SAMARINDA – Kampus yang dahulu dikenal sebagai pusat pergerakan ide dan kritik sosial kini terasa lebih senyap. Mahasiswa yang dulu berperan sebagai motor perubahan kini tampak lebih aktif di dunia digital, bukan di ruang-ruang diskusi kebangsaan. Sebuah ironi muncul: semangat analisis dan kritik yang dahulu diarahkan pada kebijakan negara, kini beralih menjadi ketajaman dalam mereview film, serial, atau game.

Fenomena ini menimbulkan pertanyaan besar: di mana letak nasionalisme mahasiswa saat ini, dan mengapa energi mereka lebih tersalurkan pada pop culture?
Nasionalisme yang Terlalu “Berat”
Banyak mahasiswa menganggap isu-isu kebangsaan, politik, dan kemasyarakatan sebagai sesuatu yang berat, rumit, dan tidak memberikan reward instan. Diskusi tentang APBN, sengketa tanah, atau korupsi menuntut waktu, referensi yang mendalam, dan potensi konflik.

Di sisi lain, review film atau serial menawarkan kepuasan yang cepat (seperti pujian dari sesama penggemar) dan lingkungan yang lebih aman. Kritik dalam review film disambut sebagai kecerdasan sinematik, bukan sebagai ancaman politik. Mahasiswa cenderung merasa lebih berdaya dan diterima saat membahas plot film daripada saat membahas plot kebijakan negara.

Konten yang Relevan vs Tuntutan Zaman

Mahasiswa generasi sekarang tumbuh di lingkungan yang menghargai konten yang relevan, relatable, dan mudah dicerna. Kisah fiksi seringkali lebih mudah dihubungkan dengan pengalaman pribadi mereka (isu mental health, hubungan, quarter-life crisis) daripada perjuangan pahlawan masa lalu atau masalah birokrasi.

Aktivisme yang dulu lekat dengan nasionalisme kini telah berevolusi menjadi aktivisme digital yang berfokus pada isu personal. Seorang mahasiswa mungkin merasa lebih patriotik dengan mengunggah “10 Film Indonesia Terbaik yang Wajib Ditonton” yang mendatangkan engagement tinggi, daripada mengikuti seminar wawasan kebangsaan yang hanya dihadiri segelintir orang.

Mencari Jalan Tengah: Menemukan Indonesia di Balik Layar

Meski tampak apatis, sebenarnya nasionalisme mahasiswa tidak hilang—hanya berubah wujud. Energi analisis dan kritik yang mereka tunjukkan dalam review film bisa menjadi jembatan.
Caranya adalah dengan menggunakan medium yang sama untuk menyalurkan pesan kebangsaan:

1. Kritik Sinema Bertema Nasionalisme: Mahasiswa dapat diarahkan untuk menganalisis film-film bertema sejarah atau sosial dengan kacamata kritis. Bagaimana film merefleksikan masalah negara? Apakah pesan nasionalismenya sudah efektif?

2. Mendukung Creative Economy Lokal: Semangat review film bisa dialihkan untuk mempromosikan industri film, musik, dan kreatif lokal, menjadikannya wujud dukungan nyata terhadap produk budaya bangsa.

Pada akhirnya, tantangan bagi institusi pendidikan dan organisasi mahasiswa adalah mengubah citra nasionalisme dari sesuatu yang kaku dan membosankan menjadi sesuatu yang segar, kritis, dan sesuai dengan bahasa komunikasi generasi muda. Nasionalisme tidak harus lahir dari mimbar orasi—kadang, ia tumbuh dari balik layar yang menyala di genggaman tangan. (*)

Tags:OPINI