Indonesia adalah panggung besar dengan ribuan warna, suara, dan cerita. Tetapi hari ini, di tengah sorotan lampu global yang makin terang, kita justru berpotensi kehilangan bayangan kita sendiri. Bukan karena tidak terlihat, melainkan karena kita mulai lupa bentuk siluet asli kita. Inilah era generasi glokal: generasi yang semakin global dalam cara hidupnya, tetapi semakin liminal dalam hubungan dengan akar lokalnya.
Kita sedang berada dalam masa di mana batas negara nyaris lenyap di layar sentuh. K-Pop jadi makanan harian telinga, fashion Seoul dan Tokyo jadi kiblat gaya, slang internet dari London hingga Manila jadi bahasa pergaulan, dan mimpi urban generasi muda adalah “diakui dunia.” Ini bukan kesalahan, ini evolusi. Yang jadi masalah adalah ketika proses menjadi warga global berjalan lebih cepat dibanding proses menjadi manusia Indonesia itu sendiri.
Global Tanpa Filter, Lokal Jadi Sekadar Aksesoris
Globalisasi bukan ancaman, tapi ketidaksiapan menghadapi globalisasi — itulah risikonya. Hari ini, budaya lokal cenderung menjadi “ornamen sesekali”: dipakai saat festival, dipentaskan saat lomba, atau dikenakan ketika dunia menoleh, namun jarang jadi bagian hidup harian. Maka terciptalah ironi sosial: batik mendunia, tetapi OOTD anak muda tetap berkiblat pada budaya luar; kuliner Nusantara mendominasi panggung Michelin Asia, tapi menu harian Gen Z lebih sering berkutat di gerai franchise global.
Lebih dalam lagi, transformasi kultural ini merambah pada cara kita berbahasa. Bahasa Indonesia, yang dulu menjadi simbol perlawanan dan pemersatu, secara perlahan berubah statusnya: dari jangkar identitas menjadi secondary language dalam banyak ruang sosial digital. Istilah asing bukan lagi pelengkap, melainkan fondasi percakapan. Banyak anak muda yang lebih luwes merangkai frasa Inggris ketimbang menyusun argumen terstruktur dalam Bahasa Indonesia. Fenomena ini bukan soal kemampuan multilingual, melainkan soal kepercayaan diri linguistik yang timpang.
Di timeline media sosial, kalimat “Sorry, aku lagi gak feeling well” terasa lebih natural dibanding “Maaf, aku sedang tidak enak badan.” Caption “Spill your thoughts” terasa lebih akrab dibanding “Ceritakan pendapatmu.” Bahkan untuk mengungkapkan perasaan pun, ungkapan asing terasa lebih aman, lebih keren, dan — ironisnya — terasa “lebih jujur” meski bukan bahasa ibu sendiri.
Di sinilah paradoksnya: semakin fasih kita mengadopsi bahasa luar, semakin canggung kita menuturkan rasa dalam bahasa yang membesarkan kita.
Bahasa Indonesia Bukan Sedang Kalah, Ia Sedang Ditinggalkan
Fenomena marginalisasi Bahasa Indonesia tidak terjadi karena kurang indah, kurang ekspresif, atau kurang relevan. Ia meredup karena: kurang dibanggakan, kurang dinarasikan keren, kurang dikembangkan konteks kekiniannya, dan kalah volume oleh budaya digital global yang diproduksi dengan kemasan jauh lebih menarik.
Dalam merespons situasi ini, pemerintah melalui Permendikdasmen No. 2 Tahun 2025 menegaskan kembali penggunaan Bahasa Indonesia di ruang publik dan dokumen resmi. Kebijakan ini adalah pernyataan sikap: Bahasa Indonesia bukan sekadar administratif, melainkan fondasi identitas kebangsaan. Langkah ini penting, tetapi belum cukup. Regulasi adalah kerangka — yang justru lebih dibutuhkan adalah gerakan kultural, bukan hanya gerakan struktural.
Bahasa bertahan bukan karena dia diwajibkan, tetapi karena dia dipakai dengan bangga.
Bangsa yang besar tidak kehilangan bahasa karena kemajuan, tetapi kehilangan bahasa saat ia merasa bahasanya tidak lagi setara secara gengsi. Oleh sebab itu, menguatkan Bahasa Indonesia tidak bisa diselesaikan lewat aturan semata. Ia harus masuk ke ruang yang paling menentukan identitas generasi hari ini: konten digital, percakapan daring, budaya humor, tren visual, dan pola konsumsi informasi.
Bayangkan jika istilah-istilah Indonesia bisa seviral relatable, healing, atau soft girl era. Bayangkan jika istilah lokal sekuat istilah serapan dalam mendefinisikan tren emosi, gaya hidup, dan ekspresi. Itu bukan utopia. Itu hanya soal siapa yang lebih dulu mengemas, bukan siapa yang benar atau salah.
Budaya Lokal Bukan Vintage, Ia Blueprint Masa Depan
Kesalahan terbesar dalam pelestarian budaya adalah menempatkannya di masa lalu. Budaya sering diajarkan sebagai nostalgia, bukan sebagai inspirasi. Dipamerkan sebagai peninggalan, bukan sebagai sumber inovasi. Padahal budaya lokal bukan reruntuhan peradaban, ia adalah cetak biru masa depan.
Bali menjadi global bukan karena meniru, tetapi karena mempertahankan identitasnya. Jepang dikagumi bukan karena kebarat-baratan, tetapi karena keunikannya yang konsisten. Korea Selatan jadi raksasa budaya pop bukan karena meninggalkan tradisinya, tetapi karena mengkawinkannya dengan teknologi dan produksi kreatif modern.
Indonesia punya modal jauh lebih besar: budaya majemuk, ratusan bahasa daerah, corak estetika yang tak ada duanya, filosofi hidup yang dalam, dan memori kolektif yang kuat. Tantangannya bukan soal kekayaan budaya, tetapi soal kemampuan mempopulerkannya kembali dalam bahasa zaman.
Kita membutuhkan budaya lokal yang:
- Bukan hanya dilestarikan, tetapi dialami
- Bukan hanya dipamerkan, tetapi dipakai
- Bukan hanya diajarkan, tetapi dirayakan
- Bukan hanya jadi identitas acara, tetapi identitas harian
Identitas nasional tak akan punah karena globalisasi. Ia hanya akan punah bila dibiarkan kuno, kaku, elitis, dan terkurung sebagai arsip seremonial.
Identitas Bukan Atribut, Ia Rasa Memiliki
Ada pergeseran besar dalam cara generasi muda memaknai kebangsaan. Dulu nasionalisme dinilai dari hafalan, upacara, dan simbol. Hari ini nasionalisme dinilai dari rasa keterhubungan. Anak muda tidak lagi bertanya “Apa simbol kebangsaanmu?” tetapi “Apakah aku merasa menjadi bagian dari bangsa ini?”
Jika nasionalisme hanya hadir saat 17 Agustus, hanya dikibarkan saat event, hanya didengar saat protokol, maka wajar apabila ia mulai terasa jauh. Nasionalisme yang tidak menyentuh realitas hidup generasi muda akan terasa abstrak dan formalistik. Hari ini, kebanggaan pada negara tidak lagi dinilai dari kesetiaan simbol, tetapi dari relevansi pengalaman sebagai warga negara.
Generasi muda butuh negara yang bahasanya dapat mereka banggakan tanpa merasa ketinggalan zaman. Mereka butuh budaya yang tidak membuat mereka harus memilih antara “keren” atau “berakar”. Mereka ingin mencintai Indonesia tanpa harus menanggalkan identitas globalnya.
Maka definisi kebangsaan yang relevan hari ini bukan:
- “Menjadi Indonesia, artinya meninggalkan yang asing.”
Melainkan:
- “Menjadi Indonesia, artinya punya identitas yang cukup kuat untuk berdialog sejajar dengan dunia tanpa kehilangan diri.”
Menjadi Glokal Bukan Anomali, Ia Formula Baru
Generasi glokal bukan ancaman bagi identitas nasional. Mereka adalah peluang terbesar untuk merevolusinya. Karena mereka memahami dua bahasa: bahasa dunia dan bahasa lokal. Mereka hidup di dua medan: internet dan realitas sosial. Mereka bisa mempopulerkan budaya Indonesia dengan metode yang jauh lebih efektif dibanding generasi sebelumnya — jika diberi panggung dan kepercayaan.
Kita tidak perlu melatih mereka untuk mencintai Indonesia dengan cara 50 tahun yang lalu. Kita hanya perlu memberi ruang agar mereka bisa mencintai Indonesia dengan cara yang masuk akal bagi zaman mereka.
Itu bisa berupa:
- Filme pendek yang menarasikan isu kebangsaan tanpa menggurui
- Fashion lokal yang nyaman dipakai tanpa terasa kostum
- Musik daerah yang diproduksi dengan sentuhan modern
- Konten edukasi sejarah dengan gaya storytelling TikTok
- Humor lokal yang bangga tanpa harus merendahkan budaya lain
- Bahasa Indonesia yang luwes, ekspresif, dan relevan
Ini bukan penghianatan tradisi. Ini evolusi.
Indonesia Tidak Butuh Penjaga Identitas, Ia Butuh Pembaru Identitas
Kita sering salah kaprah: identitas dianggap sesuatu yang harus disimpan, padahal identitas adalah sesuatu yang harus diaktifkan. Yang disimpan akan lapuk, yang diaktifkan akan bertahan.
Generasi muda bukan sedang menjauh dari Indonesia. Mereka hanya sedang mencari bentuk Indonesia yang dapat mereka hidupi tanpa merasa menjadi pengunjung di rumah sendiri.
Mereka tidak butuh diajari cara cinta tanah air. Mereka butuh alasan untuk tetap setia pada akar ketika dunia menawarkan seribu kemungkinan lain.
Dan berita baiknya: Indonesia punya semua itu. Yang kurang hanyalah keberanian untuk meraciknya kembali dalam bahasa zaman.
Menjadi generasi glokal bukan tanda lunturnya nasionalisme. Ia justru tanda evolusi kebangsaan. Namun, global tanpa lokal hanya akan melahirkan generasi yang kagum pada dunia, tetapi bingung ketika berkaca pada diri sendiri.
Indonesia tidak sedang kehilangan generasinya. Indonesia sedang menunggu generasinya menemukan cara baru untuk mencintainya.
Karena pada akhirnya, yang membuat bangsa ini besar bukan karena kita terdengar seperti dunia, melainkan karena dunia mengenal suara kita — sebagai diri kita sendiri. (***)
Penulis : Sesylia Novi Handayani


Sesylia Novi Handayani, Mahasiswi S1 Psikologi UMKT 


