TARAKAN, Redaktif.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih berpotensi terjadi di sebagian besar wilayah Kalimantan Utara dalam beberapa waktu ke depan, khususnya pada periode Januari hingga Februari.
Kondisi tersebut dipengaruhi oleh aktifnya sejumlah fenomena atmosfer yang meningkatkan pertumbuhan awan hujan di wilayah Kalimantan Utara, termasuk Kota Tarakan. BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi dampak cuaca ekstrem.
Secara klimatologis, Kalimantan Utara merupakan wilayah dengan curah hujan tinggi sepanjang tahun. Dalam perspektif meteorologi, daerah ini bahkan tidak dikategorikan memiliki musim kemarau sebagaimana wilayah lain di Indonesia.
Kepala Stasiun Meteorologi Juwata Tarakan, Muhammad Sulam Khilmi, menjelaskan bahwa musim kemarau menurut definisi BMKG baru dapat dinyatakan terjadi apabila curah hujan berada di bawah 50 milimeter dalam satu dasarian atau 10 hari, dan berlangsung selama tiga dasarian berturut-turut.
“Kondisi tersebut tidak pernah terpenuhi di Kalimantan Utara. Karena itu, wilayah ini secara data tidak memiliki musim kemarau,” ujarnya.
Ia menambahkan, persepsi masyarakat kerap berbeda dengan definisi meteorologi. Tidak turunnya hujan selama beberapa hari sering dianggap sebagai musim kemarau, meskipun secara ilmiah kondisi tersebut belum memenuhi kriteria.
“Persepsi itu wajar, namun berdasarkan data, hujan di Kaltara relatif tinggi sepanjang tahun,” katanya.
Berdasarkan catatan BMKG, bulan Januari 2025 tercatat sebagai periode dengan curah hujan tertinggi sepanjang tahun. Intensitas hujan pada periode tersebut bahkan lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini dipengaruhi oleh fenomena La Niña lemah serta aktifnya monsun Asia yang berlangsung pada periode November hingga Februari.
Monsun Asia membawa uap air dalam jumlah besar dari Benua Asia menuju wilayah Indonesia. Ketika uap air tersebut masuk ke wilayah Kalimantan, pertumbuhan awan hujan meningkat secara signifikan. Berbeda dengan monsun Australia yang bersifat kering, monsun Asia justru bersifat basah dan memperkuat potensi hujan.
BMKG juga mengingatkan adanya perubahan cuaca yang dapat terjadi secara cepat. Berdasarkan prakiraan cuaca terbaru, dalam tiga hari ke depan seluruh kabupaten dan kota di Kalimantan Utara berpeluang mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.
Wilayah tersebut meliputi Kota Tarakan, Kabupaten Bulungan, Nunukan, Malinau, dan Tana Tidung. Sementara pada tanggal 8, potensi hujan lebat diperkirakan masih terjadi di wilayah Nunukan dan Malinau.
Selain hujan lebat, BMKG juga menyoroti potensi dampak lanjutan berupa banjir, tanah longsor, angin kencang, serta peningkatan tinggi gelombang laut. Masyarakat yang tinggal di daerah rawan longsor maupun wilayah pesisir diminta untuk meningkatkan kewaspadaan.
Untuk sektor kelautan, Stasiun Meteorologi Juwata Tarakan secara rutin merilis prakiraan cuaca dan tinggi gelombang di tiga wilayah perairan utama, yakni Perairan Tarakan (termasuk Pulau Bunyu), Perairan Tanjung Selor, serta Perairan Sebatik–Nunukan. Selain itu, BMKG juga menyediakan prakiraan cuaca harian di 17 pelabuhan di Kalimantan Utara.
BMKG mengimbau masyarakat, baik yang beraktivitas di darat maupun di perairan, untuk terus memantau informasi cuaca melalui kanal resmi BMKG atau media yang menyebarluaskan informasi tersebut, guna meminimalkan risiko kerugian, terutama yang berpotensi mengancam keselamatan jiwa.


Ilustrasi hujan 


