Oleh : Sisi Nasila

Korupsi di Indonesia seperti kisah lama. Setiap kali ada kasus baru, masyarakat ramai membicarakannya, yang menimbulkan kemarahan, dan kemudian perlahan hilang. Beberapa bulan kemudian, kasus baru muncul lagi, dan siklus ini terus berulang. Banyak orang menjadi terbiasa dengannya dengan waktu.

Masalahnya bukan hanya kehilangan uang Negara, tetapi juga merusak kepercayaan. Setelah masyarakat menyaksikan para pejabat yang seharusnya memberi contoh namun menyalahgunakan kekuasaan mereka, kepercayaan mereka secara bertahap menghilang. Orang-orang mulai berpikir, “buat apa jujur, kalau yang di atas saja tidak?” Inilah kerusakan yang jauh lebih berbahaya daripada kerugian materi.

Kepercayaan adalah modal sosial terpenting untuk membangun bangsa. Jika rakyat tidak percaya pada pemerintah, kebijakan apa pun akan terasa sia-sia. Rasa pesimis meningkat, partisipasi publik menurun, dan akhirnya apatis. Orang-orang menjadi tidak peduli karena mereka percaya bahwa semua sudah rusak sejak awal. Untuk menjadi jujur, korupsi sering dimulai dari hal-hal kecil yang dianggap tidak penting. Memberikan “uang terima kasih” untuk menyelesaikan masalah dengan cepat atau menitipkan seseorang untuk posisi tertentu adalah beberapa contoh kebiasaan kecil yang menyebabkan korupsi meningkat karena kita terbiasa menoleransi perilaku yang tidak seharusnya.

Banyak orang percaya bahwa korupsi adalah masalah pejabat atau orang penting. Padahal, budaya yang menerima ketidakjujuran adalah sumber masalahnya. Seringkali kita menganggap korupsi hanya terjadi di gedung tinggi, tetapi praktik ini dapat terjadi di mana saja, bahkan di lingkungan kita. Pemberantasan korupsi seringkali hanya dipandang dari sisi hukum seperti tangkap, adili, penjara. Meskipun demikian, prinsip dan cara berpikir adalah sumber masalah ini. Ketika pandangan bahwa jabatan adalah kesempatan untuk memperoleh keuntungan tetap ada, korupsi akan tetap ada. KPK, Kejaksaan, atau lembaga hukum lain memang berperan penting, tapi mereka tidak bisa bekerja sendirian. Dari birokrasi hingga masyarakat umum, korupsi sudah menyebar ke semua lapisan masyarakat. Akibatnya, untuk membasminya, semua pihak harus berpartisipasi.

Pendidikan sekarang sangat penting. Anak-anak harus dibesarkan dalam lingkungan yang menanamkan prinsip kejujuran dan tanggung jawab. Integritas harus menjadi kebiasaan, bukan hanya slogan, di rumah, sekolah, dan tempat kerja. Tidak ada gunanya berbicara tentang moral jika kita melakukan hal-hal yang tidak benar. Teknologi juga bisa membantu, misalnya lewat sistem pelayanan publik digital yang lebih transparan. Tapi apa pun sistemnya, hasilnya sama saja. Kebijakan bukan satu-satunya sumber perubahan, tetapi juga kesadaran bersama akan pentingnya kejujuran sebagai bagian dari identitas bangsa. Kita juga perlu mengubah cara pandang terhadap pejabat publik. Seseorang harus melihat posisi sebagai amanah, bukan kesempatan. Kita harus mengembalikan makna jabatan sebagai tugas, bukan keuntungan pribadi. Pejabat yang jujur seharusnya dihormati.

Generasi muda sangat bertanggung jawab atas hal ini. Banyak anak muda sekarang bersuara, menentang korupsi, dan mendukung transparansi. Mereka aktif di media sosial, berpartisipasi dalam gerakan antikorupsi, dan menentang standar ketidakjujuran. Ini patut diapresiasi, karena keberanian kelompok muda yang tidak takut berbeda selalu dimulai dengan perubahan besar. Perjuangan melawan korupsi, bagaimanapun, tidak mudah. Bagi mereka yang jujur, akan selalu ada godaan, tekanan, dan bahkan ancaman. Namun, justru di situlah integritas itu penting: berani tetap bersih meskipun sendirian.

Tidak mungkin untuk mengantisipasi penghapusan korupsi dalam waktu singkat, tetapi kita dapat mulai dengan langkah-langkah kecil, seperti menolak suap, gratifikasi, dan berani mengatakan “tidak” pada tindakan curang. Jika setiap orang memulai dari diri mereka sendiri, sistem yang kotor akan secara bertahap berhenti berfungsi. Meskipun Indonesia memiliki banyak orang yang cerdas, negara ini membutuhkan lebih banyak orang yang jujur. Meskipun kejujuran mungkin tidak membuat seseorang kaya dalam semalam, ia dapat menyelamatkan masa depan negara.

Korupsi adalah lebih dari sekadar pelanggaran hukum, itu adalah representasi dari prinsip-prinsip yang kita pilih untuk dijaga. Dan luka kepercayaan akan tetap ada selama kita belum memilih untuk menjalankan kejujuran di atas segalanya. Setiap kali ada kasus baru, saya harus berhenti menjadi marah. Sekarang yang diperlukan bukan kemarahan sesaat, tetapi kesadaran yang lebih besar bahwa bangsa ini hanya akan pulih jika kita semua berkomitmen untuk berubah. Korupsi tidak akan hilang dengan satu kebijakan, tapi bisa berkurang dengan satu sikap sederhana: berani jujur. Karena keputusan kecil untuk menghindari kesalahan selalu membawa perubahan besar. (***)

Editor: Nicky Saputra

Tentang Penulis
Sisi Nasila adalah mahasiswi Program Studi Psikologi di Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur. Ia memiliki ketertarikan pada isu-isu sosial dan perilaku manusia, khususnya yang berkaitan dengan nilai kejujuran, moralitas, dan karakter bangsa. Melalui tulisannya, Sisi berupaya mengajak pembaca untuk melihat kembali peran individu dalam membangun budaya antikorupsi dan menumbuhkan kesadaran kolektif demi perubahan yang lebih baik.

Tags:OPINI