Abdurrahman bin Shakhr—nama yang mungkin tak banyak disebut dalam percakapan harian—justru dikenal luas melalui julukannya: Abu Hurairah, si pemilik kucing kecil. Panggilan itu melekat sejak masa kanak-kanaknya. Saat menggembala kambing keluarga, ia hampir selalu ditemani seekor anak kucing yang digendongnya di siang hari dan diletakkannya di atas pohon ketika malam tiba. Kebiasaan sederhana yang kemudian menjadi identitas abadi seorang sahabat Nabi.

Benih Hidayah dari Daus

Abu Hurairah lahir di daerah Ad-Daus, Yaman—daerah yang awalnya menolak dakwah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Hidayah baru sampai setelah Thufail bin ‘Amru Ad-Dausi kembali dari perjumpaannya dengan Rasulullah. Dari seluruh kaumnya, hanya satu yang menyambut ajakan itu: Abu Hurairah.

Di usia 26 tahun, awal tahun ke-7 Hijriah, tekadnya bulat. Dengan perbekalan seadanya, ia melangkah menuju Madinah. Ia pernah bersyair ketika tiba di kota itu pada malam hari:

“Wahai malam yang panjang dan melelahkan, namun justru saat itulah aku terselamatkan dari negeri kafir.”

Namun, kedatangannya tak langsung disambut Nabi. Rasulullah dan para sahabat tengah berada di medan Perang Khaibar. Barulah selepas Subuh, saat pasukan kembali, Rasulullah melihat seorang lelaki berkulit gelap, berbahu lebar, dan memiliki celah di antara gigi depannya. “Dari mana engkau?” tanya beliau. “Dari Ad-Daus,” jawab Abu Hurairah.

Rasulullah tersenyum dan berkata, “Aku dulu tidak menyangka ada kebaikan di Daus.”

Hari-Hari di Serambi Masjid Nabawi

Di Madinah, Abu Hurairah tidak membawa apa-apa selain tekad. Ia memilih tinggal bersama kelompok Ahlus Shuffah—para tamu Allah yang tinggal di serambi Masjid Nabawi untuk belajar langsung dari Rasulullah. Hidup serba kekurangan membuatnya akrab dengan lapar. Batu kerap ia ikat di perut demi meredam perih.

Ia pernah bercerita:

“Aku pernah begitu lapar hingga tubuhku gemetar seperti orang kejang, lalu orang-orang meruqyahku. Padahal aku hanya lapar.” (HR. Bukhari)

Susu yang Tak Habis-Habis

Suatu hari, karena kelaparan, ia mencoba “menumpang harap” pada Abu Bakar dan Umar. Namun keduanya tak menangkap maksudnya. Hingga Rasulullah datang, melihatnya, dan memanggilnya pulang ke rumah.

Di sana, hanya ada satu bejana susu. Rasulullah memerintahkan: “Panggil Ahlus Shuffah.”

 

Abu Hurairah mengakui dalam hatinya muncul kegundahan kecil—“Bagaimana jika susu itu habis?”—namun ketaatannya mengalahkan segalanya. Ia menuangkan susu itu satu per satu hingga semua kenyang. Tinggal ia dan Rasulullah.

Rasulullah berkata, “Minumlah, wahai Abu Hurairah.”

Ia minum hingga tak tersisa ruang dalam lambungnya. Barulah Rasulullah meminum sisanya. Kelembutan itu membekas dalam setiap ingatan Abu Hurairah.

Doa untuk Ibu

Di antara kisah yang paling menyentuh adalah ketika ibunda Abu Hurairah masih musyrik dan pernah mengucapkan kata-kata buruk tentang Rasulullah. Abu Hurairah menangis dan meminta Nabi mendoakannya.

Rasulullah berdoa:

“Ya Allah, berikanlah hidayah kepada ibunda Abu Hurairah.”

Ketika Abu Hurairah pulang, ia mendapati sang ibu sedang mandi, kemudian keluar dengan menutup seluruh tubuhnya sambil berkata bahwa ia telah bersyahadat. Abu Hurairah berlari kembali ke masjid, menangis—kali ini karena bahagia.

Rasulullah lalu berdoa,

“Ya Allah, jadikanlah Abu Hurairah dan ibunya dicintai oleh kaum mukminin, dan mereka pun mencintai kaum mukminin.”

Penjaga Lebih dari 5.000 Hadis

Abu Hurairah dikenal sebagai sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis—lebih dari 5.000 riwayat. Semangatnya belajar begitu besar, hingga Rasulullah pernah berkata:

“Aku sudah menduga engkau yang akan menanyakan hal ini, wahai Abu Hurairah, karena semangatmu terhadap hadis.” (HR. Bukhari)

Ia membagi malamnya menjadi tiga bagian: untuk membaca Al-Qur’an, tidur, dan mengulang hafalan hadis.

Akhir Hayat

Abu Hurairah wafat pada usia 78 tahun, sekitar 47 tahun setelah wafatnya Rasulullah. Ibnu Umar yang ikut mengiringi jenazahnya berkata:

“Ia adalah orang yang paling hafal hadis Rasulullah.”

Sebuah kesaksian yang menutup perjalanan seorang lelaki yang memulai hidupnya sebagai “pemilik kucing kecil,” tetapi menutup hidup sebagai penjaga ilmu umat. (***)

 

Editor: Redaktif

Penulis: Muhammad Halid Syari

Sumber: Muslim.or.id