Setiap penghujung bulan Rajab, umat Islam kembali mengingat satu peristiwa besar dalam sejarah kenabian, yaiitu Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Sebuah perjalanan malam yang tidak hanya mencatat keajaiban, namun juga menghadirkan hadiah terpenting bagi umat Islam—perintah shalat lima waktu.

Peristiwa ini terjadi pada masa yang berat dalam kehidupan Rasulullah SAW. Tahun itu dikenal sebagai ‘Amul Huzn, tahun kesedihan. Istri tercinta beliau, Sayyidah Khadijah al-Kubra, wafat. Tak lama berselang, Abu Thalib—paman sekaligus pelindung beliau—juga meninggal dunia. Di tengah duka yang menyesakkan, Allah SWT justru mengundang Rasul-Nya dalam sebuah perjalanan agung.

Dalam satu malam, Nabi Muhammad SAW diperjalankan dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Palestina, lalu diangkat menembus lapisan-lapisan langit hingga ke Sidratul Muntaha. Perjalanan ini disebutkan secara singkat namun tegas dalam Al-Qur’an, Surah Al-Isra ayat 1, sementara rincian kisahnya banyak diriwayatkan dalam hadis-hadis shahih.

Dalam sejumlah riwayat, termasuk yang tercantum dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim, disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW ditemani Malaikat Jibril AS. Sebelum perjalanan dimulai, dada Rasulullah SAW dibersihkan dan disucikan—sebuah simbol kesiapan rohani untuk menerima amanah besar dari Allah SWT.

Rasulullah SAW kemudian menaiki Buraq, makhluk putih yang digambarkan lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari kuda. Kendaraan inilah yang membawa beliau menempuh jarak yang, secara logika manusia, mustahil dilalui hanya dalam semalam.

Di sepanjang perjalanan, Rasulullah SAW menyaksikan berbagai peristiwa dan bertemu para nabi terdahulu. Setiap persinggahan membawa pelajaran, setiap pertemuan menyimpan makna. Hingga akhirnya, di titik tertinggi perjalanan itu, Nabi Muhammad SAW menerima langsung perintah shalat dari Allah SWT.

Awalnya, shalat diwajibkan sebanyak 50 kali dalam sehari semalam. Namun, atas petunjuk Nabi Musa AS—yang ditemui Rasulullah SAW dalam perjalanan Mi’raj—beliau kembali memohon keringanan. Proses ini berlangsung beberapa kali hingga akhirnya Allah SWT menetapkan kewajiban lima waktu shalat, dengan pahala yang tetap bernilai lima puluh.

 

Kisah ini banyak dijelaskan dalam kitab-kitab klasik, di antaranya Tafsir Ibnu Katsir, Syarah Sahih Muslim karya Imam an-Nawawi, serta kitab-kitab sirah seperti Sirah Ibn Hisyam. Para ulama sepakat bahwa peristiwa ini menunjukkan kasih sayang Allah SWT kepada umat Nabi Muhammad SAW.

Namun, tidak semua orang menerima kisah ini. Kaum Quraisy Makkah meragukan dan mencemooh Rasulullah SAW. Mereka menguji beliau dengan berbagai pertanyaan—tentang Masjidil Aqsa, tentang perjalanan kafilah yang ditemui di jalan. Di tengah keraguan itu, Abu Bakar ash-Shiddiq tampil sebagai sosok yang langsung membenarkan tanpa ragu. “Jika Muhammad yang mengatakan, maka itu pasti benar,” ucapnya. Dari situlah ia mendapat gelar ash-Shiddiq—yang membenarkan.

Kisah Isra Mi’raj dapat menjadi renungan bagi kita semua bahwa betapa besarnya kasih sayang Allah SWT kepada Nabi Muhammad dan umatnya. Jadikanlah kisah ini sebagai renuangan sebagai jalan di tengah dunia yang semakin bising. Jika hidup terasa berat, shalatlah—karena perintah itu lahir dari perjalanan paling dekat antara Nabi dan Allah. (*)

Editor : Nicky Saputra

Tags:cerita nabiislamisra mi'rajkabar baik hari inishalat