Oleh : Nicky Saputra

PEMABNGUNAN jalan lingkar atau ring road sangat cocok untuk mengembangkan pusat perkotaan, terlebih dalam mendukung pertumbuhan ekonomi secara merata. Jalan lingkar sejatinya adalah urat nadi baru yang memberi kehidupan tambahan bagi sebuah kota, terutama dalam hal perluasan wilayah pembangunan. Di tengah pertumbuhan jumlah penduduk, kendaraan, dan aktivitas ekonomi yang semakin padat, keberadaan ring road sudah menjadi pilihan strategis untuk mewujudkan perkembangan yang berkelanjutan.

Ring road mampu mengalihkan arus lalu lintas yang tidak perlu masuk ke pusat kota seperti kendaraan berat dan logistik antarwilayah. Bahkan, mobil pribadi dari luar kota dapat diarahkan untuk melintasi jalur lingkar tanpa membebani ruas jalan di inti kota. Jalan-jalan di pusat kota yang semakin hari semakin padat dapat terurai, sekaligus memperpanjang usia jalan utama. Sebuah kota yang memiliki jalan lingkar cenderung memiliki sistem transportasi yang lebih efisien, yang pada akhirnya berdampak positif terhadap produktivitas masyarakat.

Salah satu dampak paling signifikan dari pembangunan ring road adalah terbukanya peluang ekonomi di kawasan-kawasan baru yang sebelumnya terpinggirkan. Setiap akses jalan yang diperbaiki, diikuti oleh masuknya investasi. Kawasan industri, pergudangan, pusat logistik, bahkan perumahan dan pusat perbelanjaan mulai tumbuh di sepanjang koridor jalan lingkar. Hal ini menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru yang tidak lagi bergantung pada pusat kota. Banyak studi menunjukkan bahwa pembangunan ring road mampu meningkatkan nilai tanah secara signifikan di wilayah yang dilewatinya—pertanda bahwa pembangunan ini mampu mengangkat potensi ekonomi lokal.

Pembangunan ring road juga berkontribusi dalam memperluas wilayah urbanisasi secara lebih terkendali. Daripada terus memadatkan pusat kota, ring road mendorong pertumbuhan ke arah luar secara lebih merata. Ini memberi kesempatan bagi daerah-daerah pinggiran untuk ikut menikmati manfaat pembangunan, mulai dari infrastruktur dasar hingga akses terhadap pusat ekonomi dan pendidikan.

Di Tarakan, ada sebuah proyeksi besar yang dicanangkan sejak tahun 2015 yakni, pembangunan jalan lingkar dari Jalan Binalatung menuju Juwata sepanjang 21,8 km. Jalan yang telah dibangun sepanjang 13,1 km, sementara sisa yang belum terbangun sepanjang 8,7 km, merupakan bagian dari proyek jalan lingkar masa depan Kota Tarakan. Bila proyek ini rampung, bukan tidak mungkin perkembangan ekonomi Kota Tarakan akan tumbuh jauh lebih pesat.

Namun hingga kini, jalan ini tak kunjung diselesaikan karena berbagai kendala. Salah satunya adalah kebutuhan anggaran yang cukup besar. Bukan hanya soal geografis yang menjadi tantangan, sejumlah lahan yang masih bersengketa juga menjadi hambatan. Pada tahun 2019, Pemprov Kaltara telah mengalokasikan sekitar Rp9 miliar lebih untuk pengerjaan agregat dan land clearing sepanjang 4 km.

Proyek jalan lingkar Kota Tarakan ini bukan sekadar proyek ambisius, tetapi upaya strategis membuka konektivitas dan meningkatkan mobilitas warga. Dengan adanya jalan lingkar ini, pemerintahan sebelumnya sangat berharap Pemerintah Kota Tarakan dapat turut serta menyelesaikan akses jalan yang termasuk dalam jalur ring road tersebut. Harapannya, konektivitas antarwilayah di kota ini akan terbangun dengan baik melalui jalur tersebut.

Dalam era di mana kota-kota berlomba untuk menjadi pusat pertumbuhan regional, jalan  ring road dapat menjadi andalan utama. Ring road menciptakan fondasi yang kokoh bagi pembangunan jangka panjang. Kota yang tidak mempersiapkan infrastruktur transportasi alternatif seperti jalan lingkar akan lebih cepat mengalami stagnasi akibat kemacetan, ketimpangan wilayah, dan tekanan terhadap ruang kota yang semakin terbatas.

Jalan lingkar bukan sekadar jalan memutar. Jalan ini adalah penunjang ekonomi kota di masa depan. Kota-kota yang ingin tumbuh secara inklusif, efisien, dan kompetitif harus berani berinvestasi pada infrastruktur semacam ini. Ia bukan hanya pengurai kemacetan. Kini, pertanyaannya bukan lagi, “Apakah kita perlu membangun ring road?” melainkan, “Berapa banyak waktu dan potensi yang hilang jika kita terus menundanya?” (***)

Tags:OPINI