Alarm Merah di Era TikTok
Tantangan mempertahankan identitas nasional di era digital bukan lagi isu akademis, melainkan krisis nyata yang terkonfirmasi data. Survei Populix pada Agustus 2023 menunjukkan bahwa 65% masyarakat Indonesia merasakan adanya penurunan semangat nasionalisme di kalangan generasi muda. Ironisnya, mayoritas Generasi Z (Gen Z) sendiri mengakui adanya pelemahan nilai tersebut.
Angka ini bukan sekadar statistik; ini adalah alarm merah yang menandakan bahwa narasi kebangsaan kita sedang kalah bersaing dengan daya tarik konten global di media sosial. Pertanyaan mendasarnya: Mengapa bendera, lagu kebangsaan, dan sejarah tidak lagi memiliki daya tarik sekuat idola K-Pop atau franchise film global? Jawabannya terletak pada kebutuhan dasar psikologis Gen Z yang gagal dipenuhi oleh narasi kebangsaan yang ada.
Kebutuhan Belonging Versus Narasi Kaku
Dari sudut pandang psikologi sosial, manusia memiliki kebutuhan dasar untuk keterhubungan (relatedness) dan rasa memiliki (belonging) yang kuat.
Bagi Gen Z, yang tumbuh dalam lingkungan serba digital dan serba cepat, rasa memiliki (belonging) ini lebih mudah dan instan didapatkan dari komunitas online global daripada dari narasi kebangsaan yang sering kali terasa formal, kaku, dan didominasi oleh trauma masa lalu.
1. Pergeseran In-Group: Batasan psikologis “kelompok kita” (in-group) bergeser dari nasional menjadi subkultur global. Seorang remaja merasa lebih terwakili dan nyaman dengan sesama penggemar K-Pop di seluruh dunia, yang memiliki selera dan bahasa komunikasi yang sama, daripada dengan sesama warga negara yang dianggap memiliki pola pikir yang “usang” atau “tidak relevan.”
2. Keterhubungan Instan: Platform seperti TikTok dan X (Twitter) menawarkan afirmasi instan yang memvalidasi identitas diri. Sebaliknya, pendidikan sejarah dan kebangsaan di sekolah sering kali bersifat satu arah dan tidak memfasilitasi dialog atau ekspresi diri, sehingga gagal memenuhi kebutuhan psikologis mereka untuk dilihat dan didengarkan.
Xenoglosofilia dan Krisis Harga Diri
Fenomena Xenoglosofilia—kecenderungan untuk suka mencampur atau menggunakan bahasa asing secara berlebihan—adalah salah satu indikator psikologis dari pergeseran ini. Penggunaan slang asing, frasa bahasa Inggris, atau merujuk budaya pop asing dapat menjadi self-marketing yang meningkatkan harga diri (self-esteem) mereka di mata rekan sejawat.
Menggunakan elemen asing secara tidak langsung diasosiasikan dengan kemajuan, modernitas, atau status sosial yang lebih tinggi. Sebaliknya, identitas lokal dianggap “kurang keren” atau “tertinggal.” Krisis ini menunjukkan adanya kerentanan psikologis di mana kebanggaan diri dicari melalui afiliasi eksternal, bukan dari penguatan nilai-nilai luhur bangsa sendiri.
Data Populix mencatat bahwa pengaruh media sosial (71%) dan nilai budaya asing (56%) adalah faktor utama yang diakui oleh publik dalam meredupkan nasionalisme muda. Angka ini menegaskan betapa kuatnya pengaruh eksternal dalam membentuk self-perception (persepsi diri) dan afiliasi sosial Gen Z.
Solusi: Nasionalisme Harus Memenuhi Kebutuhan Jiwa
Menghadapi krisis identitas ini, pendekatan lama yang didominasi oleh retorika wajib tidak akan lagi efektif. Nasionalisme harus diremajakan agar dapat memenuhi kebutuhan dasar psikologis Gen Z.
1. Integrasi Konten: Pendidikan kebangsaan harus bertransformasi menjadi konten yang relevan dan menarik di platform yang mereka gunakan. Sejarah dan nilai-nilai lokal harus dikemas dalam format yang viral, interaktif, dan memungkinkan partisipasi ekspresif (misalnya, membuat konten TikTok tentang pahlawan lokal atau isu lingkungan).
2. Penguatan In-Group Lokal yang Positif: Pemerintah dan institusi perlu memfasilitasi ruang (fisik maupun online) di mana Gen Z dapat merasa bangga menjadi bagian dari komunitas lokal yang progresif dan solutif. Misalnya, menghubungkan identitas lokal dengan isu global yang mereka pedulikan, seperti sustainability, teknologi, atau social justice.
Pada akhirnya, nasionalisme sejati bukan tentang formalitas, melainkan tentang keterikatan emosional yang kuat. Ketika Gen Z merasa negara dan bangsanya memenuhi kebutuhan mereka untuk dihargai, terhubung, dan berkontribusi secara nyata di masa depan, saat itulah api nasionalisme akan menyala kembali tanpa paksaan. (*)
Penulis : Clara Dwi Nurjana, Mahasiswi Psikologi UMKT





