Di tengah derasnya arus globalisasi dan derasnya informasi digital, semangat nasionalisme di kalangan generasi muda Indonesia kembali menjadi sorotan. Bukan tanpa alasan, di era serba cepat seperti ini kecintaan terhadap tanah air tak lagi hanya ditunjukkan lewat pidato atau upacara bendera, melainkan melalui tindakan nyata di dunia maya maupun kehidupan sehari-hari.

Beberapa waktu lalu, komunitas pemuda “Muda Berkarya untuk Negeri” menggelar kampanye bertajuk #BanggaIndonesia di media sosial. Gerakan ini mengajak anak muda untuk menampilkan karya lkal, budaya daerah, dan inovasi buatan Indonesia di platform digital seperti TikTok dan Instagram. Kampanye tersebut viral dan mendapat respon positif dari masyarakat, membuktikan bahwa nasionalisme kini bisa diwujudkan dalam bentuk yang modern dan kreatif.

“Nasionalisme bagi kami bukan hanya tentang mengenakan batik atau menyanyikan lagu wajib. Tapi bagaimana kami bisa berkontribusi melalui hal-hal kecil yang berdampak” ujar Dinda Pratiwi (22), mahasiswa asal Yogyakarta yang aktif dalam gerakan sosial berbasis pendidikan. Menurutnya, rasa cinta tanah air bisa dimulai dari langkah sederhana misalnya mencintai produk lokal, melestaarikan bahasa indonesia, hingga menghormati perbedaan.

Namun di balik geliat semangat itu, tantangan juga hadir. Fenomena budaya asing yang mudah diakses lewat media sosial kerap membuat sebagian anak mudaa kehilangan arah jati diri. Tidak jarang muncul trend yang justru menjauhkan mereka dari nilai-nilai luhur bangsa. Di sinilah peraan keluarga, pendidik, dan media menjadi penting untuk menanamkan nilai nasionalisme secara relevan dan menyenangkan.

Pemerintah pun terus berupaya memperkuat karakter kebangsaan melalui berbagai program. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemindikburistek) mengembangkan program Profil Pelajar Pancasila yang bertujuan untuk membentuk generassi muda berkarakter gotong royong, mandiri, serta berjiwa kebinekaan global. Program ini diimplementasikan di ribuan sekolah dan kampus di seluurh Indonesia, dengan hasil yang mulai terlihat nyata dalam perilaku siswa.

“Anak muda Indonesia adalah ujung tombak kemajuan bangsa. Kalau mereka memiliki semangat nesionalisme yang kuat, maka masaa depan Indonesia akan gemilang”, tutur Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Nadiem Anwar Makarim,  dalam pidatonya pada Hari Sumpah Pemuda 2025.

Semangat nasionalisme kini bukan sekedar mengenang masa lalu, tetapi menjadi kekuatan masa depan. Di tengah dunia yang terus berubah, generasi muda Indonesia membuktikan bahwa cinta tanah air tetap bisa bersinar di layar gawai, di ruang publik, maupun di hati mereka sendiri. Dari tangan-tangan kreatif anak bangsa, Indonesia terus tumbuh menjadi negara yang bangga padaa dirinya sendiri. (***)

Penulis : Niar, Mahasiswa S1 Psikologi Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur

Sumber: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologu Republik Indonesia (Kemendikbud.go.id), 2025.

Tags:OPINI