Sering kali kita mendengar bahwa demokrasi adalah “dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.” Tapi, apakah kamu pernah berpikir bahwa demokrasi juga bisa memengaruhi kesehatan mental kita?

Menurut para psikolog, demokrasi bukan hanya sekedar sistem politik, tapi ia juga membentuk cara kita dalam berpikir, merasa, dan berinteraksi dengan orang lain. Dalam masyarakat yang demokratis, setiap orang itu punya kesempatan untuk menyuarakan pendapat. Dan hal ini ternyata punya efek yang sangat besar bagi kesejahteraan psikologis.

Rasa Ingin Didengar, Perasaan Berharga

Hasil riset dari Pusat Psikologi Sosial Universitas Indonesia (2025) menunjukkan bahwa warga yang merasa punya pengaruh dalam keputusan politik cenderung memiliki tingkat stress yang lebih rendah dan rasa percaya diri yang tinggi. “Ketika seseorang tahu bahwa suaranya punya arti, ia merasa lebih berdaya dan memiliki kontrol terhadap hidupnya,” ujar Dr. Maya Rachman, psikolog sosial yang memimpin penelitian tersebut.

Dengan kata lain, demokrasi yang memberi ruang partisipasi publik tidak hanya menciptakan stabilitas politik, tapi juga stabilitas emosi.

Sisi Gelap Demokrasi Digital

Namun di sisi lain, era media sosial membawa tantangan yang baru. Kebebasan berekspresi yang tidak dibarengi dengan empati dan literasi digital dapat memicu polarisasi dan stress politik. Polarisasi sendiri adalah kondisi dimana adanya perpecahan atau terbaginya sesuatu yang saling berlawanan dan tidak memiliki titik temu.

Penelitian yang dilakukan oleh American Psychological Association (APA, 2020) menemukan bahwa lebih dari separuh responden di Amerika Serikat merasa “lelah secara emosional” karena perdebatan politik online yang penuh emosi dan kebencian.

Fenomena serupa juga terjadi di Indonesia. Banyak orang yang merasa cemas, marah, bahkan kehilangan teman karena perbedaan pilihan politik. “Kalau terus-menerus terpapar konflik politik, otak kita bisa berada dalam mode ‘waspada’ yang berkepanjangan. Ini tidak baik bagi kesehatan mental,” jelas Dr. Rachman.

Menuju Demokrasi yang Sehat Secara Emosional

Psikolog menyarankan agar masyarakat membangun ‘literasi emosional politik’ hal itu adalah kemampuan untuk memahami dan mengelola emosi saat berdebat atau berbeda pendapat. Selain itu, membatasi paparan media sosial politik yang berlebihan juga bisa membantu menjaga keseimbangan mental.

“Demokrasi yang sehat bukan hanya tentang siapa yang menang dalam pemilu,” kata Dr. Rachman. “Tapi tentang bagaimana kita bisa saling menghargai dan tetap tenang meski berbeda.”

Demokrasi yang sehat dimulai dari warga yang sehat secara mental dan emosional. Ketika kitab isa menyuarakan pendapat tanpa kehilangan empati, maka demokrasi bukan hanya hidup di sistem politik, tapi juga di hati dan pikiran kita.

Penulis : Nur Hidayah Ramadhani

SUMBER:

Rachman, M. (2025). Keterlibatan Politik Dan Kesejahteraan Psikologis Warga Indonesia. Pusat Psikologi Sosial Universitas Indonesia.

American Psychological Association. (2020). Stress in American: Political Stress and the State Of The Nation. Washington, DC: APA.

Haslam, S. A., & Reicher, S. D. (2016). Identity and Democracy: The Psychology of Political Participation. Annual Review of Psychology, 67, 453-478.

Wardani, S., & Nugroho, R. (2023). Literasi Digital dan Kesehatan Mental dalam Era Politik Online. Jurnal Psikologi Masyarakat Indonesia, 12(2), 77-89.

Tags:OPINI