Tentu ini menarik untuk diketahui. Pada sebagian orang, menjalankan puasa ramadan seringkali tidak disertai dengan ibadah lengkap di dalamnya. Orang pada umumnya hanya mengerjakan puasa di siang hari. Ternyata hal itu telah pernah dijawab oleh Nabi Muhammad saw.

Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Fajar Rachmadani mengisahkan riwayat ketika Nabi tiba-tiba mengucapkan “amin” tiga kali. Para sahabat bertanya, dan Rasulullah menjelaskan bahwa Malaikat Jibril datang membawa doa keburukan bagi tiga golongan manusia, salah satunya mereka yang bertemu Ramadan namun tidak meraih ampunan Allah.

“Celakalah seseorang yang memasuki Ramadan, lalu Ramadan berlalu sementara dosanya tidak diampuni,” kutipnya.

Menurut Fajar, kesempatan berjumpa Ramadan adalah karunia yang tidak semua orang dapatkan. Banyak yang tahun lalu masih beribadah bersama, namun kini telah tiada atau terhalang sakit. Karena itu, menyia-nyiakan bulan suci dengan aktivitas tanpa nilai ibadah adalah kerugian besar.

Ia kemudian mengutip hadis populer: banyak orang berpuasa, tetapi tak memperoleh apa-apa selain lapar dan dahaga. Fajar menjelaskan, puasa menjadi hampa ketika hanya berhenti pada menahan makan dan minum, tanpa perubahan sikap.

“Puasa bukan formalitas, melainkan pembentukan moral, spiritual, dan sosial,” ujarnya.

Ia menambahkan, setiap ibadah dalam Islam memiliki dampak nyata. Salat, misalnya, disebut mampu mencegah perbuatan keji dan mungkar. Jika dampaknya belum terasa, bisa jadi ibadah itu masih sebatas ritual, belum menyentuh esensi.

Menafsirkan Surah Al-Baqarah ayat 183, Fajar menyoroti panggilan “yaa ayyuhalladzina aamanuu.” Menurutnya, Al-Qur’an tidak menyapa orang yang sudah sempurna imannya, melainkan siapa saja yang memiliki secuil iman. Artinya, puasa adalah sarana peningkatan kualitas diri menuju derajat takwa.

“Puasa adalah proses peningkatan, dari beriman menuju bertakwa,” katanya.

Fajar memaparkan sejumlah indikator agar puasa tidak berakhir sia-sia. Pertama, kemampuan menjaga lisan dan perilaku. Ia mengingatkan bahwa Allah tidak membutuhkan lapar dan dahaga seseorang jika ia masih gemar berdusta dan berbuat buruk. Termasuk di dalamnya, ujar dia, komentar negatif dan perundungan di media sosial.

Ia mencontohkan akhlak Nabi yang mampu meluluhkan hati seorang pendeta Yahudi, Zaid bin Sa’nah, hingga akhirnya memeluk Islam setelah menyaksikan kesabaran Rasulullah saat diperlakukan kasar. Kisah itu, menurut Fajar, menunjukkan bahwa pengendalian emosi bisa menjadi jalan hidayah.

Kedua, tumbuhnya keikhlasan. Puasa, katanya, adalah ibadah paling personal karena tak kasat mata. Berbeda dengan salat berjamaah atau sedekah yang terlihat publik, puasa melatih seseorang beramal tanpa mengejar validasi.

Fajar menegaskan bahwa keberhasilan Ramadan tercermin pada perubahan setelahnya: integritas spiritual yang lebih kokoh, moral yang membaik, ibadah yang meningkat, serta kepedulian sosial yang tumbuh.

Ia juga mengingatkan agar tidak menunda ibadah dengan alasan belum pantas. Justru melalui ibadah, seseorang memperbaiki diri. Mengutip sabda Nabi, ia menyebut Allah menerima tobat hamba-Nya selama belum tiba sakaratul maut.

“Selama napas masih ada dan Ramadan kembali kita temui, pintu perubahan itu selalu terbuka,” tutupnya. (*)

Sumber : Muhammadiyah

Tags:ramadan2026