TANJUNG SELOR, Redaktif.id — Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menyatakan isu yang ramai disebut “super flu” merujuk pada influenza A(H3N2) subclade K. Kemenkes menegaskan situasi nasional masih terkendali dan, berdasarkan penilaian WHO serta data epidemiologi yang tersedia, subclade K tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan dibanding influenza musiman lainnya.
Dalam rilis Kemenkes tertanggal 31 Desember 2025, Direktur Penyakit Menular Kemenkes dr Prima Yosephine menyebut gejala yang muncul umumnya serupa flu musiman, seperti demam, batuk, pilek, sakit kepala, dan nyeri tenggorokan. Kemenkes juga menyampaikan subclade K terdeteksi sejak Agustus 2025 melalui surveilans sentinel ILI–SARI, dan diperkuat melalui pemeriksaan whole genome sequencing (WGS) yang diselesaikan 25 Desember 2025.
Kemenkes mencatat, hingga akhir Desember 2025 terdapat 62 kasus influenza A(H3N2) subclade K yang tersebar di delapan provinsi, dengan jumlah terbanyak di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat. Dari total 843 spesimen positif influenza yang diperiksa, 348 sampel menjalani WGS.
Data surveilans mingguan Kemenkes yang diperbarui 3 Januari 2026 juga memuat rincian sebaran kasus subclade K, sebagai berikut ; Jawa Timur (37,1%), Kalimantan Selatan (29%), dan Jawa Barat (16,1%).
Laporan tersebut menyebut mayoritas kasus adalah perempuan (64,5%/40 kasus), dan kelompok usia terbanyak 1–10 tahun (35,5%).
Terkait pencegahan, Kemenkes mengimbau masyarakat menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), menjaga daya tahan tubuh, serta mempertimbangkan vaksinasi influenza tahunan terutama pada kelompok rentan. Warga yang sakit juga dianjurkan tetap di rumah, memakai masker, menerapkan etika batuk, dan segera ke fasilitas kesehatan bila gejala memburuk atau tidak membaik lebih dari tiga hari. (*)
Sumber: Rilis Kemenkes RI (31 Desember 2025) dan Laporan Surveilans Influenza & COVID-19 Kemenkes (pembaruan 3 Januari 2026).


Ilustrasi 


