Khabbab bin Al-Aratt radhiyallahu ‘anhu mungkin bukan nama yang populer di tengah deretan sahabat Nabi Muhammad SAW. Ia bukan bangsawan, bukan pula saudagar. Ia seorang budak pandai besi di Makkah yang hidup di lapisan bawah masyarakat. Namun dari sosok yang nyaris tak diperhitungkan itu, lahir keteguhan iman yang kelak dikenang sepanjang sejarah Islam. Seperti uang dikutip redaktif.id dari berbagi sumber. Seperti kisahnya berikut ini ;

Setelah memeluk Islam pada fase awal dakwah, Khabbab harus membayar mahal keyakinannya. Ia disiksa majikannya, Ummu Anmar, dengan cara ditelentangkan di atas bara, dipakaikan baju besi lalu dijemur di bawah terik matahari, hingga kulit dan punggungnya melepuh. Riwayat menyebut, lemak punggungnya sampai meleleh dan memadamkan bara.

Dalam kondisi itu, Khabbab tetap menolak untuk kembali kepada kekafiran. Ia pernah mendatangi Rasulullah SAW di dekat Ka’bah, mengadu dan meminta didoakan. Nabi menjawab dengan mengingatkan kisah orang-orang beriman terdahulu yang digergaji dan disiksa, namun tidak meninggalkan agama mereka.

Nama Khabbab kembali muncul dalam peristiwa penting: masuk Islamnya Umar bin Khattab RA. Di sebuah rumah sederhana di Makkah, Khabbab menjadi pengajar Al-Qur’an bagi Fathimah binti Khattab dan suaminya, Sa’id bin Zaid.

Dari rumah itulah Umar yang datang dengan kemarahan, justru luluh oleh ayat-ayat Al-Qur’an dan akhirnya menyatakan keislamannya. Peran Khabbab nyaris tak tampak di permukaan, tetapi menjadi salah satu mata rantai penting dalam perjalanan dakwah.

Ibrah dari kisah Khabbab bin Al-Aratt relevan bagi Muslim masa kini. Ia menunjukkan bahwa kemuliaan tidak ditentukan oleh status sosial, melainkan oleh sikap menjaga iman dalam situasi tersulit sekalipun. Di tengah godaan untuk mengorbankan prinsip demi kenyamanan, karier, atau kepentingan sesaat, sosok Khabbab mengingatkan bahwa harga sebuah keyakinan tidak selayaknya diturunkan hanya karena beratnya ujian. Ibarat sebagai pesan sunyi dari masa lalu. Kisah Khabbab mengajarkan kita bahwa, bertahanlah di atas kebenaran, sekalipun posisi dan keadaan tidak memihak. (*)

Tags:cerita jumatkabar baik hari ini