Dalam catatan sejarah Islam, nama Utsman bin Affan kerap hadir sebagai sosok dermawan yang tangannya tak pernah ragu mengulurkan bantuan. Di antara banyak kisah kebaikannya, dua peristiwa menonjol sebagai bukti betapa kekayaan baginya bukan semata soal harta, melainkan amanah yang harus memberi manfaat. Seperti pembelian Sumur Raumah dan pembiayaan besar-besaran untuk Perang Tabuk.
Seperti dikuti dari berbagai sumber, pada masa itu penduduk Madinah menghadapi krisis air. Sebagian besar sumber air berada di tangan pribadi, dan salah satu yang paling vital ialah Sumur Raumah—sumur yang dimiliki seorang Yahudi dan menjadi sumber air terbaik bagi masyarakat. Sayangnya, air dari sumur itu tidak gratis. Setiap tetesnya dihargai, membuat sebagian warga kesulitan untuk mendapatkan kebutuhan pokok mereka.
Melihat kondisi tersebut, Nabi Muhammad SAW mengajak para sahabat untuk membantu dengan membeli sumur itu agar dapat digunakan bebas oleh masyarakat. Seruan itu langsung disambut oleh Utsman bin Affan. Tanpa banyak mempertimbangkan keuntungan duniawi, Usman mendatangi pemilik sumur. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa harga yang diminta sangat tinggi, namun Utsman menerimanya demi risalah kemaslahatan umat.
Setelah sumur itu menjadi miliknya, Utsman mengumumkan bahwa seluruh masyarakat bisa mengambil air secara cuma-cuma. Tidak ada lagi batasan, tidak ada biaya, tidak ada syarat. Air yang sebelumnya menjadi sumber kesulitan, kini berubah menjadi tanda kasih sayang dan kemanusiaan. Sumber itu mengalirkan kehidupan bagi Madinah, dan nama Usman juga ikut mengalir dalam ingatan umat sebagai wakaf yang tak terputus.
Beberapa waktu kemudian, ujian lain datang pada masa Perang Tabuk. Ketika pasukan Muslim harus menghadapi perjalanan panjang dan biaya yang sangat besar, Nabi kembali meminta bantuan. Di saat banyak sahabat memberikan sebagian harta yang mereka mampu, Usman datang dengan sumbangan yang mengejutkan semua orang.
Riwayat mencatat, Utsman memberi 300 unta lengkap dengan perlengkapannya, dan 1.000 dinar emas yang ia letakkan langsung di pangkuan Rasulullah SAW. Melihat itu, Nabi tersenyum dan memuji kedermawanannya, seraya bersabda, “Tidak ada yang membahayakan Usman setelah hari ini.” Ucapan itu bukan sekadar pujian, melainkan penegasan betapa tulus dan besarnya peran Utsman dalam menguatkan pondasi umat.
Jika dikonversikan ke nilai kekayaan modern berdasarkan harga emas hari ini, jumlah tersebut mencapai angka yang mencengangkan. Dengan standar satu dinar setara 4,25 gram emas, maka 1.000 dinar bernilai sekitar 4.250 gram emas, atau setara lebih dari Rp 9,5 miliar dalam nilai sekarang.
Sementara itu, harga seekor unta pada masa itu diperkirakan berada di kisaran 7 hingga 10 dinar. Jika 300 unta dihitung berdasarkan nilai tersebut, totalnya setara dengan Rp 20 miliar hingga Rp 28 miliar. Secara keseluruhan, derma Utsman dalam peristiwa itu — mulai dari pembiayaan pasukan hingga pemberian emas — dapat mencapai nilai Rp 29 miliar sampai Rp 38 miliar dalam konversi sederhana ke harga emas masa kini.
Dua kisah ini, yang sering diceritakan kembali sejak berabad-abad lalu, masih menjadi inspirasi hingga kini. Dari sumur yang mengalirkan kehidupan hingga pasukan yang disokong untuk mempertahankan kebenaran, Utsman menunjukkan bahwa kepemilikan tak pernah berarti apa-apa jika tidak memberi manfaat bagi sesama.
Apa yang pernah dilakukan oleh Utsman bin Affan merupakan salah satu contoh yang dapat diterapkan dalam kehidupan kita hari ini. Bahwa memberikan bantuan tanpa mengharapkan keuntungan demi jalan kebenaran merupakan suatu hal yang baik serta tidaklah mudah dilakukan. Sekalipun orang tersebut memiliki kekayaan, belum tentu dapat menerapkan apa yang dilakukan Utsman bin Affan. (***)





