Dari Sunyi Buku ke Gerakan yang Merawat Ingatan
Potongan pertama dari mozaik itu bermula di sebuah kamar indekos mahasiswa. Musik mengalun, beberapa buku berserakan, dan seorang anak muda bernama Rendy Aditya Paraja—Ipien bagi kawan-kawannya—menyimpan diam yang panjang di tengah riuh dunia kampus. Sebelum literasi menggamit langkahnya, seni lebih dulu merangkulnya. Ia aktif di panggung mahasiswa Universitas Borneo Tarakan, memainkan peran yang kelak menjadi pengantar menuju dunia yang lebih senyap: dunia membaca.
Salah satu ingatan paling awal tentang buku datang dari halaman yang tak pernah tuntas. Surat Kecil untuk Tuhan, bacaan yang hanya selesai setengah, tapi cukup meninggalkan jejak. “Saat itu membaca belum menjadi kebiasaan,” begitu penggal pengakuannya yang jujur. Sebuah mozaik kecil yang mungkin tampak remeh, tapi kelak menjadi fondasi perjalanan panjang.
Tahun 2015 menghadirkan kepingan baru—lebih terang, lebih dalam. Dua buku singgah dalam hidupnya: Melawan Melalui Lelucon karya Gus Dur dan Politik Tingkat Tinggi Kampus karya Mahbub Djunaidi. Pada momen inilah ia seperti menemukan jalan pulang, “Tema politik, budaya, sosial di Indonesia disajikan dengan menarik lengkap dengan humornya.” Ia jatuh cinta pada cara bercerita, lalu memberanikan diri menulis.
Kepingan itu terus bergerak. Tahun 2017, sebuah tulisan publik pertamanya dimuat di surat kabar harian di Tarakan. Tak lama setelah itu, nama Thobroni—dosen sekaligus penyair—datang sebagai titik sambungan yang mengubah arah. Undangannya untuk mengikuti Rainy Day’s Festival di Banjarbaru membuka ruang perjumpaan baru, termasuk dengan Bang Hajri, pegiat sastra dari Banjarmasin yang rumahnya penuh ribuan buku.
“Tinggal di rumahnya membuat saya berjumpa dengan ribuan buku.”
Dua buku yang ditemukannya kala itu—Dunia Sukab dan Senja dan Cinta yang Berdarah—menyentak imajinasi, memantapkan niatnya menulis cerpen. Mozaik itu mulai tampak wujudnya.
Setelah kembali dari Banjarbaru, gagasan tentang Taman Bacaan Masyarakat mengapung kuat. Bang Hajri menyambutnya hangat, bahkan menghadiahkan beberapa buku sebagai modal awal. Dari hadapan itu, lahirlah tekad yang kemudian tumbuh menjadi gerakan yang lebih besar.
Mozaik-mozaik berikutnya terbentang: pelatihan Fasilitator Literasi Kemdikbud, Majelis Sastra Asia Tenggara, pertemuan dengan para penulis dari berbagai daerah. Pada 2018, ia masuk dalam komunitas Baloy Aksara dan Forum TBM Kalimantan Utara. Dari titik ini, dunia literasi bukan lagi aktivitas personal—melainkan gerakan bersama.
“Momen yang membuat literasi menjadi penting — saya mendapat pengetahuan penting ketika membaca buku yang bagus dan berkomunitas menjadi penting dalam gerakan literasi.”
Dari tahun ke tahun, langkah Ipien menaut pada semakin banyak orang. Tahun 2019 ia ikut merintis TBM di Tarakan dan Nunukan, lalu mendorong kabupaten lain. Tahun 2021 Forum TBM hadir di setiap kabupaten/kota Kalimantan Utara. Tahun 2024, sudah ada 46 TBM yang terhimpun dalam Forum—sebuah angka yang dulu tak pernah dibayangkan.
Di antara mozaik itu, ada ruang-ruang kecil yang tak kalah bermakna: kelas peningkatan kapasitas, pelatihan menulis cerpen, program read aloud, hingga diskusi sastra yang kadang berlangsung sampai larut. TBM di beberapa tempat bahkan melahirkan penulis resensi, pembaca dongeng, pemain pantomim, penyair muda—cabang-cabang kecil dari pohon literasi yang tumbuh tanpa gaduh.
“Gerakan literasi bukan hanya soal baca buku dan menulis, tapi menciptakan ruang bagi anggota dan pegiat untuk tumbuh melalui minat dan bakatnya.”
Mozaik lain lahir dari pengalaman pribadi yang lebih sunyi. Ketika Ipien bercerita tentang neneknya, seorang guru ngaji yang berjalan dari pintu ke pintu, wajahnya tampak berubah: penuh hangat, penuh hormat. Baginya, perempuan itu adalah bentuk paling jujur dari gerakan literasi: menghadirkan ilmu, bukan menunggu orang datang mencarinya.
Ia ingin TBM dan perpustakaan menjadi magnet yang sama, tempat belajar tanpa batas, tanpa syarat. Dalam setiap cerita, nama Thobroni terus muncul. Tak hanya sebagai senior, tetapi ruang diskusi yang jernih. “Masukan dan kritik adalah bukti beliau terus memberikan dukungan,” katanya.
Dalam mozaik besar ini, perubahan terlihat jelas. Jumlah TBM bertambah, bahan bacaan bermutu kini lebih mudah diakses berkat Perpusnas dan Dinas Perpustakaan Daerah, publikasi kegiatan TBM menjadi lebih aktif di media sosial. Banyak anak muda terlibat. Banyak gerakan lahir dari inisiatif kecil.
“Gerakan literasi cukup baik. Tantangannya adalah gerakan ini tidak hanya riuh saja tapi bisa menghasilkan dampak. Ini bukan soal minat baca rendah, tapi soal akses buku yang tepat dan sumber daya manusia yang mampu menggerakkannya.”
Mozaik-mozaik harapan tersusun rapi di kepalanya: setiap desa punya TBM; komunitas literasi ramah lintas profesi; toko buku lokal tumbuh di setiap kabupaten; pemerintah melibatkan pegiat literasi dalam kebijakan; regulasi daerah menguatkan ekosistem buku; para penulis lokal mendapat ruang penerbitan.
Dan untuk anak muda yang ingin ikut bergerak, ia merangkum nasihatnya singkat namun kuat.
“Punya niat belajar. Fokus. Komitmen.”
Pada akhirnya, mozaik hidup Ipien merupakan bukti bahwa literasi bukan tentang berapa banyak buku yang dibaca, melainkan berapa banyak pintu yang dibukakan. Dari kamar kos di Tarakan hingga ratusan rak buku di TBM se-Kaltara, ia membuktikan bahwa gerakan besar sering lahir dari langkah kecil seseorang yang jatuh cinta pada kata-kata. Sebuah mozaik yang masih terus disusun. Dan belum selesai. (***)
Editor : Nicky Saputra


Rendy Aditya Paraja, Penggiat Literasi Kaltara. 


