Generasi Z tumbuh di era ketika budaya dari seluruh dunia hadir dalam satu layar. Kita bisa menonton drama Korea, mendengarkan musik Barat, mengikuti fashion Jepang, dan juga mengikuti isu global tanpa keluar rumah. Internet membuat kita menjadi warga dunia.
Akan tetapi di tengah derasnya pengaruh global, ada pertanyaan sederhana yang krusial, yaitu: apakah kita masih bangga menjadi Indonesia?
Cinta Budaya Luar = Bukan Masalah
Menyukai budaya luar bukan masalah, justru itu menjadi bukti bahwa Gen Z adaptif dan terbuka. Tapi tantangan muncul ketika:
• Bahasa Indonesia ditinggal karena dianggap kurang keren,
• Budaya lokal dicemooh padahal belum dipahami,
• Konten edukasi dalam negeri kalah dengan tren viral yang belum tentu bermanfaat,
• ”Bangga produk Indonesia” hanya menjadi slogan, bukan perilaku.
Jika globalisasi membuat kita lupa identitas sendiri, berarti ada yang perlu diperbaiki.
Identitas Nasional Bukan Soal Formalitas
Kita sering mendengar identitas nasional itu Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan simbol negara. Hal itu benar, akan tetapi maknanya lebih luas dari itu. Identitas adalah cara kita berpikir, bersikap, memberi makna, dan membangun tujuan sebagai bangsa. Dan yang paling penting adalah identitas itu dinamis. Nilai bangsa tetap bisa hidup disamping kita menjadi kreatif, digital, dan juga modern.
Nasionalisme yang Relevan buat Gen Z
Bagi Gen Z, nasionalisme hari ini tidak cuma soal upacara atau hafalan teks. Nasionalisme versi Gen Z termasuk:
• Bangga membawa budaya Indonesia ke ruang digital,
• Tidak minder menggunakan bahasa sendiri,
• Mendukung kreator, UMKM, dan film lokal,
• Bijak menyaring informasi, tidak gampang terpecah karena isu sensitif,
• Wawasan mendunia, tapi karakter tetap Nusantara.
Kita bisa menyukai K-pop, tapi tetap menghargai dangdut koplo. Kita bisa nongkrong di kafe kekinian, tapi tetap bangga dengan kopi Nusantara. Itu bentuk cinta yang nyata, bukan formalitas.
Nasionalisme Digital Dimulai dari Timeline Kita
Tidak perlu hal besar, nasionalisme digital bisa dimulai dari:
• Membagikan budaya lokal tanpa merasa malu,
• Menggunakan bahasa Indonesia dengan bangga,
• Mendukung konten edukatif dan positif,
• Berdebat dengan sopan, karena budaya kita menghargai etika,
• Mengangkat produk lokal agar makin dikenal.
Semakin banyak Gen Z yang melakukan ini, maka akan semakin kuat citra Indonesia di mata dunia. Jadi global bukan berarti kehilangan arah. Kita bisa belajar dari luar, tapi tetap kembali ke identitas sendiri. Karena pada akhirnya, dunia boleh masuk ke kita, tapi Indonesia harus tetap tinggal di kita. (*)
Penulis : Afifatul Ilmi, Mahasiswi S1 Psikologi UMKT





