Wawancara bersama Iva Ani Wijiati, Dosen FKIP Universitas Borneo Tarakan

Di sebuah ruang diskusi kecil di Kampus Universitas Borneo Tarakan, saya berbincang dengan Iva Ani Wijiati, seorang dosen FKIP yang telah lama meneliti pendidikan dan dinamika perubahan zaman. Percakapan kami mengalir panjang—tentang guru, disrupsi, dan peradaban—tepat di momentum Hari Guru Nasional.

Guru sebagai Arsitek Peradaban

Saat saya membuka pertanyaan tentang makna guru sebagai “pembentuk peradaban”, Iva menjawab mantap.

“Guru itu arsitek karakter,” ujarnya.

Baginya, guru selalu memikul peran yang jauh lebih besar dari sekadar mentransfer ilmu. Mereka menanamkan kejujuran, empati, rasa ingin tahu, hingga nilai kemanusiaan yang membentuk cara pikir sebuah generasi.

“Dari ruang kelas itulah peradaban dibangun,” tegasnya.

Ia juga percaya bahwa nilai paling penting yang harus diwariskan guru di era sekarang merupakan  integritas dan kebijaksanaan dalam menggunakan pengetahuan. Di tengah dunia yang penuh informasi namun minim makna, peserta didik memerlukan kompas moral yang membantu mereka membedakan benar dan salah, serta kemampuan memanfaatkan teknologi dengan bertanggung jawab.

Badai Disrupsi yang Mengubah Arah Pendidikan

Tentang “badai disrupsi”, Iva melihatnya sebagai pergeseran paradigma besar dalam dunia pendidikan.

“Teknologi memaksa pendidikan keluar dari tembok sekolah,” katanya.

Sistem pembelajaran yang dulu seragam kini berubah menjadi ekosistem yang dinamis, personal, dan terhubung global. Namun perubahan ini juga memperlebar kesenjangan digital dan menuntut guru beradaptasi lebih cepat.

Ketika saya menyinggung tantangan terbesar yang dihadapi guru saat ini, ia menjawab lugas:

“Relevansi.”

Menurutnya, guru mungkin bukan lagi satu-satunya sumber pengetahuan. Namun guru tetap memegang peran penting dalam membimbing siswa memilah informasi, membangun karakter, dan menciptakan pengalaman belajar yang manusiawi—hal-hal yang tak dapat digantikan mesin.

Dari Sumber Ilmu Menjadi Kurator Makna

Di tengah derasnya informasi dan kemunculan kecerdasan buatan, Iva menyebut peran guru telah bergeser.

“Mereka bukan lagi encyclopedia berjalan,” ujarnya. “Guru kini adalah pemandu literasi digital dan kurator makna.”

Tugas guru bukan sekadar menyampaikan fakta, tetapi juga mengajarkan cara memverifikasi informasi dan menyusun pengetahuan dari berbagai sumber agar bermakna dan kontekstual.

Ditambahkannya, untuk tetap relevan, guru memerlukan keterampilan baru seperti facilitative learning, kemampuan merancang pembelajaran kolaboratif, serta kecerdasan emosional. Dunia digital memang serba cepat, tapi hubungan manusiawi tetap menjadi inti pendidikan.

Ketimpangan dan Realitas Lapangan

Iva juga menyoroti perbedaan dampak disrupsi antara guru di kota dan guru di wilayah 3T.

“Perbedaannya sangat lebar,” jelasnya.

Di kota, disrupsi berarti adaptasi teknologi. Namun di 3T, disrupsi justru mempertegas isolasi karena listrik terbatas, internet tidak stabil, dan pelatihan yang minim.

Pengalamannya menunjukkan bahwa banyak guru sebenarnya sangat termotivasi dan kreatif, tetapi terhalang keterbatasan pelatihan dan beban administratif yang tinggi.

“Itu membuat ruang inovasi mereka semakin sempit,” katanya.

Menjadi Kompas Moral dan Intelektual

Menurut Iva, langkah paling penting agar guru tetap menjadi kompas moral dan intelektual adalah bertransformasi dari instruktur menjadi mitra belajar yang reflektif. Guru perlu menghadirkan ruang dialog di kelas, membahas isu aktual, dan menanamkan nilai moral melalui keteladanan.

LPTK, termasuk kampus tempatnya mengajar, juga memiliki tanggung jawab besar.

“Kurikulum harus berubah dari orientasi konten ke pengembangan kompetensi dan identitas pendidik,” ujarnya. Pengalaman lapangan harus lebih autentik, dan calon guru harus dibekali keterampilan desain pembelajaran serta riset tindakan agar siap menjadi agen perubahan, termasuk di daerah tertinggal.

Pesan untuk Guru dan Harapan Pendidikan Indonesia

Di akhir wawancara, saya memintanya menyampaikan pesan untuk guru Indonesia.

“Di tangan gurulah api keingintahuan itu menyala. Warisan abadi guru bukan nilai rapor, melainkan karakter yang tumbuh dalam jiwa setiap generasi,” ucapnya.

Ia pun menggambarkan harapannya terhadap masa depan pendidikan Indonesia dalam 10–20 tahun mendatang. Yaitu sebuah ekosistem yang merata, personal, dan relevan, dengan sekolah sebagai pusat pengembangan talenta dan karakter, didukung guru-guru yang berdaya dan teknologi yang menjadi jembatan.

“Tujuan akhirnya bukan hanya menyiapkan anak untuk bekerja,” tutupnya, “tetapi, membekali mereka menghadapi kompleksitas kehidupan dan memajukan peradaban bangsa.” (***)

Tags:hari guru nasionalOPINI