TARAKAN, redaktif.id – Pinggiran jalan di kawasan Gunung Selatan, Kota Tarakan, hingga kini masih menjadi titik pembuangan sampah liar yang sulit teratasi. Praktik membuang sampah sembarangan di lokasi ini telah berlangsung menahun dan terjadi berulang kali, meskipun berbagai upaya peringatan, imbauan, hingga larangan telah gencar disampaikan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) bersama para penggiat sosial.

Pantauan redaktif.id di lapangan menunjukkan bahwa imbauan yang terpasang belum efektif menekan kebiasaan buruk tersebut. Tumpukan sampah, mulai dari limbah rumah tangga hingga sisa bongkaran bangunan, masih kerap ditemukan berserakan di pinggir jalan. Sampah tidak hanya menumpuk di satu titik, melainkan tersebar di beberapa lokasi sepanjang ruas jalan Gunung Selatan.

Bahkan, dalam beberapa kesempatan, terlihat pengendara roda dua dengan sengaja melempar sampah ke pinggir jalan lalu berlalu begitu saja. Aktivitas ilegal ini kerap terjadi pada malam hari hingga menjelang subuh saat pengawasan dinilai minim. Kondisi ini memicu pertanyaan publik mengenai efektivitas pengawasan, penindakan tegas terhadap pelanggar, serta ketersediaan fasilitas persampahan yang memadai di sekitar lokasi.

Menanggapi hal tersebut, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tarakan mengakui bahwa persoalan sampah liar di Gunung Selatan belum dapat dituntaskan secara menyeluruh. Kepala Bidang Pengolahan Sampah dan Limbah Beracun DLH, Yohanis Kapang Tenggeluan, mengungkapkan pihaknya sudah dua kali melakukan pembersihan total dalam kurun waktu satu bulan terakhir. Namun, lokasi tersebut kembali dipenuhi sampah hanya dalam hitungan jam setelah dibersihkan.

“Kalau kami fokus terus di Gunung Selatan, lokasi lain bisa terbengkalai. Sementara personel kami terbatas,” ujar Yohanis saat diwawancarai, Selasa.

Menurut Yohanis, masalah ini sudah menahun. Sumber sampah pun beragam, tidak hanya dari warga sekitar tetapi juga dari perusahaan dan toko bangunan yang membuang limbah sembarangan, termasuk sisa bongkaran kayu.

“Banyak yang tidak mau membuang langsung ke DPA. Pengawasan sebenarnya ada di Satpol PP terkait penegakan Perda. Kami di DLH hanya menangani pengangkutan ketika sudah ada laporan,” jelasnya.

Kondisi diperparah dengan rendahnya kesadaran sebagian masyarakat yang enggan membayar iuran sampah, serta minimnya pemukiman tetap di kawasan tersebut yang didominasi oleh penjaga kandang ayam.

Sebagai langkah konkret untuk mengatasi persoalan ini, DLH berencana menempatkan satu unit kontainer sampah di kawasan Gunung Selatan. Solusi ini dinilai lebih efektif dan efisien dibandingkan penggunaan bak sampah kecil yang rawan hilang atau truk pengangkut konvensional.

“Kami upayakan satu kontainer di situ agar masyarakat tidak buang sampah sembarangan. Kalau sudah penuh, bisa kami tarik setiap satu atau dua hari,” kata Yohanis.

Ke depan, DLH bahkan berencana beralih sepenuhnya menggunakan sistem kontainer dengan armada arm roll (mobil up roll) untuk efisiensi operasional. Selain solusi teknis, DLH akan kembali berkoordinasi dengan pihak kelurahan untuk memperkuat edukasi dan memasang spanduk jadwal pembuangan sampah agar masyarakat lebih tertib.

“Kami harap ada kesadaran bersama. Jangan membuang sampah sembarangan. Kami juga akan pasang banner jam pembuangan sampah di lokasi,” pungkasnya. (*)

Editor : Nicky Saputra

Tags:DLH Tarakangunung selatantarakan