Redaktif.id – Inovasi bahan bakar dari jerami padi yang dinamai Bobibos kini menjadi sorotan nasional setelah hasil uji laboratorium menunjukkan kualitas yang setara dengan bensin beroktan tinggi. Inovasi anak bangsa ini digadang-gadang mampu menjadi alternatif energi baru di tengah naiknya harga minyak dunia dan semakin tingginya ketergantungan pada impor BBM.
Bobibos—singkatan dari Bahan Bakar Original Buatan Indonesia, Bos!—dikembangkan oleh peneliti M. Ikhlas Thamrin bersama timnya di PT Inti Sinergi Formula. Hasil uji di Lembaga Minyak dan Gas Bumi (Lemigas) mencatat nilai RON mencapai 98,1, melampaui ekspektasi awal dan menempatkannya sejajar dengan bahan bakar kelas premium.
Menurut Ikhlas, bahan baku utama Bobibos adalah jerami padi yang selama ini diperlakukan sebagai limbah.
“Dari sembilan ton jerami di satu hektare sawah, kami memperkirakan dapat menghasilkan hingga sekitar 3.000 liter Bobibos,” ujar M. Ikhlas Thamrin, penemu Bobibos, saat presentasi teknis pengolahan.
Ia menambahkan bahwa proses biokimia yang digunakan terdiri dari lima tahap fermentasi dan pemurnian untuk memastikan bahan bakar stabil dan aman digunakan.
Uji lapangan Bobibos dilakukan di Subang, Jawa Barat, menggunakan mesin traktor diesel milik Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Traktor tersebut disebutkan berjalan normal sepanjang pengujian.
“Kalau ini berhasil, bukan tidak mungkin desa-desa berbasis pertanian bisa menghasilkan bahan bakarnya sendiri,” kata Dedi Mulyadi usai uji coba.
Pemerintah daerah Jawa Barat juga telah menandatangani nota kesepahaman dengan pengembang Bobibos untuk pengembangan fasilitas uji dan produksi skala terbatas. Kapasitas produksi saat ini masih berada pada tahap uji, yakni sekitar 300 liter per hari.

Di tingkat pusat, pemerintah merespons dengan lebih berhati-hati. Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, mengatakan bahwa pemerintah masih mengkaji klaim teknis dan kesiapan regulasi sebelum Bobibos dapat diproduksi massal.
“Kita pelajari dulu, ya. Kita pelajari dulu,” ujar Bahlil Lahadalia saat dimintai komentar mengenai perkembangan Bobibos.
Senada dengan itu, Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi juga menegaskan bahwa setiap jenis BBM baru harus melalui proses uji kelayakan yang ketat.
“Untuk menguji suatu BBM lalu menjadi bahan bakar, itu minimal delapan bulan. Baru kita bisa putuskan apakah ini layak atau tidak,” ujar Laode Sulaeman, Dirjen Migas Kementerian ESDM.
Uji publik Bobibos dijadwalkan dilakukan pada awal 2026 di laboratorium dan fasilitas milik pengembang di Jonggol, Kabupaten Bogor. Hasil uji inilah yang akan menentukan apakah Bobibos dapat masuk ke tahap sertifikasi dan perizinan.
Di tengah proses panjang tersebut, Bobibos mulai dilihat sebagai peluang ekonomi baru bagi petani. Dengan mengolah limbah jerami menjadi bahan bakar, petani tidak hanya mengurangi praktik pembakaran jerami, tetapi juga berpotensi mendapatkan nilai tambah.
Brasil menjadi salah satu negara rujukan dalam pemanfaatan limbah pertanian menjadi bahan bakar. Negara itu sukses mengembangkan etanol generasi kedua (2G) berbahan baku bagasse dan jerami tebu hingga bisa digunakan sebagai campuran bensin nasional. Model ini dinilai bisa menjadi contoh bagi Indonesia dalam mempercepat transisi energi berbasis biomassa.
Meski masih menghadapi tantangan, mulai dari regulasi hingga skala produksi, Bobibos kini berada di lintasan penting dalam peta energi terbarukan nasional. Jika semua tahapan berhasil dilalui, bahan bakar berbasis jerami ini berpeluang besar menjadi alternatif energi murah, ramah lingkungan, dan berbasis potensi dalam negeri. (*)
Sumber : Media sosial Bobibos, medsos Dedi Mulyadi, ESDM, dan sumber resmi lainnya


foto internet bobibos 


