Ketika Goal Lebih Penting dari Sejarah

Di era digital sekarang, identitas global sering kali lebih menawan daripada sejarah negara sendiri. Bagi Generasi Z, nama-nama seperti Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo dua mega bintang sepak bola yang memecahkan rekor dan memenangkan jutaan hati adalah pengetahuan umum. Mereka tahu skor pertandingan terakhir, jumlah Ballon d’Or, hingga celebration ikonik para pemain ini. Namun, mereka tidak tahu siapa tokoh dibalik terjadinya peristiwa sumpah pemuda: tanyakan kepada mereka siapa Mohammad Yamin, atau siapa saja tokoh sumpah pemuda atau mungkin tanggal berapa peringatan sumpah pemuda tersebut, dan mereka hanya diam.

Fenomena ini menunjukkan adanya kemunduran identitas di kalangan Generasi Z yang tumbuh dalam arus globalisasi yang masif. Krisis ini bukan sekadar ketidaktahuan, melainkan pergeseran prioritas di mana Gen Z mahir dalam sejarah olahraga, tetapi buta terhadap sejarah perjuangan bangsa yang fundamental.

  1. Mengapa Messi dan Ronaldo Mengalahkan Mohammad Yamin dan Tokoh Sumpah Pemuda?

     Kontroversi utama di sini bukan hanya tentang ketidaktahuan, melainkan tentang prioritas dan relevansi konten di mata Gen Z.

 Dominasi Konten Global

          Media sosial dan mesin pencari didominasi oleh konten global. Messi dan Ronaldo adalah produk dari mesin pemasaran internasional raksasa. Budaya global telah menjadi kekuatan dominan yang membentuk nilai dan identitas Generasi Z

  • Algoritma: Algoritma media sosial memprioritaskan konten yang viral, real-time, dan memancing emosi. Sejalan dengan temuan ini, Gen Z cenderung mengonsumsi informasi yang visual dan instan. Skill Ronaldo adalah visual dan mudah dicerna dalam klip, sementara sejarah perjuangan bersifat tekstual dan memerlukan pemahaman mendalam.
  • Erosi Identitas Lokal: Dominasi budaya global ini sering kali menggantikan nilai-nilai lokal, membuat Generasi Z lebih cenderung mengidentifikasi diri mereka dengan budaya global daripada budaya tradisional.
  1. Kegagalan Relevansi Sejarah

          Narasi sejarah perjuangan sering kali disajikan secara kering, satu dimensi, dan tanpa koneksi emosional yang berarti. Sumpah Pemuda bagi mereka hanyalah tanggal di buku, bukan peristiwa mind-blowing yang berhasil menyatukan ratusan suku dalam satu janji. Tokoh seperti Mohammad Yamin (pencetus ide persatuan), Sugondo Djojopuspito (Ketua Kongres), atau Sie Kok Liong (pemilik rumah tempat kongres) tidak memiliki tim pemasaran atau film dokumenter Netflix yang membuat kisah mereka mendebarkan. Tokoh-tokoh ini tidak relevan bagi Gen Z karena narasi kita gagal menjual perjuangan mereka sebagai superhero intelektual, melainkan hanya sebagai tokoh dongeng di buku.

  1. Sumpah Pemuda: Bukan Cuma Slogan, Melainkan Plot Twist Identitas Bangsa

     Ketidaktahuan Gen Z terhadap penyusun Sumpah Pemuda adalah tragedi yang menyedihkan, karena Sumpah Pemuda sendiri adalah salah satu plot twist terbesar dalam sejarah perjuangan bangsa. Sumpah Pemuda bukan sekadar janji basa-basi ini adalah pernyataan politik yang:

  • Mengakhiri Etnosentrisme: Para pemuda berani mengakhiri loyalitas pada suku, bahasa, dan daerah mereka, sebuah langkah radikal yang mengintegrasikan berbagai minoritas, termasuk tokoh Tionghoa seperti Sie Kok Liong
  • Menjual Identitas Masa Depan: Sebelum ada negara Indonesia, mereka sudah sepakat bahwa akan ada satu bangsa. Ini adalah visi kontroversial yang pada masa itu dianggap konyol oleh penjajah

     Ketika Gen Z tidak tahu siapa penyusunnya, mereka juga tidak memahami betapa rapuhnya identitas nasional yang mereka nikmati hari ini. Mereka kehilangan konteks perjuangan para intelektual yang memilih buku dan pena, bukan senjata, sebagai alat perlawanan

  • Krisisnya Pengetahuan Sejarah: Siapa yang Bertanggung Jawab?

     Ironi ini bukan sepenuhnya kesalahan Gen Z. Ada tiga pihak utama yang harus bertanggung jawab:

  1. Sistem Pendidikan yang Gagal

            Pendidikan sejarah masih fokus pada hafalan tanggal dan nama Sumpah Pemuda disajikan sebagai fait accompli (fakta yang tak terhindarkan), bukan hasil perjuangan ideologis yang sengit. Guru Besar Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Jakarta, Diana Nomida, pernah memperingatkan bahwa “Bilamana suatu bangsa tidak lagi menghargai sejarahnya, maka dapat dipastikan cepat atau lambat bangsa tersebut akan terjerumus dalam kehancuran. Oleh karena itu, sistem pendidikan perlu perbaikan agar sejarah tidak hanya menjadi alat hafalan.

  1. Media dan Budaya

            Media nasional gagal memproduksi konten sejarah yang relatable dan mind-blowing. Kita kekurangan film, serial, atau bahkan game yang menyajikan kisah tokoh-tokoh Sumpah Pemuda se-dramatis alur cerita sepak bola

Perjuangan Identitas yang Baru

Gen Z mungkin tahu offside dan hat-trick, tetapi mereka harus didorong untuk tahu bahwa skill politik dan intelektual tokoh Sumpah Pemuda adalah warisan yang jauh lebih berharga daripada piala apapun. Jika Gen Z melupakan arsiteknya, mereka berisiko kehilangan cetak biru itu, dan di saat itulah, identitas bangsa kita bisa benar-benar dibeli atau digantikan oleh merek-merek global. Untuk mengatasi hal ini, diperlukan kerja sama erat antara pemerintah, dunia pendidikan, media, hingga Generasi Z sendiri, agar rasa memiliki terhadap identitas nasional dapat dipupuk tanpa menghambat wawasan global.

Pertanyaannya bukan lagi, “Siapa Messi?” atau “Siapa Ronaldo?” melainkan, “Apakah identitas bangsa ini akan kalah dari hype Sepak Bola?” Jawabannya, ada di tangan Gen Z yang tengah asyik scrolling feed mereka. (***)

Penulis : Muhammad Dzakwan Fadillah

 

Tags:OPINI