejenak dan bertanya.
“Siapa yang akan memberi suara pada mereka yang tidak bisa bersuara, jika bukan wartawan?”
Penulis : Nicky Saputra
Tentang tulisan ini :
Tulisan ini mengenang perjuangan Saleh Aljafarawi sebagai seorang jurnalis yang tewas karena semangat juangnya menyebarkan informasi kepada dunia bahwa tanah mereka sedang dijajah dan dirusak. Setelah adanya isu perencanaan damai dan gencatan senjata oleh pemimpin dunia untuk Gaza, saya seringkali mengikuti konten – konten Saleh Aljafarawi di media sosial. Saya tertarik perjuangan dan perjalanannya melakukan peliputan di tengah ketergantungan warga Gaza terhadap bantuan internasional, bertahan hidup dengan menanti makanan, desing peluru yang sewaktu – waktu menembus tubuh mereka, hingga kondisi – kondisi keluarga dan sejumlah bangunan kota yang hancur karena perang. Tulisan ini juga dilengkapi dengan informasi dari sejumlah media Timur Tengah yang terus – menerus melakukan penyiaran terhadap kondisi Gaza dan apa yang menimpa Saleh. Di antaranya media Al Jazeera, media Turkey, akun sosial media Salah Aljafarawi, dan sumber informasi lainnya.


Saleh Aljafarawi semasa hidupnya saat difoto oleh jurnalis Al Jazeera di salah satu wilayah Gaza. 


