Era digital telah membawa perubahan signifikan terhadap cara generasi muda berinteraksi, berkomunikasi, serta memaknai identitas kebangsaan. Generasi Z sebagai kelompok yang lahir dan tumbuh dalam lingkungan serbadigital memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan nasional melalui konsep Bela Negara 4.0. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis kontribusi Generasi Z dalam memperkuat nasionalisme dan ketahanan digital di tengah tantangan globalisasi, disinformasi, serta penetrasi budaya asing.
Dengan merujuk berbagai penelitian dan literatur terkini, artikel ini mengkaji bagaimana nilai Pancasila, pendidikan sejarah, dan wawasan nusantara tetap relevan sebagai fondasi pembentukan karakter kebangsaan di era digital. Hasil kajian menunjukkan bahwa Generasi Z memiliki potensi besar dalam memanfaatkan teknologi untuk menyebarkan nilai-nilai kebangsaan, melawan hoaks, serta menciptakan konten positif yang memperkuat identitas nasional.
Namun, tantangan seperti rendahnya literasi digital, dominasi budaya global, dan polarisasi informasi menuntut strategi penguatan karakter dan literasi kebangsaan yang lebih adaptif. Dengan demikian, Bela Negara 4.0 menekankan pentingnya sinergi antara teknologi, nilai kebangsaan, dan pendidikan karakter untuk memastikan generasi muda mampu menjadi garda terdepan dalam menjaga persatuan dan kedaulatan bangsa.
Perkembangan teknologi digital membawa perubahan besar terhadap pola perilaku, interaksi sosial, dan cara generasi muda memaknai identitas kebangsaan. Generasi Z, yang hidup dalam dunia serbadigital, menghadapi tantangan besar berupa derasnya arus informasi, penetrasi budaya global, serta meningkatnya risiko disinformasi. Dalam konteks tersebut, konsep Bela Negara 4.0 menuntut penguatan nasionalisme berbasis literasi digital, pemahaman sejarah, serta kemampuan mempertahankan nilai-nilai Pancasila di tengah disrupsi teknologi.
Digitalisasi memberikan peluang sekaligus tantangan bagi pembinaan karakter kebangsaan. Rahmaddani & Fahmi (2025) menegaskan bahwa digitalisasi telah mengubah pola komunikasi dan hubungan sosial, sehingga peran Gen Z dalam membangun komunitas digital berbasis nilai kebangsaan menjadi sangat penting. Sejalan dengan itu, Pradipta et al. (2024) menemukan bahwa kecintaan terhadap tanah air dan upaya mempertahankan identitas nasional tetap kuat di kalangan Gen Z melalui aktivitas kreatif di media digital. Hal ini menunjukkan bahwa ruang digital dapat menjadi arena baru untuk membangun komitmen kebangsaan.
Dalam perspektif ideologis, nilai Pancasila tetap relevan sebagai panduan moral Generasi Z menghadapi dinamika era digital. Berkata (2025) mengungkapkan bahwa Gen Z masih menjadikan Pancasila sebagai dasar dalam menyaring pengaruh negatif teknologi. Senada dengan itu, Jehamun (2025) menjelaskan bahwa nilai Pancasila memegang peran penting dalam membantu Gen Z memaknai identitas kebangsaan dan membentuk ketahanan karakter di tengah tantangan global.
Kesadaran nasional juga menjadi isu utama dalam dinamika identitas Gen Z. Merina & Djono (2025) menunjukkan bahwa Gen Z memiliki peran signifikan dalam menjaga nasionalisme di era digital, terutama melalui keterlibatan mereka dalam berbagai kampanye kebangsaan di media sosial. Namun demikian, tantangan besar tetap ada. Kurniawaty & Widayatmo (2024) menyebutkan bahwa nasionalisme di era digital menghadapi ancaman berupa degradasi budaya, disinformasi, dan penetrasi ideologi yang dapat menggeser nilai-nilai kebangsaan.
Pendidikan juga menjadi elemen penting dalam menumbuhkan nasionalisme digital. Naitboho et al. (2025) menekankan bahwa penguatan pendidikan sejarah melalui media digital efektif dalam meningkatkan pemahaman Gen Z tentang nasionalisme. Sementara itu, Nikmah et al. (2023) menunjukkan pentingnya pemahaman wawasan nusantara sebagai benteng identitas di tengah arus globalisasi. Kedua penelitian tersebut menegaskan bahwa literasi sejarah dan wawasan kebangsaan merupakan fondasi Bela Negara 4.0.
Namun, Generasi Z juga menghadapi tantangan besar akibat kuatnya arus budaya global. Fatkuroji (2023) menemukan bahwa media sosial mendorong meningkatnya paparan budaya asing, sehingga komitmen kebangsaan perlu diperkuat melalui pendekatan berbasis digital yang relevan dengan karakter Gen Z. Oleh karena itu, diperlukan strategi Bela Negara 4.0 yang berfokus pada ketahanan informasi, literasi digital kritis, dan pembentukan karakter kebangsaan yang adaptif dengan perkembangan teknologi modern.
Dengan berbagai temuan tersebut, jelas bahwa Generasi Z memegang peran penting dalam menjaga integritas nasional di era digital. Bela Negara 4.0 tidak hanya menuntut kesiapsiagaan fisik, tetapi menekankan kemampuan menjaga identitas bangsa, melawan disinformasi, dan memanfaatkan teknologi untuk memperkuat nasionalisme. Oleh karena itu, kajian mengenai kontribusi Gen Z dalam Bela Negara 4.0 menjadi sangat relevan untuk dikembangkan sebagai respons terhadap tantangan zaman digital.
Konsep Bela Negara 4.0 dan Relevansinya bagi Generasi Z
Bela Negara 4.0 merupakan konsep pembelaan negara yang beradaptasi dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Di era digital, bentuk bela negara tidak lagi bertumpu pada kegiatan fisik atau militeristik semata, tetapi lebih menekankan pada ketahanan digital, literasi informasi. Rahmaddani & Fahmi (2025) menjelaskan bahwa digitalisasi telah mengubah pola interaksi sosial masyarakat dan memperkuat peran ruang digital sebagai arena pembentukan identitas. Dalam konteks ini, Gen Z memiliki peran penting sebagai agen perubahan karena kedekatan mereka dengan teknologi digital. Mereka tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga kreator konten yang dapat mempengaruhi konstruksi sosial kebangsaan.
Penguatan Identitas Nasional Gen Z di Era Digital
Tantangan terbesar Generasi Z dalam menjaga semangat kebangsaan adalah derasnya penetrasi budaya global dan informasi lintas negara. Namun, penelitian Pradipta et al. (2024) menunjukkan bahwa Gen Z tetap memiliki rasa cinta tanah air yang kuat dan berupaya mempertahankan identitas nasionalnya melalui berbagai aktivitas digital kreatif, seperti kampanye edukasi dan konten nasionalisme di media sosial.
Temuan tersebut didukung oleh Merina & Djono (2025) yang menyatakan bahwa kesadaran nasional Gen Z masih terjaga melalui partisipasi mereka dalam gerakan digital yang mempromosikan nilai-nilai persatuan, toleransi, dan kebanggaan terhadap Indonesia. Aktivitas ini menunjukkan bahwa ruang digital dapat berfungsi sebagai medium baru untuk membangun komitmen kebangsaan.
Namun, identitas nasional Gen Z tetap berada dalam tekanan. Kurniawaty & Widayatmo (2024) menekankan adanya tantangan besar berupa disinformasi, konten global yang mendominasi, serta menurunnya minat untuk mengeksplorasi literatur kebangsaan. Tantangan ini membutuhkan strategi penguatan identitas agar Gen Z tetap memiliki fondasi yang kokoh dalam menyikapi perkembangan global.
Relevansi Nilai Pancasila dalam Bela Negara 4.0
Pancasila tetap menjadi kompas moral bagi generasi muda dalam menghadapi isu-isu digital seperti ujaran kebencian, radikalisme online, dan polarisasi sosial. Berkata (2025) menemukan bahwa Gen Z masih memandang Pancasila sebagai ideologi yang relevan dan menjadi dasar dalam menyaring pengaruh luar yang tidak sesuai dengan nilai kebangsaan.
Selaras dengan itu, Jehamun (2025) menjelaskan bahwa pemahaman nilai Pancasila oleh Gen Z tidak hanya bersifat konseptual, tetapi juga menjadi pedoman dalam berperilaku di ruang digital. Pancasila membantu mereka menjaga etika komunikasi, membangun toleransi, serta mencegah bias informasi yang dapat memicu perpecahan. Dengan demikian, internalisasi Pancasila merupakan pilar utama Bela Negara 4.0, karena mampu menopang ketahanan karakter generasi muda di tengah derasnya perubahan sosial.
Peran Pendidikan Sejarah dan Wawasan Nusantara dalam Memperkuat Bela Negara Digital
Pendidikan sejarah menjadi instrumen strategis dalam membangun semangat bela negara berbasis digital. Naitboho et al. (2025) menegaskan bahwa pembelajaran sejarah dengan dukungan teknologi mampu meningkatkan pemahaman nasionalisme Gen Z secara lebih efektif. Media digital seperti video edukasi, platform pembelajaran daring, dan interaktifitas digital menjadikan sejarah lebih dekat dengan generasi muda.
Selain sejarah, wawasan nusantara juga menjadi bekal penting untuk memperkuat identitas kebangsaan Gen Z. Nikmah et al. (2023) menyatakan bahwa pemahaman mengenai jati diri bangsa, keberagaman wilayah, dan kekayaan budaya Indonesia membantu Gen Z menghadapi arus globalisasi dan budaya populer asing. Pengetahuan tersebut membangun rasa bangga dan tanggung jawab terhadap negara. Dengan demikian, integrasi pendidikan sejarah dan wawasan nusantara dalam ruang digital merupakan strategi yang sangat efektif untuk membangun Bela Negara 4.0.
Tantangan Era Digital terhadap Komitmen Kebangsaan Generasi Z
Meskipun memiliki potensi besar, Generasi Z menghadapi berbagai tantangan serius dalam mempertahankan nilai bela negara. Fatkuroji (2023) mengungkapkan bahwa masuknya budaya global melalui media sosial sering menyebabkan Gen Z mengalami erosi identitas nasional. Konten budaya asing yang dominan dapat menggeser nilai-nilai lokal, mengurangi rasa nasionalisme, bahkan memengaruhi gaya hidup dan cara pandang generasi muda.
Tantangan lainnya adalah rendahnya literasi digital dalam membedakan informasi akurat dan hoaks. Hal ini dapat membuka peluang penyebaran radikalisme online, polarisasi politik, dan propaganda yang memecah belah bangsa. Kurniawaty & Widayatmo (2024) menambahkan bahwa kurangnya minat terhadap sejarah dan wawasan kebangsaan di kalangan Gen Z semakin memperbesar risiko tersebut. Namun demikian, penelitian-penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa tantangan tersebut dapat diatasi melalui strategi penguatan literasi digital dan karakter kebangsaan berbasis teknologi.
Strategi Optimalisasi Peran Generasi Z dalam Bela Negara 4.0
Berbagai temuan dari seluruh penelitian pada gambar menunjukkan bahwa Gen Z sebenarnya memiliki potensi besar sebagai aktor Bela Negara 4.0. Beberapa strategi yang dapat dilakukan antara lain:
1) Penguatan literasi digital: mengajarkan kemampuan memilah informasi, memahami etika digital, dan melawan disinformasi.
2) Internalisasi nilai Pancasila: sebagaimana ditegaskan Berkata (2025) dan Jehamun (2025), nilai Pancasila harus terus diperkuat melalui pendidikan formal maupun konten digital.
3) Pemanfaatan teknologi untuk kampanye kebangsaan: kreativitas Gen Z dalam membuat konten digital dapat menjadi media efektif memperkuat nasionalisme.
4) Revitalisasi pendidikan sejarah dan wawasan Nusantara: temuan Naitboho et al. (2025) dan Nikmah et al. (2023) menunjukkan bahwa pendidikan berbasis digital mampu membangun kesadaran kebangsaan secara lebih menarik bagi generasi muda.
5) Penciptaan ruang digital yang sehat dan edukatif: keterlibatan pemerintah, sekolah, dan komunitas digital diperlukan untuk menyediakan platform edukasi kebangsaan yang relevan bagi Gen Z.
Secara keseluruhan, hasil analisis dari berbagai penelitian menunjukkan bahwa Generasi Z memiliki potensi besar untuk menjadi pilar utama Bela Negara 4.0, yaitu bela negara yang berorientasi pada ketahanan digital, penguatan identitas nasional, dan adaptasi nilai kebangsaan dalam ruang siber. Seluruh studi yang dirujuk memberikan gambaran bahwa Gen Z bukan hanya menghadapi tantangan, tetapi juga memiliki kekuatan signifikan dalam memanfaatkan teknologi sebagai sarana memperkuat nasionalisme.
Digitalisasi telah mengubah cara generasi muda berinteraksi, mencari informasi, dan membangun identitas diri, sebagaimana dijelaskan Rahmaddani & Fahmi (2025). Namun penelitian-penelitian lain menunjukkan bahwa Gen Z tetap memiliki komitmen kuat terhadap nilai kebangsaan. Mereka membuktikan kecintaan terhadap tanah air Pradipta et al. (2024), menjaga kesadaran nasional Merina & Djono (2025) serta mempertahankan Pancasila sebagai pedoman etika di ruang digital (Berkata, 2025; Jehamun, 2025).
Di sisi lain, tantangan digital seperti disinformasi, penetrasi budaya asing, dan rendahnya literasi kebangsaan sebagaimana dikemukakan oleh Kurniawaty & Widayatmo (2024) serta Fatkuroji (2023), menuntut upaya penguatan karakter dan pendidikan nasionalisme yang lebih adaptif. Upaya ini dapat dilakukan melalui revitalisasi pendidikan sejarah berbasis digital (Naitboho et al., 2025) serta penguatan wawasan nusantara (Nikmah et al., 2023) yang relevan dengan kebutuhan generasi masa kini.
Dengan demikian, pembahasan ini menegaskan bahwa Bela Negara 4.0 bukanlah konsep yang bersifat militeristik, tetapi merupakan paradigma baru bela negara yang menempatkan kreativitas digital, literasi informasi, pemahaman sejarah, dan penghayatan nilai Pancasila sebagai fondasi. Keberhasilan Bela Negara 4.0 sangat bergantung pada kemampuan Gen Z untuk menavigasi tantangan digital sekaligus memanfaatkan teknologi untuk memperkokoh identitas nasional di era globalisasi.
Bela Negara 4.0 merupakan paradigma baru pembelaan negara yang relevan dengan perkembangan teknologi dan dinamika masyarakat digital. Konsep ini menuntut Generasi Z untuk tidak hanya mempertahankan nilai-nilai kebangsaan secara konvensional, tetapi juga melalui ketahanan digital, literasi informasi, dan pemanfaatan teknologi sebagai sarana memperkuat identitas nasional. Berdasarkan berbagai penelitian yang dirujuk, terlihat bahwa Gen Z memiliki kemampuan, kreativitas, dan posisi strategis dalam menjaga persatuan bangsa di ruang digital.
Penelitian Rahmaddani & Fahmi (2025) menunjukkan bahwa digitalisasi telah merevolusi hubungan sosial sekaligus membuka peluang bagi Gen Z untuk membangun komunitas kebangsaan berbasis teknologi. Sementara itu, Pradipta et al. (2024) serta Merina & Djono (2025) menegaskan bahwa kecintaan tanah air dan kesadaran nasional Gen Z tetap kuat, terlihat dari partisipasi aktif mereka dalam aktivitas digital yang mempromosikan nilai persatuan. Nilai Pancasila juga tetap relevan bagi generasi muda sebagaimana dinyatakan Berkata (2025) dan Jehamun (2025), menjadi kompas moral untuk bersikap bijak di dunia maya.
Pendidikan sejarah dan wawasan nusantara berperan penting dalam memperkuat Bela Negara 4.0. Melalui pembelajaran berbasis digital, Gen Z dapat memahami sejarah dan identitas bangsa secara lebih menarik dan mendalam (Naitboho et al., 2025; Nikmah et al., 2023). Namun, tantangan di era digital tetap besar. Disinformasi, budaya global yang dominan, dan menurunnya minat terhadap literatur kebangsaan sebagaimana dikemukakan Kurniawaty & Widayatmo (2024) dan Fatkuroji (2023), membutuhkan strategi penguatan karakter dan literasi digital yang lebih sistematis.
Secara keseluruhan, Generasi Z memiliki potensi besar sebagai aktor utama Bela Negara 4.0. Agar potensi ini dapat dioptimalkan, diperlukan upaya bersama melalui pendidikan, kebijakan publik, ekosistem digital yang sehat, serta penguatan nilai Pancasila dan nasionalisme dalam berbagai platform digital. Bela Negara 4.0 pada akhirnya adalah tentang bagaimana bangsa ini mampu memanfaatkan teknologi untuk menjaga identitas, persatuan, dan kedaulatan di tengah tantangan zaman digital. (***)
Penulis : Putri Nuraini, Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur
Tentang Penulis
Putri Nuraini mahasiswi Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur, memiliki minat pada kajian kebangsaan, generasi muda, serta dinamika digital dalam konteks pembangunan karakter nasional. Dalam penulisan artikel ini, Putri berupaya menganalisis peran strategis Generasi Z dalam Bela Negara 4.0 dengan pendekatan akademik serta merujuk berbagai sumber ilmiah yang relevan.
Penulisan artikel ini berada di bawah bimbingan Bapak Iqbal Saputra Zana, S.Sos., M.A.P., selaku dosen pengampu yang memberikan arahan, pendampingan, dan masukan dalam proses penyusunan karya ilmiah. Dengan dukungan tersebut, penulis berharap artikel ini dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan literasi kebangsaan dan wacana akademik di lingkungan pendidikan tinggi.
Daftar Pustaka
Berkata, E. (2025). Gen Z Buktikan Pancasila Relevan di Era Digital. Rri.Co.Id. https://rri.co.id/lain-lain/1873504/gen-z-buktikan-pancasila-relevan-di-era-digital
Fatkuroji. (2023). Komitmen Kebangsaan Generasi Z di Tengah Arus Media Sosial dan Budaya Global. JAWDA: Journal of Islamic Education Management, 4(2), 162–174. https://journal.walisongo.ac.id/index.php/jawda
Jehamun, P. (2025). Psikologi Gen Z Memaknai Nilai Pancasila di Era Digital. Beritabernas. https://beritabernas.com/psikologi-gen-z-memaknai-nilai-pancasila-di-era-digital/
Kurniawaty, J. B., & Widayatmo, S. (2024). NASIONALISME DI ERA DIGITAL : TANTANGAN DAN PELUANG BAGI GENERASI Z INDONESIA. JAGADDHITA: Jurnal Kebhinnekaan Dan Wawasan Kebangsaan, 3(2), 1–9. https://doi.org/https://doi.org/10.30998/jagaddhita.v3i2.3039
Merina, & Djono. (2025). Kesadaran Nasional Generasi Z : Menjaga Nasionalisme di Era Digital Generation Z National Awareness : Maintaining Nationalism in the Digital Era. Anterior Jurnal, 24(2), 115–119.
Naitboho, Y., Kirana, A. R. C., Silva, N. L. Da, Sensi, N., & Mas’ud, F. (2025). STRENGTHENING HISTORY EDUCATION IN BUILDING GENERATION Z ’ S NATIONALISM : A HUMANITIES AND DIGITAL LEARNING. Santhet: Jurnal Sejarah, Pendidikan Dan Humaniora, 10(1), 2526–2534. https://doi.org/10.36526/js.v3i2.6703
Nikmah, N. F. A., Fadhilah, A. N., Mukhofifah, I. S., Hermanto, A. S., & Falda, T. A. R. (2023). THE IMPORTANCE OF UNDERSTANDING ARCHIPELAGO INSIGHTS FOR GENERATION Z TO BUILD NATIONALISM. JKEPMAS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 2(1), 327–336. https://doi.org/https://doi.org/10.3342/jkepmas.v2i1.175 Shipa
Pradipta, M. A., Wafi, A., Marita, M., Luthfiah, R., Ikhsan, F., & Syafaat, P. R. (2024). Cinta Tanah Air pada Era Digital : Peran generasi Z dalam Mempertahankan Identitas Nasional. Populer: Jurnal Penelitian Mahasiswa, 3(4), 109–118. https://doi.org/https://doi.org/10.58192/populer.v3i4.2787
Rahmaddani, I., & Fahmi, R. (2025). Komunitarianisme dan Digitalisasi : Peran Gen Z dalam Membangun Hubungan Sosial di Era Digital. 12(1), 13–26.





