Sebuah langkah kecil. Mereka memandang ke arah yang sama. Sambil tersenyum dan mengingat bahwa hari ini adalah Hari Anak Sedunia. Ya, 20 November—sebuah tanggal yang mungkin tidak diingat semua anak, bahkan sebagian orang dewasa. Tapi hari ini adalah penanda, pengingat lembut bahwa dunia perlu menjaga generasi yang sedang tumbuh. Pertanyaannya, sudahkah kita memberikan yang terbaik bagi hak-hak anak?

Di banyak ruang kehidupan, ada anak-anak yang tumbuh dengan penuh kesempatan, mendapat pendidikan yang layak, dan merasakan hangatnya perlindungan. Namun, di sudut dunia lain, ada pula anak-anak yang tak pernah merasakan tenang. Di negara konflik seperti Yaman dan Gaza, anak-anak hidup dalam bayang-bayang ketakutan yang tidak pernah mereka minta. Suara ledakan menggantikan suara sekolah, dan langkah kecil mereka harus terbiasa berjalan di atas puing-puing. Bagaimana dunia memandang mereka? Dan lebih penting lagi, bagaimana dunia harus menolong mereka?

Pada momen Hari Anak Sedunia inilah pertanyaan itu kembali menggema—apakah dunia sudah adil bagi anak-anak yang tumbuh di tengah konflik? Apakah tangan-tangan kita sudah cukup untuk mengangkat mereka keluar dari ketakutan?

Hari Anak Sedunia sendiri tidak hadir tanpa kisah. Sejak ditetapkan PBB pada 1954, dunia sepakat memberikan perhatian khusus kepada masa kanak-kanak. Tanggal 20 November diambil karena dua peristiwa besar yang mengubah arah sejarah:

1959: lahirnya Deklarasi Hak-Hak Anak, dokumen yang untuk pertama kalinya menegaskan bahwa anak memiliki hak asasi yang wajib dilindungi.

1989: disahkannya Konvensi Hak Anak, aturan internasional paling komprehensif yang pernah dibuat untuk memastikan setiap anak hidup, tumbuh, belajar, dan merasa aman.

Dari momen-momen itulah, banyak kisah menyentuh lahir. Salah satunya adalah perjuangan para relawan di Afrika Timur yang setiap tahun menjadikan Hari Anak Sedunia sebagai ajakan global untuk menyuarakan hak anak-anak terdampak kelaparan dan perang. Ada pula kampanye sederhana yang dilakukan anak-anak sekolah di berbagai negara, seperti mengirimkan surat harapan dan gambar kepada teman-teman sebaya yang hidup di pengungsian—sebuah kepedulian kecil yang membuktikan bahwa empati tidak pernah memiliki batas usia.

Hari Anak Sedunia hadir sebagai jeda di tengah kesibukan, sebuah sapaan lembut yang mengingatkan kita bahwa dunia ini seharusnya menjadi tempat yang aman bagi anak-anak.

Bagi para orang tua, hari ini juga bisa menjadi momen refleksi. Setiap pelukan, setiap perhatian, setiap waktu yang diberikan kepada anak adalah investasi terbesar yang tidak bisa digantikan. Anak-anak tidak menuntut dunia yang sempurna—mereka hanya membutuhkan dunia yang mau berusaha untuk membuatnya lebih baik bagi mereka.

Untuk hari ini, tak ada salahnya kita berhenti sejenak dan bertanya: apa yang sudah kita lakukan untuk langkah kecil yang akan menentukan masa depan dunia?

Melalui tulisan ini, Redaktif.id mengucapkan selamat Hari Anak Sedunia. Tetaplah menjadi pribadi yang tangguh dan selalu memperhatikan hak – hak anak hingga mereka tumbuh dengan rasa aman. (***)

 

Penulis : Nicky Saputra

Tags:OPINI