Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT) dikenal sebagai salah satu kampus yang aktif menanamkan nilai karakter dan jiwa kepedulian sosial kepada mahasiswanya. Tidak hanya melalui mata kuliah kewarnegaraan sebagai mata kuliah umum, semangat cinta tanah air di kampus ini juga tumbuh lewat hal sederhana yang dilakukan oleh para mahasiswa setiap harinya.
Di era modern yang serba cepat, nasionalisme masih sering disalahartikan sebagai hal besar yang harus dilakukan secara heroik. Padahal, bentuk dari nasionalisme bisa sesederhana mengenakan batik di hari nasional, ikut melestarikan budaya, atau bahkan sekadar memberikan edukasi lingkungan kepada anak-anak. Mahasiswa UMKT membuktikan bahwa rasa cinta terhadap Indonesia bisa diwujudkan dengan cara yang ringan tapi memiliki makna yang luar biasa.
- Batik, Identitas yang tak kenal waktu
Beberapa mahasiswa UMKT terlihat masih mengenakan baju batik dalam memperingati hari-hari nasional seperti, hari batik nasional, hari sumpah pemuda, hari lahir Pancasila, atau hari kartini. Meski tidak ada aturan wajib hal ini muncul karena adanya kesadaran pribadi untuk mengenakan batik meski bukan peringatan hari nasional. Salah satu mahasiswa UMKT mengatakan bahwa dirinnya memakai batik di berbagai momen, bukan hanya saat ada acara atau peringatan hari tertentu.
“Biasanya aku pakai batik di momen apa aja, soalnya selain suka motifnya, batik juga simple dan cocok dipakai kapanpun,” ujar Tiara, mahasiswa S1 Psikologi, UMKT. Ia juga menambahkan alasan utama memilih batik Adalah karenan motifnya yang menarik dan serbaguna. “tentu karna motif motif abstrak yang menarik dan juga ku gak bakal bingung kalau mau pakai baju apa aja, tinggal pake batik aja,” ungkapnya.
Namun, Tiara juga mengakui bahwa masih sedikit mahasiswa yang memiliki kebiasaan serupa.
Mengenakan batik menjadi sebuah aksi sederhana yang dapat dilakukan oleh siapapun dalam menjaga nasionalisme di tengah era modern.
- Melestarikan Budaya dengan Gerak dan Irama
Tidak hanya dari cara berpakaian, semangat nasionalisme juga bisa tumbuh lewat kesenian dan budaya. Di Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur ada salah satu wadah untuk melestarikan budaya daerah, yaitu UKM Sunta. Sebuah unit kegiatan mahasiswa yang fokus pada bidang kesenian. Saat ini, UKM Sunta memiliki sekitar 50 orang anggota aktif yang rutin mengikuti berbagai kegiatan kesenian dan tampil dalam berbagai acara kampus.
Salah satu anggota UKM Sunta, Wahyuni yang telah bergabung sejak 2024 bercerita bahwa ketertarikannya pada dunia tari sudah ada sejak kecil. “Alasan saya tertarik ikut ukm sunta adalah saya sangat menyukai tarii. sejak sd saya sudah menari…” Ujarnya. Ia juga menyebutkan tarian daerah yang paling sering dibawakan Adalah tari jepen, sebuah tarian khas pesisir Kalimantan timur. “Selain itu juga karena saya tinggal di daerah pesisir yang sangat khas dengan jepennya,” tambahnya. Menurut Wahyuni, di tengah arus budaya luar yang semakin kuat, peran mahasiswa dalam menjaga budaya lokal sangatlah penting. “harus di lakukan edukasi untuk tetap menjaga budaya sehingga tidak terbawa arus oleh budaya luar,” ujarnya.
Menampilkan sebuah tarian diberbagai acara kampus menjadi salah satu momen yang paling berkesan. “. Saya sangat bangga ketika penampilan saya di acara puncak masta. Karena, para penari sangat totalitas selama latihan dan juga mengeluarkan seluruh powernya sehingga menjadi rata tidak ada yg menonjol satu dan lainnya. Jadi menurut saya ini yg paling membanggakan,” ujarnya.
Dari cerita Wahyuni, kita menjadi tau bahwa lewat gerak dan irama, UKM Sunta bukan hanya menampilkan hiburan, tapi juga menjaga warisan budaya yang menjadi identitas bangsa kita.
- Menanam Rasa cinta tanah air lewat aksi nyata
Nasionalisme juga dapat dilihat dari kepedulian kita terhadap lingkungan. Menjaga, merawat, dan juga mengedukasi tentang lingkungan merupakan salah satu contoh nyata yang bisa dilakukan sebagai mahasiswa. Hal ini dilakukan oleh sekelompok mahasiswa Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur melalui kegiatan edukasi lingkungan kepada salah satu Yayasan Pendidikan anak usia dini.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa memperkenalkan berbagai hal sederhana namun memiliki makna tersendiri bagi anak-anak, mulai dari pengenalan bagian pohon hingga membedakan tekstur batu, jenis rumput dan juga kondisi tanah.
Salah satu perwakilan mahasiswa yang mengikkuti kegiatan tersebut, Marsha menyebutkan bahwa kegiatan tersebut bukan hanya mengajar atau sekadar memberikan edukasi tetapi juga belajar. “pelajaran yang dapat di ambil, ternyata dalam mendidik anak” itu harus dengan cara yang sangat sederhana dan juga harus sabar, itu membuat kami mempunyai pembelajaran baru dan juga pengalaman baru yang dapat di ambil untuk di kehidupan sehari hari’” jelasnya. Selain itu, ia juga menyebutkan bahwa kegiatan edukasi ini dilakukan oleh seluruh mahasiswa dalam satu kelas, terdiri sekitar 10 kelompok dengan masing-masing 10 orang anggota.
Menjaga lingkungan adalah bentuk nyata dari cinta tanah air, lingkungan yang sehat akan membuat kehidupan lebih Sejahtera dan terawat. Ini merupakan aksi nyata dari bentuk nasionalisme.
Batik hingga kegiatan edukasi, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur telah menunjukkan bahwa nasionalisme tidak hanya sebatas ucapan semata tapi juga Tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Bentuk nasionalisme pada era modern kini telah beragam, tidak selalu tentang upacara atau symbol kenegaraan, tetapi juga melalui pelestarian budaya, kepedulian sosial, hingga rasa tanggung jawab terhadap lingkungan.
Dari kampus UMKT, generasi muda dapat belajar bahwa mencintai negeri bisa dimulai dari hal sederhana, salah satunya mengenakan batik dan melestarikan budaya dengan sepenuh hati, seta menjaga alam sekitar dengan penuh kasih sayang. Nasionalisme bukan tentang masa lalu, tetapi tentang bagaimana kitab isa menjaga masa depan Bersama. (***)
Penulis : Asy’Syifa Rizqiyah


UMKT 


