Kotak plastik di dasar perahu Sabrun tidak pernah benar-benar penuh lagi. Pagi itu, udang hasil jalaannya bahkan tak sampai satu kilogram. Angka yang kini menjadi penanda paling nyata perubahan di perairan Desa Menjelutung.
“Kalau dihitung dengan ongkos pergi, pulangnya sering tekor,” keluh nelayan 60 tahun itu.
Sabrun adalah nelayan tradisional yang masih aktif. Ia melaut dengan cara yang sama sejak lama. Menjala, bubu, dan merawai—alat sederhana yang juga menjadi satu-satunya sumber penghidupannya. Di kampung, Sabrun dikenal sebagai ketua POKMASWAS (Kelompok Masyarakat Pengawas Perairan). Namun belakangan, yang paling ia rasakan bukan hanya kewajiban mengawasi perairan, tapi perubahan kualitas lingkungan yang, menurutnya, ikut menggerus hasil tangkap.
Perubahan itu mulai terasa sejak adanya stockpile batu bara di desanya. Sabrun mengeluhkan tumpahan-tumpahan batu bara yang diduga mencemari perairan, terutama di sekitar kawasan yang dulu menjadi titik andalannya menjala udang.
Dari “andal” jadi “ditinggalkan”
Sebelum stockpile berdiri, pinggir pantai Menjelutung adalah ruang kerja Sabrun. Ia bisa menjala udang tidak jauh dari rumah. Titik-titik tangkap di tepi pantai sudah ia hafal. Kapan arus bergerak, kapan udang mendekat, dan berapa lama jala harus ditenggelamkan.
Kini, menurut Sabrun, kondisi itu berubah. Ia menyebut perairan di sekitar pesisir yang dulu produktif tidak lagi memberi hasil seperti sebelumnya. Dampaknya terasa langsung. Hasil tangkapan menurun, sementara kebutuhan untuk tetap melaut tidak ikut turun.
“Dulu dekat sini bisa,” kata Sabrun dalam ceritanya. “Sekarang harus cari tempat lain.”
Ongkos bertambah, hasil tak sebanding
Karena hasil di pesisir menurun, Sabrun memilih berpindah titik. Ia harus masuk ke sungai-sungai yang lebih jauh untuk menjala udang. Perpindahan itu membuat biaya operasional naik. Lebih banyak bahan bakar, waktu tempuh lebih lama, dan tenaga lebih terkuras.
Namun, jarak yang lebih jauh tidak menjamin hasil lebih baik. Sabrun mengatakan, dalam sekali menjala, hasilnya sering tidak sampai satu kilogram. Dalam hitungan sederhana nelayan tradisional, angka itu menjadi masalah besar karena biaya yang dikeluarkan kerap lebih tinggi daripada nilai tangkapan.
Bagi Sabrun, penurunan hasil adalah perubahan cara hidup. Ketika tangkapan menipis, nelayan harus memanjangkan rute, memperpanjang jam kerja, dan menanggung risiko lebih besar—tanpa kepastian balik modal.
Keluhan tentang pencemaran yang “ikut naik” ke jaring
Sabrun menilai penurunan hasil tangkap berkaitan dengan perubahan kondisi perairan akibat aktivitas stockpile. Ia mengeluhkan adanya tumpahan batu bara yang diduga masuk ke perairan dan memengaruhi habitat udang di pesisir.
Dalam konteks ini, Sabrun berada pada posisi yang unik. Ia nelayan yang merasakan dampak sebagai pelaku penangkap, sekaligus ketua POKMASWAS yang selama ini diminta warga ikut mengawasi perairan. Ia menyebut, keluhan tentang kondisi perairan bukan hanya datang dari dirinya, tetapi juga menjadi pembicaraan nelayan lain di sekitar pesisir.
Namun Sabrun menegaskan, yang paling jelas baginya adalah dampak di lapangan. Tempat yang dulu menjadi andalan semakin sulit memberi hasil, dan rutinitas melaut kini berubah menjadi upaya “mengejar udang” dengan biaya lebih besar.
Nelayan tradisional tidak punya banyak pilihan
Sabrun tidak punya kapal besar untuk mencari ikan ke laut lepas. Ia juga tidak memiliki alat tangkap modern untuk menjangkau titik jauh dengan efisiensi tinggi. Ketika pesisir berubah, ruang geraknya terbatas.
Itulah yang membuat keluhan Sabrun terasa sederhana, tetapi tajam. Yaitu lingkungan yang berubah memaksa nelayan kecil menanggung konsekuensi paling dulu. Sementara aktivitas yang diduga memicu pencemaran tetap berjalan, nelayan tradisional harus mengubah pola kerja dengan sumber daya yang minim.
Sementara proses itu berjalan, Sabrun tetap melaut. Ia tetap mengangkat jala, memeriksa bubu, dan merapikan rawai—alat yang sama, kebiasaan yang sama. Bedanya, sekarang ia harus menambah jarak dan ongkos untuk mengejar udang yang kian sulit didapat.
Dan setiap kali kotak di perahunya kembali berisi kurang dari satu kilogram, Sabrun merasa perubahan itu bukan lagi dugaan semata—melainkan kenyataan yang ikut pulang bersamanya. (***)
Berita terkait :
Editor : Nicky Saputra


Sabrun menjala udang di perairan pesisir Desa Menjelutung. (Foto : redaktif.id) 


