Isu prediksi kiamat pada Jumat, 13 November 2026 kembali ramai di media sosial. Narasi yang beredar menyebut tanggal tersebut sebagai ramalan ilmuwan Amerika tentang akhir dunia.

Dikutip dari Majalah TIME, rujukan yang kerap dipakai mengarah ke laporan Majalah TIME yang mengulas hitungan matematis fisikawan Heinz von Foerster dari University of Illinois terkait laju pertumbuhan populasi manusia.

TIME menulis, yang disebut oleh Foerster “hari kiamat” dalam konteks model populasi yang ia susun—bukan berdasarkan pengalaman mistik. Dalam laporan itu, TIME mengutip pernyataan Foerster bahwa ia menyebut suatu titik waktu sebagai doomsday karena pada tanggal tersebut, dalam modelnya, jumlah populasi (N) menuju tak hingga.

“Untuk alasan yang jelas, t0 akan disebut ‘hari kiamat’, karena pada tanggal itu N (jumlah ‘elemen’, yakni manusia) menuju tak hingga,” tulis TIME mengutip Foerster.

Masih dari laporan yang sama, TIME menyebut tanggal yang paling sering dipetik warganet yakni tanggal kiamat adalah Jumat, 13 November 2026. Namun, Foerster menekankan “kiamat” yang ia maksud bukan kelaparan massal semata.

“Cicit kita tidak akan mati kelaparan. Mereka akan terhimpit sampai mati,” kata Foerster dalam kutipan yang dimuat TIME.

TIME juga memberi konteks penting bahwa Foerster tidak sedang meramal hari akhir secara harfiah. Media itu menulis, Foerster tidak benar-benar percaya umat manusia akan berkembang biak hingga tak terbatas pada 2026.

“Von Foerster sebenarnya tidak sungguh-sungguh percaya bahwa umat manusia akan berkembang biak hingga ‘tak hingga’ dalam 66 tahun,” tulis TIME.

Menurut TIME, persamaan tersebut dipakai sebagai cara yang menggugah perhatian untuk menunjukkan bahwa populasi yang tumbuh dengan laju makin cepat akan menghadapi masalah serius.

Kesimpulannya, kiamat 13 November 2026 yang viral lebih tepat dipahami sebagai istilah dramatis dari model matematika lama tentang risiko pertumbuhan populasi yang terus dipercepat—bukan ramalan akhir zaman. (*)

Sumber : Majalah TIME

Tags: