Menyambut Festival Puisi Esai 2025

Oleh Muhammad Thobroni

Suatu masa yang tak jauh dari hari ini. Jendela dunia tak lagi dibuka hanya melalui puisi liris atau roman panjang. Kita menemukan bentuk yang lahir dari kegelisahan zaman. Namanya Puisi esai. Muncul sebagai ikhtiar kecil. Ingin menerobos batas antara sastra dan gagasan. Estetika dan argumentasi. Keindahan dan kenyataan. Meski sering pahit dan getir.

Bentuk ini bukan sekadar hibrida. Puisi esai adalah kesaksian. Bentuk yang berani menyanyikan sunyi. Mengusung catatan kaki sejarah. Mengangkat suara pinggiran. Memasukkan analisis yang sering kali absen dalam puisi konvensional.

Dunia kerap menuntut kedalaman. Juga kejelasan. Puisi esai dapat menjadi jembatan. Menghubungkan dunia perenungan dengan dunia penjelasan. Lantas menemukan tempatnya di banyak ruang.

Puisi esai memperlihatkan hal yang dilupakan. Yakni dunia sastra terseret ke dalam kompetisi estetika. Bahwa puisi harus memencilkan diri dari realitas.

Ia dapat mengembalikan sastra kepada sifat aslinya. Kembali ke khittah estetikanya yang sejati. Yakni sastra menjadi saksi zaman. Strukturnya memungkinkan liris dan analitis. Puisi esai menawarkan kanvas baru bagi narasi minor. Bagi mereka yang jarang mendapat tempat.

Kritikus menyebut puisi esai sebagai the documentary poem of the centuries. Sebab ia membawa semangat dokumenter. Menyimpan data lintas zaman. Menuliskan jejak sosial lintas zaman. Menyuguhkan fakta lintas zaman. Tanpa kehilangan kepekaan estetikanya.

Puisi esai memberi sumbangan pada sastra dunia secara nyata. Pertama, memperluas konsep puisi sebagai ruang dialog pengalaman personal dan data empirik. Kedua, menggeser batas karya imajinatif dan karya berbasis riset. Ketiga, membuka peluang lahirnya genre-genre baru penulisan naratif hibrida.

Era post-truth menuntut banyak hal. Opini dan fakta sering kabur. Puisi esai bekerja sebagai jangkar nurani. Sebab ia menawarkan keindahan sekaligus kejujuran.

Puisi esai serius mengeksplorasi tema. Juga eksperimen bahasa. Ia menandai pergeseran dalam perlakuan tuturan. Bahasa harus bersifat estetis dan informatif bersamaan.

Puisi esai menghadirkan fenomena menarik kebahasaan. Pertama, perpaduan register saat bahasa ilmiah, bahasa sehari-hari, dan bahasa puitis hidup bersama. Tidak perlu saling mengancam. Kedua, teknik intertekstualitas terbuka saat catatan kaki, kutipan, dan rujukan ilmiah mampu memperkuat ritme puisi. Juga memperkaya lapisan makna. Ketiga, pergeseran fungsi semantik saat istilah akademik atau politis dijadikan metafora baru. Keempat, ruang hibriditas bahasa saat perjumpaan bahasa daerah,  bahasa Indonesia dan bahasa dunia dalam satu tubuh teks.

Linguistik kontemporer berpotensi menemukan ladang subur. Khususnya pragmatik dan wacana. Puisi esai memperlihatkan bahasa alat komunikasi yang efektif. Juga arena politik, pengetahuan, dan estetika yang aduhai.

Dalam bahasa lain, puisi dapat menjelaskan sambil mempengaruhi. Bahkan, mendokumentasikan sambil memprovokasi!

Puisi esai dilahirciptakan dengan membawa dunia di dalamnya. Kadang dunia itu gelap. Kadang penuh harapan. Selalu ada jejak tragedi atau kemenangan manusia.

Ia bisa menjadi monograf mini. Merekam fenomena sosial. Seperti kemiskinan, marginalisasi, migrasi, ketidakadilan, kekerasan negara, perubahan iklim dan sebagainya. Ia melakukannya berbeda dengan laporan penelitian atau berita media.

Puisi esai menjadikan data sebagai kisah manusia. Bukan hanya angka. Pembaca diundang masuk ke ruang yang tidak didinginkan statistik. Ruang bersemayamnya empati.

Sumbangan puisi esai dapat sangat dahsyat secara sosiologis. Pertama, menyediakan dokumentasi sosial berbentuk naratif-estetis. Kedua, mendorong lahirnya “mode empatik” dalam pembacaan fenomena sosial. Ketiga, menawarkan narasi tandingan terhadap dominasi wacana media. Keempat, mengembalikan fokus pada subjek manusia dan sistem sekaligus. Ia menjadi ilmu sosial yang menyentuh sekaligus menjelaskan.

Dunia tak pernah berhenti dilingkari konflik. Perang antarnegara. Konflik identitas di ruang-ruang kecil. Atau bentuk lain ketegangan dunia. Puisi esai menyuguhkan sesuatu yang sederhana dan radikal. Ia hadir merekam luka dan mengembalikan kemanusiaan kepada angka-angka korban.

Laporan keamanan umumnya berbahasa teknokratik. Puisi esai adalah ruang bagi suara yang tak masuk dalam tabel. Suara perempuan yang kehilangan anak. Suara pelarian dan pengungsi yang tidak tercatat. Suara tentara yang menyimpan trauma.

Secara nyata puisi esai mampu memberi sumbangan kajian perdamaian. Pertama, mengungkap dimensi emosional konflik yang sering hilang dari analisis formal. Kedua, menyediakan narasi kemanusiaan yang memperhalus diskursus keamanan. Ketiga, menciptakan ingatan kolektif mencegah kita melupakan tragedi. Keempat, mengubah konflik menjadi wacana etis sekaligus politik.

Perdamaian dibangun oleh diplomasi. Juga oleh imajinasi. Puisi esai menyentuh keduanya.

Puisi esai dapat dijadikan arsip budaya bergerak. Dalam tubuhnya dapat ditemukan jejak tradisi. Perubahan zaman. Negosiasi identitas.

Budaya tidak statis. Berkembang melalui narasi. Panjang atau pendek. Kritis atau reflektif.

Sumbangan puisi esai terhadap kajian budaya terlihat dalam beberapa hal. Pertama, mendokumentasikan budaya terancam punah. Kedua, merekam perubahan sosial akibat situasi global. Ketiga, menyediakan ruang resistensi terhadap hegemoni budaya. Keempat, memperlihatkan cara-cara baru memaknai identitas. Sebagai bangsa, suku, komunitas, atau individu.

Puisi esai tetap menjaga kedalaman. Karenanya ia dapat bantu membaca budaya seperti membaca palimpsest. Lapisan-lapisan makna yang saling menutupi. Dan tidak pernah benar-benar hilang.

Puisi esai bergerak mulai dari keresahan. Jiwa yang resah. Karenanya ia dimulai dari pertanyaan. Ia menekuni thariqah kegelisahan. Sebuah proses filsafat. Filsafat menyusun argumen. Puisi esai menyusun pengalaman yang memancing pertanyaan.

Sumbangan puisi esai untuk filsafat sangat dahsyat. Pertama, membuka ruang filsafat pengalaman sekaligus filsafat konsep. Kedua, paksa membaca kenyataan dengan kesadaran etis. Ketiga, ajak mempertanyakan “kebenaran mapan”. Keempat, membawa kembali kepekaan eksistensial yang lama hilang dari akademia.

Jelas sekali, puisi esai menyinggung absurditas hidup modern. Kekosongan metropolitan. Kegelisahan spiritual. Hadir sebagai filsafat yang tidak terpenjara oleh terminologi ketat. Berjalan layaknya orang menelusuri gang-gang kota sambil bertanya makna.

Dunia bergerak serba cepat. Spiritualitas kehilangan tempat. Puisi esai hadir mengembalikannya. Dalam bentuk yang tidak dogmatis.

Spiritualitas hadir tanpa menggurui. Menyentuh dengan sunyi. Menunjukkan pencarian makna. Tanpa mengklaim kebenaran mutlak. Religiusitas adalah perjalanan. Bukan institusi yang mandeg.

Puisi esai hadir sebagai ruang perenungan. Hidup, mati, kesementaraan, dan keadilan ilahi. Juga hubungan manusia dengan sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri.

Sangat nyata sumbangannya untuk spiritualitas. Yakni memperkaya diskursus spiritualitas dengan bahasa lembut. Reflektif. Manusiawi.

Puisi esai menunjukkan dunia ini terlalu luas. Untuk sebuah gaya tafsir. Terlalu kompleks untuk dipahami tanpa kepekaan.

Lebih dari usulan baru dalam kesusastraan. Genre yang mengkolaborasi dan mensinergi data dengan metafora. Mengkonvergensi keindahan dengan argumentasi. Dua-duanya harus berjalan bersama.

Puisi esai bukan lagi pendatang baru. Ia telah tinggal di rumah besar sastra dunia. Bersama bentuk-bentuk lain. Yang pernah mengguncang batas-batas.

Warna dunia kini semakin kaya. Genre ini menjadikan kata-kata semakin indah. Juga berguna. Punya daya pikat yang menyentuh. Punya daya pesona yang mencerahkan. Punya daya gebrak yang bertenaga. (***)

Tarakan, November 2025