Oleh : Nicky Saputra
BUKAN karena dadakan. Bukan pula karena terburu-buru. Lahirnya media ini—yang saya beri nama Redaktif—adalah buah dari perjalanan panjang, kegigihan, dan mimpi yang tak pernah padam. Ia tumbuh perlahan, kadang goyah, tapi selalu mencari bentuk.
Redaktif bukan sekadar portal berita. Ia hadir dari kegelisahan. Dari pertanyaan-pertanyaan yang tak kunjung dijawab oleh berita-berita yang hanya menyajikan permukaan. Saya ingin lebih dari itu. Ingin menulis cerita di balik berita.
Segalanya bermula dari sebuah minat sederhana: membaca blog. Tahun 2010, tulisan-tulisan di internet membuka pintu bagi imajinasi. Saya mulai membayangkan diri menjadi seorang penulis, menyalurkan isi kepala lewat kata. Namun mimpi itu tak serta-merta menjelma. Saya melamar berkali-kali ke surat kabar harian (SKH), dan baru mendapat tempat tiga tahun kemudian.
Tahun 2017, dunia media online di Tarakan, Kalimantan Utara, belum sepadat sekarang. Di Jakarta, Makassar, atau kota-kota besar lainnya, portal berita bermunculan seperti jamur di musim hujan. Sementara di kota saya, SKH masih berjaya. Saya pun menimba pengalaman di salah satu SKH ternama di Jakarta. Dari sanalah tumbuh cita-cita: suatu hari nanti saya ingin memiliki media sendiri.
Sekembalinya ke Tarakan, saya mulai menyusun rencana. Konsep telah matang. Biaya awal dihitung. Bahkan keuntungan pun diproyeksikan. Lalu takdir mempertemukan saya dengan seseorang yang juga punya mimpi yang sama. Saya sampaikan, “Saya tak punya modal. Tapi saya punya konsep.” Ia tertarik. Dan proyek pun berjalan.
Sayangnya, di detik-detik peluncuran, redaktur senior yang saya ajak memilih mundur. Alasannya sederhana: tidak sejalan dengan pendana. Saya sempat goyah, namun tetap melanjutkan bersama tim wartawan yang pernah bekerja di berbagai SKH di Kalimantan Utara. Meski sempat berjalan, media itu tak bertahan lama. Saya memutuskan mundur. Sebab, apa arti media jika prinsipnya digeser oleh kepentingan?
Tahun 2021, saya menggagas kembali sebuah media baru. Meski masih bekerja di perusahaan media lain, saya mulai membangun media ini diam-diam. Saya mengajak mentor terbaik untuk bergabung. Karena kepercayaan penuh, saya bahkan tak mencantumkan nama saya dalam akta perusahaan. Bagi saya, tanggung jawab lebih utama daripada pengakuan legal.
Media ini sempat bersinar. Salah satu laporan kami berdampak besar: sebuah perusahaan batu bara besar di Kalimantan Utara dijatuhi sanksi oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Tapi politik punya caranya sendiri membuat suasana menjadi rumit. Demi menjaga stabilitas, saya memilih untuk menepi dan membiarkan media itu meredup. Hingga akhirnya, media itu benar-benar lepas dari tangan. Tak ada lagi kendali hukum. Nama-nama di redaksional berganti. Saya hanya bisa menyebut diri sebagai penggagas awal. Tak lebih.
Redaktif: Bukan Sekadar Media
Setelah melewati berbagai jalan berliku, Ramadan 2025 menjadi titik balik. Saya memutuskan berhenti dari tempat saya bekerja sejak 2018. Bukan karena kehilangan semangat, tapi karena ingin berdiri sepenuhnya di atas kaki sendiri.
Saya kira membangun website itu mudah. Ternyata tidak. Ada banyak istilah baru: hosting, domain, coding—semuanya saya pelajari dari nol. Saya ikut setiap prosesnya, menyentuhnya dengan tangan sendiri. Redaktif lahir dari peluh, waktu, dan keinginan kuat untuk membuat sesuatu yang lebih jujur.
Namun, ketika website itu akhirnya rampung, saya justru dilanda kebingungan. Tidak seperti beberapa tahun lalu, semangat kali ini seperti tertinggal di masa lalu. Tapi perlahan, seseorang datang. Kawan lama, yang meski punya media sendiri, tak segan menawarkan ide dan bergabung. Kami berdiskusi nyaris tiap hari. Bahkan barista di sebuah kafe sudah hafal wajah kami.
Suatu hari, ia bertanya, “Siapa yang membiayai Redaktif kalau ini benar-benar jalan?” Saya tersenyum dan menjawab, “Mungkin dengan modal nekat dan tekad.” Ia mengira saya bercanda. Tapi itulah jawaban paling jujur yang bisa saya beri.
Dari percakapan ke percakapan, hadir pula seorang kawan lainnya. Ia bukan dari dunia media, tapi pemikirannya luas. Tanpa diminta, ia merancang logo untuk Redaktif, lengkap dengan filosofinya. Warna merah sebagai lambang keberanian, kekuatan, dan keberuntungan. Warna hitam melambangkan kemandirian dan disiplin. Dan huruf “R” sebagai simbol dari arah dan pergerakan. Baginya, logo adalah lambang yang sakral. Harus diciptakan dengan kesungguhan. Bagi saya, logo ini adalah penanda bahwa mimpi ini bukan lagi wacana.
Ketika Cerita Menyampaikan Berita
Redaktif hadir untuk menyampaikan berita dengan cara yang berbeda. Kami ingin bertutur. Menyajikan cerita di balik berita. Bukan sekadar menyampaikan fakta, tapi juga memahami konteks, menggambarkan suasana, menjangkau sisi manusiawi dari sebuah peristiwa.
Gaya penulisan kami ringan, santai, dan dekat dengan pembaca. Kami percaya, di tengah arus informasi yang deras dan cepat, yang dibutuhkan bukan hanya kecepatan, tapi juga kedalaman. Sebuah narasi yang tak hanya menyampaikan apa yang terjadi, tapi mengapa itu penting untuk diketahui.
Redaktif tidak hanya hadir di portal berita. Kami juga ada di media sosial seperti TikTok, menyuguhkan konten edukatif dan wawancara langsung dengan narasumber dari berbagai kalangan. Dari pejabat, pelaku usaha, aktivis, hingga masyarakat biasa yang punya cerita luar biasa.
Tulisan ini adalah langkah pertama dari perjalanan panjang Redaktif. Sebuah permulaan kecil dalam kemandirian bermedia. Kami tahu medan ini tidak mudah. Tapi kami punya semangat untuk tumbuh dan bertahan di tengah persaingan media digital yang makin kompetitif.
Redaktif.id adalah jawaban dari pencarian panjang. Kami ingin menjadi sahabat pembaca. Menyampaikan informasi yang jujur, berimbang, dan ditulis dengan cara yang enak dibaca. Karena bagi kami, berita bukan sekadar disampaikan. Ia harus bisa bertutur. Dan itulah Redaktif. (***)


logo redaktif 


