Di tengah padang pasir yang membara, seorang budak berkulit gelap menatap langit. Di dadanya menindih batu besar, di sekelilingnya teriakan majikan yang marah. Tapi dari bibirnya yang pecah, suara itu tetap keluar — pelan, namun pasti:
“Ahad… Ahad…”
“Allah satu… Allah satu…”
Dialah Bilal bin Rabah, lelaki Habasyah yang hidup dalam rantai, tapi memeluk keyakinan yang membebaskan. Dari suaranya yang dulu menggetarkan gurun tandus Mekkah, kini gema panggilannya terdengar lima kali sehari di seluruh dunia.
Bilal lahir di Mekkah sekitar tahun 578 M, dari seorang ibu bernama Hamamah, budak asal Habasyah (Ethiopia), dan ayahnya bernama Rabah, juga seorang hamba. Sejak kecil, ia hidup di bawah kendali Umayyah bin Khalaf, bangsawan Quraisy yang terkenal keras.
Hidup Bilal tak banyak berubah — pagi untuk bekerja, malam untuk beristirahat di tanah kering. Namun segalanya bergeser ketika kabar tentang seorang lelaki bernama Muhammad bin Abdullah mulai berembus di Mekkah. Lelaki itu membawa pesan sederhana tapi mengguncang: bahwa Tuhan hanya satu, dan semua manusia setara di hadapan-Nya.
Pesan itulah yang menembus hati Bilal. Ia memeluk Islam secara diam-diam, seperti cahaya kecil yang menyala dalam kegelapan.
“Ahad… Ahad…”: Iman yang Tak Bisa Dipaksa
Berita keislamannya membuat murka sang majikan. Bilal diseret ke tengah padang pasir, dijemur di bawah matahari, lalu ditindih batu besar di dadanya. Orang-orang menganggapnya akan menyerah. Tapi tidak. Ia hanya berucap satu kalimat yang kemudian dikenang sepanjang zaman:
“Ahad! Ahad!”
Dalam jurnal Urwatul Wutsqo (Asti & Muchtar, 2023), momen itu disebut sebagai simbol keteguhan iman di tengah kezaliman. Tidak ada kekuatan duniawi yang sanggup menindih keyakinan yang telah tertanam dalam hatinya.
Keteguhan Bilal menarik perhatian Abu Bakar Ash-Shiddiq, sahabat Nabi yang lembut tapi berani. Ia menebus Bilal dengan harga tinggi dari Umayyah bin Khalaf. “Engkau kini merdeka, wahai Bilal,” katanya.
Sejak saat itu, Bilal bukan lagi budak siapa pun — kecuali hamba Allah yang bebas. Ia menjadi bagian dari lingkaran sahabat Nabi, ikut dalam perjalanan dakwah dan perjuangan Islam sejak Mekkah hingga Madinah.
Setelah hijrah ke Madinah, umat Islam memerlukan cara untuk memanggil jamaah salat. Dalam riwayat disebutkan, seorang sahabat bermimpi tentang seruan azan. Nabi pun menanyakan: siapa yang paling pantas mengumandangkannya?
Suara Bilal dikenal lantang, jernih, dan menggetarkan. Dari menara masjid pertama di Madinah, ia melantunkan:
“Allahu Akbar… Allahu Akbar…”
Sejarah mencatat itulah azan pertama dalam Islam. Bukan dari bangsawan, bukan dari penguasa — tapi dari seorang mantan budak yang kini suaranya memanggil umat menuju kesucian.
Tahun 630 M, Mekkah ditaklukkan. Nabi Muhammad SAW memerintahkan Bilal naik ke puncak Ka’bah dan menyerukan azan di atas tempat yang dulu penuh berhala. Suara Bilal menggema di antara dinding Ka’bah, menandai kemenangan iman atas kesombongan.
Beberapa tahun kemudian, ketika Rasulullah wafat (632 M), Bilal tak sanggup lagi mengumandangkan azan. Setiap kali sampai pada kalimat “Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah”, suaranya pecah, dan ia berhenti. Ia lalu meninggalkan Madinah, menetap di Syam (Suriah), hingga wafat sekitar tahun 640 M.
Di detik-detik terakhirnya, sebagaimana dikisahkan situs Baznas.go.id, Bilal tersenyum dan berkata:
“Besok aku akan bertemu dengan Rasulullah dan para sahabat.”
Berabad-abad berlalu, tapi suara Bilal tak pernah benar-benar berhenti. Ia hidup dalam setiap azan yang berkumandang dari menara, di desa, di kota, di pegunungan, hingga tepi laut.
Bilal mengajarkan satu hal sederhana tapi besar: bahwa kemuliaan tak datang dari darah atau warna kulit, melainkan dari keyakinan dan keberanian melawan ketidakadilan.
Dan hingga kini, setiap azan yang terdengar adalah gema dari seorang budak yang memerdekakan dunia dengan imannya. (***)
Catatan : Feature kisah inspiratif ini disadur dari berbagai sumber yang menceritakan tentang Bilal bin Rabah, dan ditulis ulang dengan gaya penulisan redaktif.id.


bilal bin rabah 


