TANJUNG SELOR – Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Utara (Kaltara) mencatat tekanan harga pada November 2025 terutama datang dari emas perhiasan, angkutan udara, dan sayuran hijau seperti sawi, bayam, dan kangkung. Di saat yang sama, beberapa bahan pangan justru menahan laju inflasi karena harganya turun kembali ke level normal.

Kepala BPS Kaltara Mas’ud Rifai menyebut tiga komoditas teratas yang mendorong inflasi November di antaranya emas perhiasan, angkutan udara, dan sayuran sawi, bayam, kangkung.

Sementara itu, komoditas yang menyumbang deflasi pada bulan yang sama adalah ikan bandeng, tomat, dan daging ayam ras. Mas’ud menjelaskan penurunan harga itu terjadi karena komoditas tersebut “kembali ke harga normal” setelah pada Oktober 2025 sempat mengalami kenaikan.

Kenapa inflasi antarwilayah berbeda?

BPS juga menyoroti perbedaan inflasi dan harga antarwilayah di Kaltara—misalnya Tarakan, Tanjung Selor (Bulungan), hingga Nunukan—yang dipengaruhi rantai pasok dan jalur masuk barang.

Menurut Mas’ud, secara umum konsumsi di Kaltara masih banyak bergantung pada pasokan dari luar daerah, terutama untuk komoditas yang produksinya di Kaltara masih terbatas seperti beras, bawang-bawangan, sebagian buah-buahan, serta produk pabrikan.

“Tanjung Selor banyak mengimpor melalui Kalimantan Timur lewat jalur darat. Nunukan banyak melalui Sulawesi karena jalur dagangnya sudah lama ramai. Tarakan disuplai dari Jawa dan Sulawesi Selatan,” jelasnya.

Perbedaan pintu masuk inilah yang membuat biaya distribusi dan harga bisa berbeda antarwilayah. Untuk komoditas tertentu seperti sayur dan buah, sebagian pasokannya juga berasal dari Kaltara sendiri, namun ketergantungan impor luar daerah masih dominan pada banyak kebutuhan pokok.

Desember cenderung inflasi, transportasi jadi faktor berulang

Menghadapi periode Natal dan Tahun Baru (Nataru), BPS mengingatkan bahwa akhir tahun—khususnya Desember—cenderung inflasi berdasarkan pola beberapa tahun terakhir.

“Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya pada akhir tahun tepatnya bulan Desember tercatat kecenderungan terjadi inflasi. Inflasi akhir tahun beberapa kali dipengaruhi biaya transportasi,” kata Mas’ud.

Selain transportasi, komoditas yang juga kerap memberi tekanan adalah daging ayam, ikan, dan cabai. Terkait tarif transportasi jelang Nataru, BPS menyebut sampai saat ini baru ada informasi program diskon tarif angkutan laut PELNI pada rentang 17 Desember hingga Januari 2026.

“Untuk tarif lainnya kami belum memperoleh informasinya. Nah ini nanti yang akan kami ukur/data dalam bulan ini,” ujarnya.

Akademisi: Nataru pemicu, logistik memperbesar dampak

Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Borneo Tarakan (UBT), M Nur Utomo menilai tekanan harga Desember di Kaltara merupakan kombinasi faktor musiman dan struktural.

Ia menyebut lonjakan permintaan Nataru biasanya menjadi pemicu jangka pendek, terutama pada kelompok bahan pangan. Namun, kondisi struktural Kaltara—tantangan geografis, konektivitas, dan ketergantungan pasokan dari luar—membuat biaya logistik memperkuat tekanan harga.

“Permintaan Nataru bertindak sebagai pemicu (trigger) jangka pendek yang kemudian mengeskalasi dampak biaya logistik yang sudah ada,” kata Nur Utomo.

Mengacu pada data yang ia sampaikan, inflasi Desember 2024 di Kaltara tercatat 0,44 persen (month-to-month) dan banyak didorong kelompok makanan, minuman, dan tembakau, dengan komoditas seperti ikan bandeng/bolu, bawang merah, tomat, cabai rawit, dan bayam memberi andil relatif besar. Secara tahunan, ia menyebut inflasi Desember 2024 1,29 persen (year-on-year) dan masih berada dalam rentang target inflasi nasional 2,5±1 persen.

Ia juga menyinggung indikator meningkatnya aktivitas ekonomi pada akhir tahun, termasuk catatan peredaran uang yang menunjukkan net outflow Rp334,51 miliar pada Desember 2024, sebagai sinyal tingginya transaksi konsumsi masyarakat pada periode tersebut.

Komoditas “rawan” inflasi: pangan strategis dan angkutan udara

Menurut Nur Utomo, komoditas yang paling rentan memicu inflasi Kaltara berulang kali berasal dari kelompok pangan strategis seperti beras, cabai, bawang merah, daging ayam ras, telur, ikan segar, sayur-mayur, serta jasa angkutan udara.

Kerentanannya muncul dari tiga hal. Mulai dari ketergantungan pasokan luar daerah, tingginya biaya logistik, serta sensitivitas terhadap cuaca dan musiman yang memengaruhi pasokan dari daerah produsen. Sementara untuk angkutan udara, fluktuasi tarif pada musim liburan dapat cepat memengaruhi inflasi karena perannya penting bagi mobilitas dan distribusi barang tertentu.

Rekomendasi kebijakan: mix jangka pendek–panjang

Dalam strategi pengendalian inflasi, Nur Utomo menyarankan pendekatan berjenjang. Operasi pasar dinilai efektif sebagai peredam gejolak jangka pendek, terutama pada periode HBKN seperti Nataru. Subsidi ongkos angkut relevan untuk menekan biaya distribusi di wilayah berbiaya logistik tinggi, meski perlu penargetan agar tidak membebani fiskal dan menimbulkan ketergantungan.

Namun, untuk dampak yang paling berkelanjutan, ia menekankan pentingnya penguatan produksi lokal—pertanian hortikultura, perikanan, dan peternakan—untuk mengurangi ketergantungan pasokan dari luar daerah dan memendekkan rantai distribusi.

Dengan pola inflasi Desember yang cenderung meningkat, BPS dan akademisi sama-sama menekankan perlunya memantau komoditas pangan dan transportasi, serta memperkuat langkah stabilisasi pasokan agar daya beli masyarakat tetap terjaga selama periode libur akhir tahun. (*)

Editor: Nicky Saputra

Tags:angkutan udaraBPS KaltaraekonomiinflasilogistikNataruNunukanproduksi lokalsayurTanjung Selortarakan