Banjir dan longsor dahsyat melanda Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat sejak 25 November 2025, dipicu hujan ekstrem hingga 500 mm/hari dari siklon tropis Siklon95B. BNPB mencatat 174 orang tewas, 79 hilang, 12 luka-luka, serta 12.546 keluarga atau 45.000 jiwa mengungsi di 734 titik pengungsian hingga 29 November.

Ratusan rumah rusak berat, 1.200 ha sawah tenggelam, jembatan putus seperti di Aceh Utara, serta listrik dan komunikasi lumpuh di Sibolga dan Tapanuli. Kerugian ekonomi capai Rp 2,5 triliun, dengan evakuasi terhambat longsor dan sungai meluap.

Sumatera Utara dominasi korban dengan 116 tewas dan 42 hilang: Tapanuli Tengah (51 jiwa), Tapanuli Selatan (32), Sibolga (17), Humbang Hasundutan (9). Binjai terdampak 19.349 jiwa, Tebing Tinggi 13.337, medan sulit hambat helikopter.

Aceh laporkan 35 meninggal, 25 hilang, 8 luka di Bener Meriah, Aceh Tenggara, Aceh Tengah; 20 kabupaten/kota seperti Lhokseumawe (96 pengungsian), Banda Aceh jalur putus.

Sumatera Barat 23 tewas, 12 hilang, 4 luka di Padang Panjang, Tanah Datar, Agam, Padang, Pasaman Barat; 3.900 KK mengungsi di Pesisir Selatan, Solok, Pariaman banjir pertama setelah 40 tahun.

Penyebab dan Faktor Pemicu

Hujan lebat dari siklon tropis gabung degradasi lingkungan: deforestasi tambang emas Martabe (Walhi tuding picu banjir Sumut), alih fungsi lahan, debit sungai naik 300%. Ahli ITB sebut Siklon Senyar + kerusakan DAS utama, bukan hanya cuaca ekstrem.

Respons Pemerintah dan Relawan

BNPB-TNI-Polri kerahkan 5.000 personel, helikopter evakuasi 200 jiwa/hari, logistik Rp 50 miliar ke Aceh saja. Kementerian Kehutanan rencana pemulihan DAS, Basarnas cari 79 hilang hingga 30 November. (***)

Oleh : Namira Ardhya Az-zahrah, Mahasiswi SI Psikologi Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur

Sumber :

 

Tags:banjir bandangnasonal