Oleh : Nicky Saputra
Musim layangan datang tanpa undangan. Tak perlu kalender atau penanggalan khusus. Tiba-tiba langit dipenuhi layangan aneka rupa, dari yang tradisional hingga yang paling kekinian. Bagi anak-anak hingga orang dewasa, bermain layangan sudah seperti tradisi tahunan yang terus hidup, meski tak pernah benar-benar diresmikan.
Di Kalimantan Utara (Kaltara), khususnya saat libur sekolah, langit menjadi panggung terbuka. Anak-anak dari desa hingga kota, termasuk di Tarakan, ramai-ramai mengisi waktu dengan bermain layangan. Meski sebagian anak memilih berlibur ke tempat wisata, aktivitas sederhana ini tetap menjadi favorit banyak kalangan. Tradisi yang diwariskan turun-temurun ini telah bertransformasi seiring zaman.
Jika dahulu membuat layangan adalah proses yang sarat nilai memilih batang bambu, meraut, menimbang keseimbangan, hingga mewarnai kertas layangan dengan tangan sendiri kini semuanya bisa didapatkan instan di warung terdekat. Bagi generasi dulu, setiap lekukan bambu dan guratan warna punya cerita. Sekarang, permainan ini bergeser dari ekspresi tradisi menjadi ajang unjuk kemampuan, terutama dalam mengadu tajamnya benang.
Di beberapa daerah lain di Indonesia, musim layangan bahkan dirayakan dengan kontes resmi. Namun, di Tarakan, musim layangan lebih banyak menjadi pengingat agar tradisi ini tak punah begitu saja. Meski begitu, semangat kompetisi tetap ada bukan dalam bentuk festival, melainkan dalam aksi beradu layangan hingga satu per satu putus di udara.
Siang itu, seorang anak berdiri tanpa alas kaki di atas tanah berdebu. Farid, siswa kelas lima SD, matanya menatap langit tanpa silau. Tangannya terampil mengulur dan menarik benang. Layang-layangnya tinggi menjulang, menari di antara sengatan mentari. Dalam satu tarikan tajam, benang lawan putus. Farid tersenyum tipis, puas. Kemenangan kecil ini menjadi cerita besar di antara teman-teman sebayanya.
Namun, Farid dan teman-temannya mungkin tak lagi paham bahwa layangan adalah bagian dari warisan budaya. Bagi mereka, ini soal gengsi, soal siapa yang paling lihai memutus benang lawan. Tak peduli bentuk atau warna layangan, yang penting sensasi dan cerita kemenangan bisa dibawa pulang.
Di sisi lain kota, segerombolan remaja tampak berlarian, matanya mendongak ke langit, langkah mereka tergesa. Sebagian membawa bambu panjang, menyeberang jalan tanpa melihat kendaraan. Tak ada rasa takut. Pengendara yang lewat pun seolah sudah terbiasa memberi jalan. Target mereka satu layangan putus yang jatuh di kejauhan. Yang pertama menggenggam benang, dialah pemenangnya.
Tapi tak semua perburuan berakhir indah. Kadang benang putus tersangkut di kabel listrik atau atap rumah. Anak-anak nekat memanjat, melompat, bahkan merangkak di genteng demi mendapatkan layangan tersebut. Tidak jarang, ada yang jatuh, tertusuk benda tajam, atau tertabrak kendaraan. Semuanya demi sehelai benang dan layangan putus.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah benang tajam berlapis serbuk kaca, sering disebut “benang gelasan”. Tipis, nyaris tak terlihat, namun mematikan. Banyak pengendara motor yang menjadi korban. Benang melintang di jalan dan mengenai leher, lengan, atau wajah. Tak sedikit yang harus dirawat di rumah sakit karena luka yang ditimbulkan.
Permainan ini memang tampak sederhana, tapi dampaknya bisa berbahaya jika tidak diatur. Di Kota Tarakan sendiri, semakin minimnya ruang terbuka membuat anak-anak terpaksa bermain di jalanan. Akibatnya, keselamatan diri dan orang lain jadi taruhannya.
Sudah saatnya pemerintah turun tangan. Edukasi bisa dimulai dari tingkat RT, melalui kelurahan. Dengan pendekatan berbasis komunitas, masyarakat akan lebih mudah menerima dan menjalankan kebijakan. Bukan untuk membatasi, melainkan untuk menjaga keselamatan anak-anak kita, dan kelangsungan tradisi bermain layangan itu sendiri. Layangan sejatinya tak harus selalu putus dan menebar luka. Ia bisa tetap terbang tinggi menjadi simbol riang masa kecil dan harmoni di langit biru. Itulah layangan. (***)


ilustrasi anak bermain layangan 


